Bagaimana perasaanmu jika setiap gerak-gerikmu diawasi oleh negara? Kamu tidak boleh bersikap, berkata, bahkan berpikiran buruk tentang pemerintah. Gambaran tersebut menjadi bagian dari dunia distopia dalam novel 1984 karya George Orwell yang pertama kali diterbitkan pada 1949.
Novel ini mengikuti kisah Winston Smith yang tinggal di Oceania yang dipimpin oleh Big Brother. Sebagai seorang pegawai pemerintah, ia bertugas mengawasi warga negaranya yang hidup di bawah sistem pemerintahan totalitarianisme. Seiring waktu berjalan, Winston mulai mempertanyakan sistem Oceania yang mengatur kehidupannya.
Di sisi lain, novel yang terbit lebih dari 7 dekade lalu ini memang ditulis sebagai kritik terhadap pemerintahan otoriter pada masanya. Menariknya, beberapa kritik yang disampaikan Orwell masih relevan dengan kondisi saat ini. Apa saja? Berikut 4 di antaranya!
1. Negara Tidak Menghargai Privasi Masyarakat
Dalam novel 1984, masyarakat Oceania hidup dalam bayang-bayang Big Brother yang selalu mengawasi. Tak hanya omong kosong, setiap warganya akan dipantau oleh telescreen yang seolah memiliki mata, telinga, dan mulut yang akan mengadukan perbuatan buruk kepada Big Brother.
Pengawasan ini membuat warga harus berhati-hati dalam bersikap, berbicara, bahkan menunjukkan ekspresi wajah. Mereka bukan hanya takut melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan, tetapi juga khawatir jika pikiran mereka dianggap sebagai bentuk perlawanan. Hal ini membuat setiap masyarakat tidak memiliki ruang bebas berekspresi hanya karena ketakutan.
2. Propaganda yang Mencuci Otak Rakyat
Di Oceania, tidak banyak orang yang 'melawan' seperti Winston. Hal ini rupanya berakar dari slogan Ingsoc yang selalu digaungkan oleh Partai dan Big Brother, seperti "War is Peace”, “Freedom is Slavery”, dan “Ignorance is Strength”. Gagasan ini diulang berkali-kali hingga masyarakat Oceania menerimanya tanpa paksaan.
Partai memastikan para warganya hanya menerima informasi yang selaras dengan kepentingan mereka. Ketika pesan yang sama terus diulang dan tidak ada sumber informasi lain yang bisa dijadikan pembanding, warga semakin sulit membedakan antara kenyataan dan apa yang ingin dipercayai oleh penguasa.
3. Manipulasi dan Penulisan Ulang Sejarah
Winston Smith yang bekerja di Kementerian Kebenaran memiliki tugas utama menyaring informasi yang beredar. Namun, penyaringan informasi di sini bukan berarti memilah fakta dan kabar burung, melainkan memastikan bahwa informasi yang beredar selalu sesuai dengan keadaan dan kepentingan Partai saat itu.
Hal serupa juga terjadi pada catatan sejarah Oceania. Partai tidak menjadikan sejarah sebagai acuan untuk memahami masa lalu. Sebaliknya, catatan sejarah harus selalu sejalan dengan kepentingan Partai. Mereka tidak segan-segan mengubah dokumen lama agar isinya sesuai dengan pernyataan yang disampaikan pemerintah.
4. Konsep Newspeak untuk Membatasi Pikiran Rakyat
Masyarakat Oceania berbicara dengan bahasa baru mereka, Newspeak. Bahasa ini dirancang untuk mengurangi jumlah kosakata sehingga masyarakat semakin sulit mengungkapkan gagasan yang bertentangan dengan ideologi Partai. Semakin sedikit kata yang tersedia, semakin terbatas pula cara seseorang menyampaikan dan mengembangkan pemikirannya.
Beberapa contohnya, seperti doublethink, plusgood, dan ungood. Mereka membatasi penggunaan kata-kata pasti dengan menggantinya dengan imbuhan plus- atau un-. Hal ini sangat mirip dengan konsep eufemisme yang menghaluskan kata namun mengaburkan makna.
Novel 1984 bukan hanya sekadar kisah distopia biasa. Di dalamnya terdapat kritik keras tentang politik otoriter di era Stalin yang saat itu tengah menjadi perbincangan. Namun, setelah pemerintahan Stalin usai, ada beberapa aspek politik dari novel ini yang masih relate dengan kehidupan saat ini, mulai dari propaganda hingga isu kebebasan. Menurutmu, poin mana yang paling relate dengan keadaan politik sekarang?
Baca Juga
-
Awas Keracunan, Perhatikan 5 Ciri Penting Ini Sebelum Menjadikan Tanaman Liar Sebagai Makanan
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
5 Rekomendasi Drakor Komedi dengan Humor Absurd, Dijamin Bikin Ngakak!
-
5 Bahan Makanan Tradisional yang Kini Mendunia, Ada Matcha hingga Ube!
-
Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?
Artikel Terkait
-
Di Luar Ada Zombie, di Dalam Ada Pembunuh! Review Novel Murder at Shijinso
-
Novel Ascendance of a Bookworm Bagian 4 Diadaptasi Jadi Anime TV
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Orang-orang Ini Jadi Penentu Nasib Gibran Sebagai Wakil Presiden, Buntut Kasus Ijazah SMA
-
Butuh Bahan Bacaan? Ini 5 Rekomendasi Novel tentang Kehidupan
Ulasan
-
Kenanga: Ketika Adat Bali Mengikat Cinta dan Membatasi Kebebasan Perempuan
-
Lebih dari Sekadar Hujan Peluru, One Last Shot Tutup Trilogi dengan Penuh Haru
-
Nyawa Baru di Balik 'Risalah Hati' Yura yang Bikin Pendengar Ikut Galau
-
Four Hands, Two Sonatas: Persaingan, Persahabatan, dan Ambisi Meraih Mimpi
-
Di Luar Ada Zombie, di Dalam Ada Pembunuh! Review Novel Murder at Shijinso
Terkini
-
Tujuh Hari Sebelum Aku Menghilang
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tidak Semua Luka Terlihat, Ini Pentingnya Menjadi Pendengar Tanpa Menghakimi
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
-
Dugaan Cacat Prosedur Tersangka Insiden Prambanan, Kuasa Hukum Buka Suara