M. Reza Sulaiman | Ken Hitana
Cover Buku Animal Farm (Goodreads)
Ken Hitana

Dalam Animal Farm, George Orwell tidak hanya menyelipkan kritik satir pada politik. Lewat novel klasik ini, ia juga menunjukkan kalau mengendalikan masyarakat tidak selalu harus menggunakan kekerasan. Kata-kata lembut dan penuh semangat kadang malah bisa menjadi senjata.

Awalnya, bahasa dipakai para hewan untuk menyatukan diri dan memperjuangkan kehidupan yang lebih bebas. Namun, setelah Napoleon berkuasa, kata-kata mulai berubah fungsi. Aturan diubah sedikit demi sedikit, sejarah diputarbalikkan, dan kebohongan dibuat terdengar seperti kebenaran.

Bahasa Awalnya Menyatukan Para Hewan, Berakhir untuk Kepentingan Orang Atas

Ilustrasi Buku (unsplash/Joshua Hoehne)

Pada awalnya, bahasa menjadi alat yang menyatukan para hewan dalam pemberontakan. Gagasan tentang kebebasan dan kesetaraan disampaikan lewat aturan dan slogan sederhana seperti “Four legs good, two legs bad” yang mudah dipahami dan diingat bersama.

Namun, setelah Napoleon berkuasa, bahasa mulai digunakan untuk mengubah kenyataan. Salah satu contohnya terlihat dari Seven Commandments yang perlahan diubah agar sesuai dengan tindakan para babi. Yang paling terkenal adalah aturan nomor 7 yang awalnya berbunyi: "All animals are equal" diubah menjadi "All animals are equal, but some animals are more equal than others". Ini menunjukkan puncak ketidakadilan yang dilakukan oleh para babi secara halus.

Perubahan kecil ini membuat para hewan mulai meragukan ingatan mereka sendiri dan menerima aturan baru tanpa banyak bertanya.

Seni Membuat Kebohongan Terdengar Benar

Ilustrasi Jari Telunjuk di Depan Hidung (unsplash/Kristina Flour)

Squealer menjadi penyampai propaganda Napoleon yang bertugas meyakinkan para hewan bahwa setiap keputusan pemimpinnya adalah demi kepentingan mereka. Ia menggunakan kata-kata rumit, angka, dan berbagai alasan yang terdengar masuk akal sehingga para hewan sulit membantahnya.

Untuk kepentingan kaumnya, Squealer mengubah beberapa istilah berkonotasi negatif jadi terdengar positif. Contohnya pengurangan jatah makan (reduction) disebut readjustment atau forced work yang diubah menjadi voluntary work. Praktik eufimisme yang dilakukan Squealer ini memanipulasi cara berpikir para hewan secara alami.

Berbicara soal bahasa sebagai alat propaganda, saya menyadari kalau semakin sederhana bahasa yang digunakan, semakin mudah pula kebenaran dikaburkan. Ketika sebuah kebohongan terus diulang dan dibungkus dengan kata-kata yang terdengar masuk akal, batas antara kebenaran dan kebohongan pun menjadi semakin tipis. Sudah baca Animal Farm?