Hayuning Ratri Hapsari | Rizky Melinda Sari
Novel Anak Panggung untuk Palestina (dok.pribadi/rizkymelinda)
Rizky Melinda Sari

Buku bacaan adalah salah satu strategi yang tepat untuk mengajarkan sesuatu kepada anak. Lewat cerita yang menarik dan kisah yang unik, anak bisa belajar menumbuhkan empati dan lebih peduli terhadap sesama.

Seperti buku berjudul ‘Panggung untuk Palestina’ yang satu ini, anak tidak hanya disuguhkan cerita yang ringan tetapi juga pelajaran berharga untuk lebih menghargai sesama.

Identitas Buku

  • Judul buku: Panggung untuk Palestina
  • Penulis: Redhite Kurnawan
  • Penerbit: Indiva Media Kreasi
  • Jumlah halaman: 120 Halaman
  • Tersedia versi e-book dan bisa dibaca gratis di iPusnas.

Sinopsis ‘Panggung Untuk Palestina’

Fatih sang ketua kelas akhirnya bersepakat dengan teman-teman sekelas. Pada pentas kesenian akhir tahun sekolah, mereka akan mempersembahkan sebuah drama. Pentas drama yang mengisahkan tentang perjuangan anak-anak di Palestina. Sebuah drama yang disutradarai oleh Mas Roy seorang pemain teater.

Fatih pun mengajak serta Bayu, anak autis yang dianggapnya sebagai pencetus ide membuat drama ini. Sayangnya, teman-temannya tidak yakin jika Bayu yang berkebutuhan khusus itu mampu membuat pentas seni akhir tahun mereka sukses.

Bagaimana akhir dari pentas mereka?

Ulasan ‘Panggung untuk Palestina’

Aku jadi dibuat kangen sama masa-masa SD dulu saat semua teman sekelas adalah teman dan permasalahan yang dihadapi hanya sebatas PR matematika. Tapi sepertinya permasalahan yang dihadapi tokoh utama novel anak ini sedikit berbeda.

Fatih, sang ketua kelas 5C, digambarkan sebagai sosok pemimpin yang tegas. Ia mampu menertibkan teman-teman sekelas agar mematuhi peraturan yang sudah mereka sepakati bersama.

Namun ketenangan kelas mereka sedikit terguncang saat Bayu datang. Anak berkebutuhan khusus itu sudah mencuri perhatian seisi kelas sejak hari pertama. Tingkahnya ajaib dan bikin geleng-geleng kepala. Sempat ia jadi target bully. Namun berkat kepandaian Fatih sebagai pemimpin, ia berhasil membuat Bayu diterima di kelas.

Cerita semakin menarik saat Fatih dan teman-teman sepakat untuk menampilkan pertunjukan teater pada pentas akhir tahun. Fun fact, ide ini tercetus berkat Bayu! Setelah brainstorming, Fatih memutuskan untuk mengangkat tema perjuangan anak Palestina.

Lewat tokoh Bayu, kita diajak untuk tidak langsung menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Bayu membuktikan bahwa di balik kekurangannya, ia juga memiliki kelebihan dibanding orang lain.

Apakah persiapan pertunjukan kelas Fatih berjalan lancar? TENTU TIDAK. Masalah awal adalah tentang keterlibatan Bayu dalam pertunjukan. Ia hanya diberi tugas untuk menggotong bendera yang muncul di awal serta akhir pertunjukkan.

Meski demikian, bukan Bayu namanya jika tidak membuat teman-temannya geregetan! Belum lagi Mas Roy, pelatih mereka yang terlibat kecelakaan sehingga proses latihan mereka sempat tertunda.

Aku suka dengan gaya bahasanya yang ringan dengan selipan humor yang tidak berlebihan. Cocok dibaca oleh dan untuk anak-anak usia SD. Terselip beberapa ilustrasi pendukung yang makin menambah daya tarik novel anak ini.

Buku ini aku rekomendasikan untuk orang tua, kakak, om, tante, guru, atau siapapun yang ingin menanamkan rasa empati dan peduli terhadap sesama kepada anak-anak usia SD.

Tema teater yang diusung Fatih dan teman-temannya akan mengingatkan kita bahwa masih banyak anak-anak lain di luar sana yang bahkan harus mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari hanya untuk hidup.