Sekar Anindyah Lamase | Tika Maya Sari
Drama The Lament of Autumn (MyDramalist)
Tika Maya Sari

Saat jam istirahat kerja dan memilih scroll Youtube short, aku justru menemukan cuplikan scene drama bernafas love-hate yang dibintangi oleh Xu Ruo Han dan Ryan Cheng dalam nuansa era republik awal. Sontak aku googling dan menemukan drama bertajuk The Lament of Autumn.

Melansir MyDramalist, The Lament of Autumn merupakan drama yang diadaptasi dari novel berjudul Yu Dian Qiu karya Ling Xi yang mengusung genre historical, love hate relationship, dan percikan komedi lucu. Di bawah arahan sutradara Kuk Kok Leung, drama ini bakal disajikan selama 40 episode yang tayang pada 12 Oktober - 1 November 2026 dan dapat ditonton di jaringan Mango TV juga Hunan TV.

Niat Cari Duit Tambahan Malah Ketemu Pewaris Kaya dan Sekian Plot Twist

Dalam era tahun 1920an di kota Nanhuai, Republik Tiongkok, Ye Ping Jun (Xu Ruo Han) seorang murid akademi telah pontang panting bekerja demi pengobatan ibunya. Hingga ada tawaran pekerjaan di sebuah hotel, dimana dia dijebak dan dituduh sebagai dalang percobaan pembunuhan Yu Chang Xuan (Ryan Cheng), seorang putra petinggi tentara sekaligus keluarga kaya raya. Dengan kesepakatan, Ping Jun berjanji akan membongkar pelaku yang sesungguhnya, dan Chang Xuan memberinya waktu 10 hari, atau dia akan dibunuh.

Ketika Ping Jun berhasil menemukan pelaku yang ternyata merupakan korban kekerasan tentara Keluarga Yu, Chang Xuan yang takjub akan kecerdasan Ping Jun mulai menempel seperti pemuda kasmaran. Kisah mereka bakal diisi serangkaian love-hate, komedi, saling mengerjai, bahkan kecemburuan ketika kekasih Ping Jun yakni Jiang Xue Ting (Liu Dong Xin) kembali dari Jepang.

Namun, kisah semakin runyam saat fakta Tao Zi Yi (Guo Yu Xin) sang putri tunggal pengusaha kaya sekaligus tunangan Chang Xuan yang bersinggungan dengan Ping Jun terbongkar. Termasuk fakta bahwa Xue Ting adalah mata-mata. Lantas, kemanakah kisah love hate ini bakal dibawa?

Orang Sengak yang Termakan Karma Cinta

Ngakak dan cengar-cengir. Itu reaksiku sewaktu menonton chemistry tokoh utamanya. Wujud arogansi mutlak dalam privilege absolut dan wajah rupawan Ryan Cheng, beradu peran dengan identitas keberanian dan kecerdasan kaum wanita Xu Ruo Han. Mereka betul-betul sukses membawakan dunia dalam perbedaan kasta yang masih hadir sampai sekarang.

Apalagi ditunjang dengan busana era itu, dalam nuansa kehidupan masyarakat sipil, kalangan aristokrat, dan pasukan tentara, yang berpadu dengan lanskap kota kuno dan sinematografi warm. Take shoot-nya berasa smooth, dengan nuansa hangat ala musim gugur sebagaimana tajuknya.

Kuakui, akting Ryan Cheng sangat memukau terutama ekspresi dingin dan sorot mata tajam khas serigala. Sudahlah dalam balutan seragam tentara, menjadikannya gahar dan sukses mengeksekusi karakter dengan memuaskan. Berpadu dengan keanggunan dan ekspresi berani Xu Ruo Han, menjadikan couple ini kian menghidupkan esensi The Lament of Autumn.

Set Kota, Lokasi, dan Rasa Familiar Penonton

Sebagai penonton, rasanya dimanjakan sekali dengan visual yang cocok dengan karakter drama. Selain itu, The Lament of Autumn juga menyajikan scene-scene yang seolah menjadi identitas Tiongkok. Baik pada budaya sembahyang leluhur, batu giok yang ikonik, kesenian teater dan tariannya, lanskap rumah kayu dan pernak-pernik bernuansa klasik, sampai pada lanskap kota klasiknya yang khas. Didukung juga dengan gaya busana kalangan aristokrat yang elegan, tapi khas Chinese.

Selain itu, aku merasa drama ini memiliki scene yang mirip dengan beberapa manhwa yang pernah kubaca. Yang paling mencolok adalah scene Chang Xuan dan burung kenari yang mirip konsep Mathias dalam manhwa Cry Or Better Beg Yet. Pun obsesi gilanya terhadap Ping Jun, dan segala cara demi mendapatkannya sebagaimana Layla. Kemudian ada satu scene Ping Jun melakukan suicide di bath up yang serupa dalam manhwa My Beloved Oppressor.

Kendati demikian, konsepnya masih make sense terutama mengingat pada masa lampau kehidupan kaum wanita memang cukup dibatasi.

Plot Twist Bak Bawang Merah

Sejak episode awal, aku sangat bersemangat karena nuansa love-hate yang kuat terutama arogansi Chang Xuan yang maskulin abis. Namun, plot kemudian terasa garing tatkala karakter berani Ping Jun dibuat menye-menye dan plin plan. Seakan di-nerf dengan paksa, padahal cukup elegan mengatasi ketengilan male lead.

Belum lagi plot twist berlapis seperti bawang merah yang lama-lama jadi mudah ditebak. Selain itu, ada cacat logika yang nggak bisa kuterima. Seperti Ping Jun yang mengalami amnesia setelah rumahnya terbakar dan ibunya meninggal, dan dokter malah menyalahkan asap?! Kalau tabib, mungkin masih dimaklumi apalagi setting pada tahun 1920an. Tapi dokter yang pernah studi di luar negeri?

Selain Ping Jun yang di-nerf jadi plin plan, Chang Xuan yang otoriter dan dominan juga dibuat give up karena wanita. Esensinya jadi mirip drama Blazing Elegance walau untungnya nggak berubah genre. Padahal kejamnya sudah ngena, tapi redup seketika. Parah sih penulis script-nya.

Real Life yang Nggak Semanis Drama

Sebagai penonton, aku sadar bahwa drama hadir sebagai hiburan dan bukannya patokan kehidupan. Toh, menengok situasi politik dan sosial pada The Lament of Autumn membuatku sadar, bahwa kita patut bersyukur hidup di zaman yang serba maju. Baik pada teknologi, kesehatan, sampai pada kesetaraan hidup. Walau tetap saja kekuatan uang masih terasa, huhu.

Yang patut disoroti adalah karakter Ye Ping Jun. Kaum wanita kerap dipandang sepele, bahkan kena standar ganda. Maka, integritas dan prinsip wajib diketatkan, supaya nggak plin plan dan lagi-lagi kena noda sosial. Aku berpendapat begini karena Ping Jun meromantisasi gaya plin plan dan gampang termakan rayuan. Apa ya, di era sekarang betulan harus hati-hati sih. Belum lagi hidup dalam obsesi seseorang tuh, pasti lebih pilih kabur deh sakin engapnya.

Karena logika inilah, drama ini mungkin cocok ditonton untuk usia 18 tahun ke atas kendati nggak ada scene vulgar dan intim. Anyway, menilik visual dan love hate-nya, aku memberikan nilai 7,8/10.

Identitas Drama

Judul: The Lament of Autumn

Adaptasi: novel Yu Dian Qiu karya Ling Xi

Sutradara: Kuk Kok Leung

Genre: love hate, romance, republik, military, bullying, psychological, comedy

Rilis: 12 Oktober 2026 - 1 November 2026

Jaringan: Mango TV, Hunan TV

Negara Asal: China

Bahasa: Mandarin

Total Episode: 40

Status: On-Going