Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Revolusi Nuklir karya Eko Darmoko (DIVA Press Group)
Fathorrozi 🖊️

Membaca buku Revolusi Nuklir karya Eko Darmoko membuat saya menyadari bahwa petualangan dalam sebuah cerita tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh, tiket kendaraan, atau peta untuk menemukan tempat baru.

Terkadang, petualangan justru dimulai ketika kita membuka halaman buku, membiarkan imajinasi bekerja, lalu mengikuti pikiran penulis menuju dunia yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Buku ini memuat 22 cerita pendek dengan beragam tema. Mulai dari ilmu pengetahuan, teknologi, masa depan, kehidupan sehari-hari, persoalan sosial, hingga kisah cinta yang disajikan dengan cara tidak biasa. Buku karya Eko Darmoko, sastrawan muda asal Surabaya yang juga aktif sebagai wartawan ini, menawarkan pengalaman membaca yang berbeda dari kumpulan cerpen pada umumnya.

Setelah menuntaskan buku terbitan Basabasi pada 2021 ini, saya merasa bukan sekadar kumpulan cerita untuk mengisi waktu luang. Buku ini mengajak pembaca berkelana melampaui batas geografis, waktu, bahkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini dianggap mustahil.

Petualangan yang Tidak Selalu Berarti Berpindah Tempat

Di antara gagasan menarik dalam buku ini adalah cara Eko Darmoko memaknai petualangan. Dalam pandangannya, perjalanan manusia tidak terbatas pada perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Kehidupan itu sendiri merupakan sebuah pengembaraan panjang, sejak seseorang dilahirkan, tumbuh, berinteraksi dengan masyarakat, hingga akhirnya meninggal dunia.

Bagi saya, gagasan Revolusi Nuklir terasa menarik. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti kejadian dalam cerita, tetapi juga mempertanyakan batas-batas pengalaman manusia. Apakah sesuatu yang belum pernah kita alami berarti mustahil terjadi? Apakah masa depan hanya bisa diperkirakan melalui ilmu pengetahuan? Atau justru imajinasi mampu membuka kemungkinan yang belum terpikirkan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat pengalaman membaca buku ini terasa lebih panjang daripada sekadar menyelesaikan satu cerita ke cerita berikutnya.

Dari Teknologi Masa Depan hingga Keganjilan Kehidupan

Pada bagian awal, Revolusi Nuklir menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan teknologi, ilmu pengetahuan, dan gambaran kehidupan masa depan. Beberapa judul yang menarik perhatian saya antara lain "Revolusi Nuklir", "VY Canis Majoris", "Silampukau", dan "Tumbangnya Pohon Android".

Judul-judul tersebut langsung membangkitkan rasa ingin tahu. Terdapat kesan futuristik, ilmiah, sekaligus ganjil yang membuat pembaca bertanya-tanya tentang dunia seperti apa yang sedang dibangun penulis.

Dalam "Tumbangnya Pohon Android", misalnya, pembaca diperkenalkan pada gambaran manusia kera dengan latar tahun 2525. Sementara itu, "VY Canis Majoris" menawarkan gagasan tentang seseorang dengan versi lain dirinya. Tema-tema semacam ini memperlihatkan keberanian Eko dalam mengolah imajinasi dan memainkan kemungkinan yang melampaui kehidupan sehari-hari.

Namun, saya tidak ingin menganggap buku ini sebagai kumpulan cerpen fiksi ilmiah semata. Setelah memasuki cerita-cerita berikutnya, pembaca akan menemukan perubahan tema yang cukup beragam.

Cerpen "Mantra Apocalypto", misalnya, membawa perhatian pada kebudayaan suatu daerah yang diremehkan dan konsekuensi yang kemudian muncul. Cerita-cerita lainnya turut menyentuh realitas sosial, perjalanan manusia, dan persoalan kehidupan yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui logika sederhana.

Di sinilah letak daya tarik buku ini. Eko tidak mengurung dirinya dalam satu jenis cerita. Ia memberikan ruang bagi imajinasi untuk bergerak ke berbagai arah, tanpa kehilangan semangat pengembaraan yang menjadi benang merah kumpulan cerpennya.

Saat Fakta dan Fiksi Saling Berbenturan

Salah satu bagian yang menurut saya penting untuk memahami arah penulisan Eko terdapat pada sampul belakang buku.

"Dalam Revolusi Nuklir saya meruntuhkan tembok yang membatasi ruang fakta dan ruang fiksi."

Kutipan ini memperlihatkan keinginan penulis untuk memainkan batas antara sesuatu yang dianggap nyata dan sesuatu yang lahir dari imajinasi. Bagi saya, gagasan ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat modern yang setiap hari berhadapan dengan beragam informasi.

Kita sering membaca berita, menyaksikan video, atau menerima informasi melalui media sosial tanpa sempat memeriksa kebenarannya. Informasi yang dikemas secara meyakinkan belum tentu sepenuhnya benar. Sebaliknya, sesuatu yang terdengar mustahil terkadang justru mendorong kita untuk mencari tahu lebih jauh.

Dalam konteks tersebut, pertemuan fakta dan fiksi yang ditawarkan Revolusi Nuklir bisa menjadi bahan renungan. Sastra tidak harus selalu menyajikan kenyataan secara langsung untuk membicarakan persoalan nyata. Imajinasi justru dapat menjadi jalan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Meski demikian, pembaca tetap perlu membedakan kebebasan pengarang dalam menciptakan cerita dengan fakta yang dapat dibuktikan. Menurut saya, menikmati fiksi bukan berarti menelan semua gagasan di dalamnya tanpa pertimbangan. Kita bisa menikmati kebebasan imajinasi sekaligus mempertahankan sikap kritis.

Gaya Bercerita yang Bebas dan Tidak Selalu Mudah Dicerna

Dari segi penulisan, Eko Darmoko menunjukkan kecenderungan untuk merangkai cerita dengan gaya yang lugas, bebas, dan terkadang mengejutkan. Ia tidak selalu mengikuti pola cerita yang mudah ditebak. Judul-judul yang ganjil, situasi yang tidak biasa, serta percampuran tema membuat pembaca perlu memberikan perhatian lebih saat membaca. Bagi saya, karakter semacam ini menjadi salah satu kekuatan sekaligus tantangan buku tersebut.

Pembaca yang terbiasa menikmati cerita dengan alur lurus, konflik sederhana, dan penyelesaian yang jelas mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Beberapa cerita terasa menantang karena pembaca harus menafsirkan sendiri hubungan antara peristiwa, gagasan, dan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Namun, saya justru melihat kebebasan itu sebagai bagian dari identitas Revolusi Nuklir. Eko seolah memberikan ruang bagi pembaca untuk menyusun pemahaman sendiri, alih-alih menjelaskan seluruh maksud cerita secara gamblang.

Tentu, gaya seperti ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Sebagian pembaca mungkin menyukai kebebasan imajinasi yang ditawarkan, sedangkan sebagian lainnya bisa merasa kesulitan mengikuti arah cerita.

Selain itu, judul buku yang sangat kuat nuansa teknologi dan masa depannya berpotensi menimbulkan ekspektasi bahwa seluruh isi akan berfokus pada sains. Padahal, cakupan temanya jauh lebih luas. Bagi saya, keberagaman ini menjadi nilai tambah, meskipun pembaca perlu menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan suasana dan tema dari satu cerpen ke cerpen lainnya.

Relevan bagi Generasi Muda di Tengah Perkembangan Teknologi

Dalam pandangan saya, Revolusi Nuklir relevan dibaca generasi muda masa kini, terutama mereka yang hidup di tengah perkembangan teknologi digital dan banjir informasi. Kehadiran kecerdasan buatan, perubahan cara manusia berkomunikasi, serta perkembangan ilmu pengetahuan membuat masa depan terasa semakin dekat sekaligus sulit diprediksi.

Cerita-cerita futuristik dalam buku ini bisa menjadi pemantik untuk membayangkan bagaimana manusia akan hidup ketika teknologi berkembang lebih jauh. Namun, hal yang lebih penting bukan sekadar menebak perangkat atau penemuan apa yang akan muncul pada masa mendatang. Kita juga perlu memikirkan bagaimana perkembangan tersebut memengaruhi hubungan antarmanusia, kebudayaan, dan cara kita memandang kehidupan.

Generasi muda perlu memiliki imajinasi yang luas, tetapi juga kemampuan berpikir kritis. Imajinasi membantu seseorang melihat berbagai kemungkinan, sedangkan sikap kritis membuatnya mampu mempertimbangkan dampak dan konsekuensi dari setiap kemungkinan tersebut.

Di samping itu, keberagaman tema dalam buku ini memperlihatkan bahwa persoalan manusia tidak selalu bisa dipisahkan secara tegas. Teknologi berkaitan dengan etika, kehidupan modern tetap berhubungan dengan kebudayaan, dan perjalanan menuju masa depan tidak serta-merta menghapus persoalan yang telah diwariskan masa lalu.

Saya juga melihat buku ini sebagai pengingat bahwa membaca sastra bukan kegiatan yang harus selalu berakhir dengan jawaban pasti. Terkadang, sebuah cerita justru berharga karena membuat kita mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Bagi anak muda yang ingin memperluas bacaan di luar novel romantis atau cerita populer dengan alur ringan, buku ini bisa menjadi pilihan untuk mencoba pengalaman membaca yang berbeda. Namun, mengingat gaya bahasa dan sejumlah tema yang cukup kompleks, pembaca sebaiknya memilihnya sesuai kesiapan dan kematangan masing-masing.

Menjaga Api Sastra Tetap Menyala

Hal lain yang menarik dari perjalanan kepengarangan Eko Darmoko adalah konsistensinya mengangkat semangat petualangan. Sebelum Revolusi Nuklir, ia menerbitkan buku pertamanya, Ladang Pembantaian, melalui Penerbit Pagan Press pada 2015. Buku ini kemudian menjadi karya keduanya yang memperlihatkan keberlanjutan eksplorasi kreatifnya.

Eko juga menyampaikan harapan agar penerbitan karya tersebut dapat mendorong tumbuhnya sastrawan muda dan menjaga tradisi sastra Indonesia. Ia menyebut semangat itu sebagai upaya melanjutkan "jihad literasi" para pendahulu.

Bagi saya, semangat tersebut patut diapresiasi. Dunia sastra membutuhkan penulis yang berani menawarkan gagasan berbeda, penerbit yang bersedia memberi ruang bagi karya-karya baru, serta pembaca yang mau meluangkan waktu untuk mengenal berbagai bentuk penulisan.

Kehadiran Revolusi Nuklir memperlihatkan bahwa cerpen Indonesia dapat menjelajahi wilayah yang beragam, termasuk fiksi futuristik dan spekulatif, tanpa harus meninggalkan persoalan manusia sebagai bahan renungan.

Identitas Buku

  • Judul: Revolusi Nuklir
  • Penulis: Eko Darmoko
  • Penerbit: Basabasi
  • Cetakan: I, Juni 2021
  • Tebal: 202 Halaman
  • ISBN: 978-623-305-218-4
  • Kategori: Fiksi / Kumpulan Cerpen