Melalui Bulan di Atas Istana, Akbar Evandio mengajak pembaca memasuki dunia jurnalistik di lingkungan Istana Kepresidenan, tempat berita harus dikejar, tenggat tak bisa ditawar, dan agenda bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, di balik kesibukan meliput berbagai peristiwa kenegaraan, ada kehidupan personal yang tidak kalah rumit: persahabatan, harapan, kehilangan, dan perasaan yang tumbuh tanpa pernah meminta izin.
Di tengah dunia yang menuntut ketepatan, Surya justru berhadapan dengan sesuatu yang sulit dipastikan: hati manusia.
Sebagai wartawan, Surya terbiasa mengamati, mencari informasi, dan menyusun fakta menjadi cerita. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan Bulan, semua kemampuan itu seolah kehilangan kegunaannya. Ia bisa mencari jawaban dari berbagai narasumber, tetapi tidak selalu mampu memahami apa arti sebuah perhatian. Ia bisa mengejar berita sampai tuntas, tetapi urusan perasaan justru mengajarinya bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan menuju akhir yang diinginkan.
Bulan hadir sebagai sosok yang membuat rutinitas Surya terasa berbeda. Percakapan sederhana, pertemuan singkat, dan kebersamaan di sela-sela pekerjaan perlahan mendapatkan makna baru. Tidak selalu ada peristiwa besar dalam sebuah perasaan. Terkadang, justru hal-hal kecil yang diam-diam menetap di ingatan menjadi bagian paling sulit dilupakan.
Keunikan novel ini terletak pada pertemuan antara romansa dan kehidupan jurnalistik. Istana bukan sekadar latar tempat Surya dan Bulan bertemu, melainkan dunia dengan ritmenya sendiri. Ada kesibukan peliputan, dinamika antarrekan kerja, penantian di ruang wartawan, dan tuntutan profesional yang tetap harus dijalankan, bahkan ketika kehidupan pribadi sedang tidak baik-baik saja.
Di dunia itu, seorang wartawan bisa mengejar pernyataan pejabat sambil memikirkan seseorang yang belum membalas pesannya. Ia bisa menulis berita tentang keputusan penting negara, lalu pulang dengan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya sendiri.
Kontras inilah yang membuat kisah Surya dan Bulan terasa dekat dengan kehidupan: kita semua memiliki peran yang harus dijalankan, tetapi ada bagian dari diri kita yang tidak selalu bisa dijelaskan kepada orang lain.
Lebih dari sekadar cerita tentang seseorang yang jatuh cinta, Bulan di Atas Istana berbicara tentang proses memahami diri sendiri. Tentang keberanian untuk berharap, kerelaan menghadapi kenyataan, dan kesadaran bahwa menyukai seseorang tidak serta-merta membuat kita berhak atas kehidupannya.
Sebab, mencintai bukan hanya soal mendekat. Ada kalanya kita perlu belajar menjaga jarak, menghormati pilihan, dan menerima bahwa orang yang begitu berarti bagi kita tetap memiliki jalan hidupnya sendiri.
Melalui Surya, pembaca diajak melihat bahwa kedewasaan tidak selalu datang ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Terkadang, kedewasaan justru tumbuh ketika ia mampu menerima sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan.
Bulan di Atas Istana adalah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kesibukan, tentang dunia kerja yang menyimpan banyak cerita, dan tentang manusia yang terus belajar memahami perasaannya sendiri.
Karena pada akhirnya, tidak semua cerita dapat kita kendalikan. Ada yang bisa kita tulis, ada yang hanya bisa kita kenang, dan ada pula yang baru kita pahami setelah semuanya berlalu.
Di antara berita yang harus segera dikirim dan perasaan yang tak kunjung menemukan jawaban, Surya belajar bahwa kehidupan tidak selalu memberikan kepastian. Namun, bukan berarti setiap kisah kehilangan makna.
Menurut saya cerita ini bukan hanya soal pelik dan riuhnya keadaan di dalam Istana Negara, tapi juga bagaimana proses seorang wartawan menemukan sendiri jalan hidup yang sebelumnya tidak pernah dia tahu memiliki tujuan apa. Hingga dia menemukan seseorang yang bisa membantunya menemukan jalan itu. Salah satu novel yang saya rekomen untuk dibaca oleh banyak kalangan.
Baca Juga
-
Ulasan Novel Romansa Opium, Kejahatan, Kekuasaan, dan Cinta di Era Kolonial
-
Ulasan Novel Pusaka Candra: Kisah Politik, Mitos, dan Cinta Keraton Abad 17
-
Intrik Kuasa dan Cinta Terlarang dalam Novel Kaisar
-
Ulasan Sweet Disguise, Perjalanan Menguak Korupsi Lewat Penyamaran
-
Perjuangan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Novel Senja di Sudut Rumah Sakit
Artikel Terkait
Ulasan
-
Laut Bercerita, Kisah Masa Lalu yang Terasa Dekat dengan Indonesia Hari Ini
-
Detective Conan: Analisis Tajam Shinichi Kudo Memecahkan Kasus Pembunuhan!
-
The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
Terkini
-
Rumah Mertua atau Mandiri? Sisi Lain Dilema Pengantin Baru Satu Atap
-
Sinopsis Fjord, Terpilih Jadi Film Terbaik Cannes Film Festival 2026
-
Pajak Pembalut vs Kondom: Menakar Keadilan Transaksi Kesehatan Perempuan
-
Resmi! 5 Pembalap Veteran Ini Terdepak dari MotoGP 2027, Siapa Saja?
-
Destiny Unchain Online Tayang 2027, Ikumi Hasegawa Isi Suara Karakter Crim