Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat. Ada seseorang yang tetap tersenyum, tertawa, dan menjalani hari seperti biasanya, padahal diam-diam menyimpan pengalaman menyakitkan. Salah satunya adalah perisakan atau bullying. Perbuatan yang kerap dianggap sekadar candaan ini ternyata dapat meninggalkan dampak panjang bagi korbannya. Bukan hanya membuat seseorang merasa rendah diri, tetapi juga mengubah cara ia memandang dunia, menjalin hubungan, bahkan menerima dirinya sendiri. Persoalan inilah yang diangkat Dhamala Shobita dalam novel Rekindled: Tentang Diri dan Bagaimana Ia Kembali.
Novel bergenre teenlit dengan sentuhan psikologis ini mengisahkan Kania, seorang siswi SMA yang memiliki kesulitan dalam berinteraksi dan mempercayai orang lain. Pengalaman buruk yang pernah dialaminya membuat Kania tumbuh dengan rasa tidak aman dan kebencian terhadap dirinya sendiri. Keadaan tersebut semakin rumit karena hubungannya dengan sang ibu serta pandangan yang selama ini tertanam dalam dirinya. Kania seolah membangun dinding untuk melindungi diri, meskipun tanpa disadari dinding itu justru membuatnya semakin jauh dari orang lain.
Kehidupan Kania mulai mengalami perubahan ketika ia bertemu dengan Gio. Berbeda dengan Kania yang cenderung tertutup, Gio merupakan sosok yang lebih terbuka dan perhatian. Namun, kepeduliannya terhadap Kania bukan sekadar bentuk kebaikan tanpa alasan. Ia menyimpan rasa bersalah karena dahulu tidak mampu melindungi kakaknya dari perisakan. Pengalaman tersebut membuat Gio memahami bahwa luka akibat bullying tidak berhenti ketika peristiwa itu berlalu. Bekasnya dapat terus terbawa dan memengaruhi kehidupan seseorang.
Salah satu hal menarik dari novel karya Dhamala Shobita ini ialah penggunaan dua sudut pandang, yaitu Kania dan Gio. Pembaca tidak hanya diajak menyelami perasaan seseorang yang mengalami luka, tetapi juga memahami bagaimana pengalaman serupa dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Gaya bahasa yang ringan dan dekat dengan kehidupan remaja membuat cerita mudah dinikmati. Dhamala juga mengangkat persoalan kesehatan mental tanpa terkesan menggurui. Perubahan Kania digambarkan melalui proses yang perlahan, seiring tumbuhnya keberanian untuk membuka diri dan menerima perhatian orang lain.
Meski demikian, beberapa bagian cerita masih terasa kurang mendalam, terutama ketika mengungkap latar belakang Kania. Konflik tertentu juga dapat terasa kurang kuat bagi pembaca. Akan tetapi, pengungkapan masa lalu secara bertahap justru menyisakan ruang bagi pembaca untuk memahami karakter Kania sedikit demi sedikit. Dengan demikian, bagian yang terasa kurang terurai tersebut tetap dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Pada akhirnya, Rekindled: Tentang Diri dan Bagaimana Ia Kembali mengajak pembaca menyadari bahwa perisakan bukan persoalan sederhana yang dapat selesai hanya dengan meminta korban melupakannya. Setiap ucapan dan perlakuan memiliki kemungkinan meninggalkan bekas dalam kehidupan orang lain. Novel ini juga mengingatkan bahwa proses pemulihan tidak selalu berjalan mudah dan tidak cukup hanya dengan kehadiran seseorang yang peduli.
Dibutuhkan keberanian untuk menghadapi masa lalu, menerima diri sendiri, serta kesediaan lingkungan untuk memberikan ruang yang aman. Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa berat perjuangan seseorang di balik senyumnya. Barangkali, hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah berhenti meremehkan perasaan orang lain dan mulai belajar menjadi lebih peka terhadap luka yang tidak terlihat.
Selamat membaca! Semoga kisah dalam novel Rekindled: Tentang Diri dan Bagaimana Ia Kembali ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki luka yang tidak selalu tampak, dan bahwa menjadi lebih peduli bisa menjadi awal dari sembuhnya seseorang.
Identitas Buku
Judul: Rekindled: Tentang Diri dan Bagaimana Ia Kembali
Penulis: Dhamala Shobita
Penerbit: Laksana
Terbit: 2020
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-602-407-722-8
Baca Juga
-
Cinta dan Makna Sebuah Pilihan: Ulasan Novel Islammu Adalah Maharku
-
Ulasan Novel Festival Hujan, Belajar Menerima Diri dari Sebuah Kehilangan
-
Menyusuri Makna Kehidupan dalam Buku Kantor Pos dan Siklus Musim Semi
-
Novel Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati: Menyingkap Jati Diri dan Kekayaan Budaya Bali
-
Memupuk Keberanian untuk Menggali Potensi dan Meraih Mimpi dalam Lawan Minder, Raih Sukses
Artikel Terkait
Ulasan
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
Terkini
-
Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?
-
5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!