Masa lalu adalah bagian dari kehidupan yang tidak selalu mudah untuk dipahami dan dimengerti. Ada kenangan yang menyenangkan, tetapi ada pula pengalaman yang menyisakan pertanyaan dan luka dalam hati. Terkadang, seseorang harus menempuh perjalanan panjang untuk mengenali dirinya sendiri. Sebab, memahami siapa diri kita tidak cukup hanya dengan melihat kehidupan hari ini, tetapi juga dengan menerima kenyataan yang membentuk perjalanan hidup kita sebelumnya.
Persoalan tersebut dapat direnungkan melalui novel Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati karya Ni Made Purnama Sari, yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada November 2022. Novel setebal 176 halaman ini mengisahkan Putu, seorang anak tunggal yang tumbuh di sebuah desa di Bali bersama neneknya tanpa pernah mengenal kedua orangtuanya.
Melalui pertemuannya dengan para maestro seni tari dan gamelan tradisional, Putu diperkenalkan pada keindahan seni dan kekayaan budaya Bali. Namun, kehidupan yang tampak indah itu tidak sepenuhnya membebaskannya dari persoalan. Kenangan masa lalu kembali muncul dan mengusik perjalanan hidupnya. Dari sinilah pembaca diajak menyelami pencarian jati diri seorang anak yang berusaha memahami asal-usul dan kenyataan hidupnya.
Salah satu hal menarik dari novel ini adalah latarnya yang mengambil tempat di Bali pada era 1970-an. Pada masa tersebut, Bali menghadapi perubahan sosial dan budaya, termasuk perkembangan pariwisata modern serta pergeseran hubungan masyarakat dengan tradisi. Persoalan ingatan terhadap tragedi 1965 turut menjadi bagian dari konteks sejarah yang melingkupi cerita.
Melalui latar tersebut, Ni Made Purnama Sari tidak sekadar menghadirkan Bali sebagai tempat yang dikenal dengan keindahan alam dan keseniannya. Lebih dari itu, pembaca diajak memahami bahwa di balik kekayaan budaya terdapat sejarah, pergulatan sosial, dan perubahan zaman yang memengaruhi kehidupan masyarakatnya.
Hal lain yang patut diapresiasi adalah perhatian penulis terhadap seni tradisional. Tari, gamelan, lukisan, dan puisi hadir sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan yang menyertai cerita. Istilah-istilah kesenian dan nilai filosofis yang diperkenalkan dapat membuka wawasan pembaca mengenai kebudayaan Bali. Dengan demikian, novel ini tidak hanya menawarkan pengalaman membaca cerita, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenal tradisi dan cara pandang masyarakat setempat.
Memang, banyaknya istilah kebudayaan Bali mungkin membuat sebagian pembaca merasa kesulitan memahami beberapa bagian cerita. Begitu pula dengan penggunaan alur maju mundur yang menuntut pembaca lebih cermat mengikuti peristiwa.
Namun, hal tersebut juga dapat menjadi kekuatan tersendiri. Pembaca terdorong untuk membaca dengan lebih saksama, mengenali konteks budaya, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Tantangan membaca itu justru membuka kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru.
Pada akhirnya, Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati mengajak pembaca memahami bahwa masa lalu turut membentuk jati diri, sebagaimana tradisi mencerminkan perjalanan sebuah masyarakat. Kita memang tidak dapat memilih seluruh pengalaman yang membentuk kehidupan, tetapi kita dapat belajar memaknainya dengan bijaksana.
Melalui novel ini, Ni Made Purnama Sari menunjukkan bahwa mengenal kebudayaan Bali bukan sekadar mengagumi keseniannya, melainkan juga memahami sejarah, nilai, dan kehidupan manusia yang menjaganya tetap hidup dari generasi ke generasi.
Semoga novel Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati ini dapat menjadi bacaan yang bermanfaat, terutama bagi pembaca yang ingin mengenal sastra Indonesia sekaligus memperluas wawasan tentang sejarah dan kebudayaan Bali. Sebab, membaca karya sastra bukan sekadar mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya, tetapi juga belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Identitas Buku
Judul: Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati
Penulis: Ni Made Purnama Sari
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit: 2022
Tebal: 176 halaman
Ukuran: 20 × 13,5 cm
ISBN: 978-602-481-921-7
Baca Juga
-
Memupuk Keberanian untuk Menggali Potensi dan Meraih Mimpi dalam Lawan Minder, Raih Sukses
-
Menjadi Guru yang Berakhlak dalam Buku Adab di Atas Ilmu 5
-
Luasnya Rahmat Allah dalam Buku Yang Maha Sekarepe, Yang Maha Entengan
-
Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga: Buku Sempurnakan Akhlak dengan Adab
-
Buku Control Your Expectation: Mengelola Ekspektasi agar Hidup Lebih Tenang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review In My Prime: Kisah Bayi Tertukar yang Mengubah Nasib Dua Keluarga
-
We Made a Beautiful Bouquet: Ketika Cinta Kalah Oleh Sibuknya Jadi Dewasa
-
Ulasan Dua Belas Pasang Mata: Kehangatan Guru di Tengah Kelamnya Perang
-
Review Howl's Moving Castle: Tak Perlu Sempurna untuk Layak Dicintai
-
Gergasi Karya Danarto: Kisah Semut Mengusung Mayat dan Pohon Bermusyawarah
Terkini
-
Syarat Kerja Selangit, Gaji UMR: Ekspektasi yang Tak Masuk Akal?
-
Dua Wajah Indonesia: Sibuk Kejar Dolar Turis, Lalai Urus Kabut Asap
-
4 Chemical Sunscreen Non Comedogenic, Andalan Kulit Berminyak Bebas Jerawat
-
Infinix Note 50S 5G+: Ponsel Wangi dengan Layar 144Hz dan Performa Gesit
-
Blue Dragon Film Awards ke-47 Umumkan Nominasi, HOPE Pimpin 10 Nominasi