Dalam Animal Farm, George Orwell tidak hanya menyelipkan kritik satir pada politik. Lewat novel klasik ini, ia juga menunjukkan kalau mengendalikan masyarakat tidak selalu harus menggunakan kekerasan. Kata-kata lembut dan penuh semangat kadang malah bisa menjadi senjata.
Awalnya, bahasa dipakai para hewan untuk menyatukan diri dan memperjuangkan kehidupan yang lebih bebas. Namun, setelah Napoleon berkuasa, kata-kata mulai berubah fungsi. Aturan diubah sedikit demi sedikit, sejarah diputarbalikkan, dan kebohongan dibuat terdengar seperti kebenaran.
Bahasa Awalnya Menyatukan Para Hewan, Berakhir untuk Kepentingan Orang Atas
Pada awalnya, bahasa menjadi alat yang menyatukan para hewan dalam pemberontakan. Gagasan tentang kebebasan dan kesetaraan disampaikan lewat aturan dan slogan sederhana seperti “Four legs good, two legs bad” yang mudah dipahami dan diingat bersama.
Namun, setelah Napoleon berkuasa, bahasa mulai digunakan untuk mengubah kenyataan. Salah satu contohnya terlihat dari Seven Commandments yang perlahan diubah agar sesuai dengan tindakan para babi. Yang paling terkenal adalah aturan nomor 7 yang awalnya berbunyi: "All animals are equal" diubah menjadi "All animals are equal, but some animals are more equal than others". Ini menunjukkan puncak ketidakadilan yang dilakukan oleh para babi secara halus.
Perubahan kecil ini membuat para hewan mulai meragukan ingatan mereka sendiri dan menerima aturan baru tanpa banyak bertanya.
Seni Membuat Kebohongan Terdengar Benar
Squealer menjadi penyampai propaganda Napoleon yang bertugas meyakinkan para hewan bahwa setiap keputusan pemimpinnya adalah demi kepentingan mereka. Ia menggunakan kata-kata rumit, angka, dan berbagai alasan yang terdengar masuk akal sehingga para hewan sulit membantahnya.
Untuk kepentingan kaumnya, Squealer mengubah beberapa istilah berkonotasi negatif jadi terdengar positif. Contohnya pengurangan jatah makan (reduction) disebut readjustment atau forced work yang diubah menjadi voluntary work. Praktik eufimisme yang dilakukan Squealer ini memanipulasi cara berpikir para hewan secara alami.
Berbicara soal bahasa sebagai alat propaganda, saya menyadari kalau semakin sederhana bahasa yang digunakan, semakin mudah pula kebenaran dikaburkan. Ketika sebuah kebohongan terus diulang dan dibungkus dengan kata-kata yang terdengar masuk akal, batas antara kebenaran dan kebohongan pun menjadi semakin tipis. Sudah baca Animal Farm?
Baca Juga
-
5 Tanda Donat Overproof, Adonan Terlalu Mengembang hingga Kempes
-
Jadi Cewek Gak Enakan, Intip Penampilan Mawar de Jongh di Film People Pleaser
-
Apakah Mitos di Waduk Salmokji Seseram di Film Salmokji: Whispering Water?
-
Miris! Warga di 'Paru-Paru Dunia' Justru Kesusahan Bernapas, Salah Siapa?
-
Tak Ketemu Hayoung di The Trauma Code 2, Yuk Intip 5 Dramanya yang Lain!
Artikel Terkait
-
Tren Bahasa Gen Z: Campur Aduk, Makin Asyik, atau Malah Bikin Pusing?
-
Siswa Sekolah Rakyat Unjuk Kemampuan Bahasa Asing di Olimpiade Karang Taruna
-
5 Keunikan Novel The Great Gatsby, Diceritakan dari Sudut Pandang Tetangga
-
Dunia Makin Terkoneksi: Kecerdasan Buatan Diproyeksi Hapus Hambatan Bahasa Lintas Negara
-
4 Fakta Unik Sayur Genjer, Kenapa Bisa Dikaitkan dengan Stigma G30S/PKI?
Ulasan
-
Eksplorasi Teror Doppelganger dalam Film Other Mommy
-
Membaca Fenomena Sosial dalam Buku Kumpulan Esai Sastra Harmonium
-
My Neighborhood: Menemukan Keindahan di Balik Ketidaksempurnaan
-
Rahasia Kelam yang Terkubur di Balik Misteri Musim Panas di Duwang-ri
-
Menjaga Kewarasan di Lingkungan Kerja lewat Buku, Progresnya Berapa Persen?
Terkini
-
Subsidi BBM dan LPG Dipangkas Rp11,44 Triliun: Bijak atau Sembrono?
-
Tayang 2027, Kim Ji Woong dan Kang Ki Young ZEROBASEONE Bintangi Film Siren
-
Kritik Karhutla di Panggung Musik: Peduli Bumi atau Peduli Reputasi?
-
Keluar dari Xbox, Undead Labs Tetap Targetkan State of Decay 3 pada 2027
-
Real or Cake Versi Berita: Saat Artificial Intelligence Mengaburkan Batas Asli dan Palsu