Anak-anak sering kali belum memiliki kosakata yang cukup untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan ketika sedang kesal, kecewa, marah, atau kewalahan.
Dalam situasi seperti itu, I Need Space karya Molly Harris hadir sebagai buku bergambar yang sederhana, ceria, tetapi membawa pesan penting tentang mengenali emosi dan memberi diri sendiri waktu untuk menenangkan diri.
Buku ini mengikuti Rocco, sebuah roket yang menganggap luar angkasa sebagai taman bermain besar. Namun, seperti taman bermain pada umumnya, tidak semua orang selalu bermain dengan cara yang menyenangkan.
Rocco harus menghadapi berbagai perilaku yang membuatnya tidak nyaman. Ada yang mengambil mainan, menyerobot antrean, bermain terlalu kasar, hingga akhirnya membuat Rocco kehilangan kendali atas emosinya.
Setelah sebuah kejadian dengan meteor yang bermain kasar membuatnya benar-benar kewalahan, Rocco menyadari bahwa ia membutuhkan ruang.
Alih-alih terus berada dalam situasi yang membuat emosinya semakin besar, ia memilih menjauh sejenak untuk menenangkan diri.
Menurut saya, bagian paling menarik dari buku ini adalah cara Molly Harris menyampaikan konsep regulasi emosi melalui metafora luar angkasa.
Rocco bukan anak manusia yang sedang marah, melainkan sebuah roket yang membutuhkan ruang untuk “mendinginkan mesin” dan mengisi kembali energinya. Konsep tersebut membuat pembahasan mengenai emosi terasa ringan dan mudah didekati oleh anak-anak.
Cerita ini juga memberikan pemahaman bahwa mengambil waktu untuk diri sendiri bukan berarti melarikan diri dari masalah atau tidak mau bersosialisasi.
Ada kalanya seseorang memang membutuhkan beberapa menit dalam suasana tenang sebelum kembali bergabung dengan orang lain. Setelah lebih tenang, kita bisa melihat situasi dengan lebih jernih dan menentukan respons yang lebih baik.
Pesan tersebut terasa relevan karena anak-anak tidak selalu dapat menghindari situasi yang membuat mereka frustrasi.
Mereka mungkin bertemu teman yang merebut mainan, seseorang yang tidak mau berbagi, atau permainan yang menjadi terlalu ramai.
I Need Space memberikan alternatif sederhana: ketika perasaan sudah terlalu penuh, tidak apa-apa mengambil jeda.
Ilustrasi Jon Corby menjadi salah satu kekuatan buku ini. Luar angkasa digambarkan sebagai dunia yang penuh warna, dengan roket, planet, meteor, teknologi, dan karakter-karakter unik.
Kontras antara suasana ramai di luar angkasa dan ruang yang lebih tenang ketika Rocco menjauh membantu anak memahami perubahan suasana hati tokoh utama.
Corby merupakan ilustrator sekaligus desainer buku anak, dan I Need Space menjadi debutnya sebagai ilustrator buku bergambar.
Menariknya, buku ini tidak berhenti pada cerita. Bagian akhirnya dilengkapi fakta-fakta tentang luar angkasa serta strategi untuk membantu anak menghadapi perasaan kewalahan.
Tambahan tersebut membuat I Need Space bukan sekadar bacaan sebelum tidur, tetapi juga dapat menjadi bahan percakapan antara anak dan orang dewasa mengenai emosi dan kebutuhan akan ruang pribadi.
Secara keseluruhan, I Need Space adalah buku yang manis untuk mengenalkan pada anak pada pentingnya mengenali batas diri dan mengelola emosi.
Ceritanya pun tidak terasa menggurui, metaforanya mudah dipahami, dan ilustrasinya membuat pembahasan yang cukup serius terasa menyenangkan.
Buku ini cocok dibaca bersama anak usia sekitar 4–8 tahun, terutama ketika orang tua atau pendidik ingin mengajarkan bahwa merasa marah atau kewalahan adalah hal yang wajar, sementara cara kita merespons perasaan tersebut dapat dipelajari.
Pada akhirnya, pesan sederhana Rocco terasa universal. Terkadang kita memang membutuhkan sedikit ruang agar bisa kembali menjadi diri sendiri.
Baca Juga
-
Ulasan 'Monster Manners A to Z', 26 Monster yang Ternyata Jago Tata Krama
-
Bad Days Aren't Forever, Pelukan Kecil untuk Hari-hari yang Tidak Baik
-
Kisah Pip, Burung Kecil yang Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Bukan Sekadar Cerita, Ini Petualangan Search and Find di Kota Tikus
-
Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
-
Ulasan 'Monster Manners A to Z', 26 Monster yang Ternyata Jago Tata Krama
Terkini
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau