Menjalani kehidupan, manusia sering dihadapkan pada berbagai persoalan. Ada kalanya kita terlalu memikirkan penilaian orang lain, berusaha memenuhi harapan banyak pihak, atau merasa terbebani oleh sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kebiasaan tersebut dapat membuat kita sulit menikmati kehidupan dan menentukan apa yang benar-benar perlu diperjuangkan. Oleh karena itu, kita perlu belajar memilah persoalan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Buku dengan judul asli The Subtle Art of Not Giving a F*ck ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh F. Wicakso. Melalui buku ini, Manson mengajak pembaca memahami kebahagiaan dan kesuksesan dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada kegagalan, kekecewaan, dan kesulitan yang harus diterima sebagai bagian dari pengalaman hidup.
Istilah bodo amat yang digunakan dalam buku ini bukan berarti mengabaikan semua persoalan, bersikap egois, atau melepaskan tanggung jawab. Sebaliknya, Manson mengajak pembaca lebih selektif dalam menentukan hal-hal yang layak mendapatkan perhatian. Tidak semua pendapat orang lain harus dipikirkan secara berlebihan. Begitu pula, tidak semua masalah perlu dijadikan beban. Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali manusia sehingga lebih baik diterima daripada terus-menerus disesali.
Manson juga mengkritik kebiasaan masyarakat yang sering mengukur keberhasilan melalui uang, popularitas, dan kedudukan sosial. Ukuran semacam itu dapat membuat seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki keadaan, pilihan, dan tujuan yang berbeda. Karena itu, penulis mengajak pembaca menentukan nilai-nilai yang dianggap penting, seperti kejujuran, tanggung jawab, hubungan yang bermakna, serta keberanian menerima kekurangan diri sendiri.
Dari segi penyampaian, Manson menggunakan gaya bahasa lugas dengan selipan humor, analogi, dan contoh kehidupan sehari-hari. Pilihan bahasa dalam terjemahan F. Wicakso relatif sederhana sehingga gagasan penulis dapat diikuti oleh pembaca umum.
Buku ini juga merujuk pada pemikiran stoikisme dan filsafat eksistensialisme sebagai landasan pembahasannya. Kehadiran kedua pemikiran tersebut membantu pembaca mengenali sudut pandang filosofis di balik ajakan untuk menentukan hal-hal yang patut diperhatikan.
Salah satu keunggulan buku ini terletak pada cara penulis menyampaikan gagasan tentang kehidupan melalui pembahasan yang lugas. Manson menawarkan sudut pandang yang berbeda dari buku motivasi pada umumnya, terutama dengan mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu mengejar kesenangan atau memenuhi harapan orang lain.
Meski demikian, pembahasan filosofis dalam buku ini tidak diuraikan secara mendalam. Namun, penyajian yang ringkas justru membuat gagasannya lebih mudah dijangkau pembaca umum. Pembaca tetap perlu memahami konteks setiap pembahasan agar istilah bodo amat tidak disalahartikan sebagai alasan untuk menghindari kewajiban atau bersikap tidak peduli terhadap sesama.
Hal yang perlu direnungi dari buku karya Mark Manson ini ialah pentingnya menentukan prioritas dalam kehidupan. Kita tidak mungkin mengendalikan semua keadaan ataupun menyenangkan setiap orang. Akan tetapi, kita tetap dapat memilih sikap dan bertanggung jawab atas keputusan sendiri. Memikirkan pendapat orang lain memang tidak selalu keliru, tetapi jangan sampai hal tersebut membuat kita mengabaikan kebutuhan dan nilai-nilai yang diyakini.
Pada akhirnya, bersikap bodo amat bukan berarti berhenti peduli, melainkan belajar memberikan perhatian secara tepat. Kita perlu mengetahui persoalan mana yang patut diperjuangkan dan mana yang sebaiknya diterima. Selamat membaca, semoga buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ini membantu kita lebih bijak menentukan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjalani kehidupan.
Identitas Buku
Judul: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Judul Asli: The Subtle Art of Not Giving a F*ck
Penulis: Mark Manson
Penerjemah: F. Wicakso
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 247 halaman
Ukuran Buku: 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-452-698-6
Baca Juga
-
Ulasan Cerpen Lotre dalam Buku Lotre dan Cerita-Cerita Lainnya
-
Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Cinta dan Makna Sebuah Pilihan: Ulasan Novel Islammu Adalah Maharku
-
Ulasan Novel Festival Hujan, Belajar Menerima Diri dari Sebuah Kehilangan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Buku Little Women: Perjalanan Empat Saudari Menemukan Arti Kedewasaan
-
Drawing Closer: Apa yang Ingin Kita Tinggalkan Jika Waktu Kita Terbatas?
-
Ulasan Buku The Comfort Book: Menemukan Ketenangan di Tengah Sulitnya Hidup
-
Review Lingsir Wengi: Motel Malioboro, Teror Mistis di Balik Konten Viral
-
Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat
Terkini
-
Gaji Pas-pasan, Pajak Macam-macam: Menghitung Sisa Napas Finansial Pekerja
-
Gema Stop the Wedding: Seni Berhenti Sebelum Terjebak Hubungan Salah
-
Kurang Bersyukur Tidak Menjadi Jawaban atas Persoalan Kesehatan Mental
-
Film New Recruit Tayang 30 Desember, Kelompok Prajurit Alami Kejadian Aneh
-
Soyeon Eks T-ara Hamil Anak Pertama, Umumkan Kabar di Anniversary ke-4