Tanah Jawa bukan hanya menyimpan kekayaan budaya dan sejarah, tetapi juga beragam kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita tentang pesugihan, santet, penglaris, pelet, hingga bangunan yang konon meminta tumbal masih hidup dalam ingatan masyarakat. Sebagian dipercaya sebagai kenyataan, sebagian lainnya berkembang menjadi mitos dan cerita tutur. Melalui buku Kisah Tanah Jawa, pembaca diajak menelusuri berbagai kepercayaan tersebut sekaligus melihat hubungannya dengan sejarah dan kehidupan masyarakat Jawa.
Ditulis oleh Bonaventura D. Genta, Mada Zidan atau Mbah KJ, dan Hari Kurniawan, yang dikenal melalui akun @kisahtanahjawa, buku ini diterbitkan GagasMedia, Jakarta, pada Februari 2019. Dengan ketebalan 250 halaman, buku bergenre horor dan misteri ini tidak hanya mengandalkan cerita menyeramkan. Penulis juga berusaha memberikan penjelasan mengenai mitos, tradisi, dan fenomena sosial yang berkembang di Pulau Jawa.
Isi Buku
Pembahasan dibuka melalui bab “Napas Tiang Pancang” yang mengangkat kisah tumbal dalam pembangunan sejumlah bangunan. Salah satu cerita yang disorot berkaitan dengan jembatan kereta api Sungai Serayu. Konon, satu kelompok lengger asal Banyumas ditanam di salah satu pilar jembatan tersebut.
Mereka disebut diundang oleh centeng suruhan Staatsspoorwegen dengan alasan menghadiri selamatan sekaligus menghibur para pekerja proyek. Kisah ini memperlihatkan bagaimana kepercayaan mengenai tumbal melekat dalam cerita masyarakat tentang pembangunan infrastruktur pada masa lampau.
Buku ini kemudian membahas praktik-praktik mistis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam bab “Penyedap Komposisi Dosa”, misalnya, pembaca diperkenalkan pada cerita tentang penglaris yang dipercaya digunakan sebagian pedagang untuk menarik pelanggan.
Pembahasannya tidak berhenti pada cara membuat dagangan ramai, tetapi juga menyinggung praktik yang konon digunakan untuk membuat warung pesaing kehilangan pembeli. Beberapa kisah bahkan menggambarkan penggunaan benda-benda menjijikkan sebagai bagian dari ritual penglaris.
Pembahasan berlanjut pada pesugihan dalam bab “Harta Berujung Petaka”, serta ilmu pelet dan pengasihan dalam bab “Merapal Kata Terlarang”. Berbagai cerita tersebut memperlihatkan sisi lain dari keinginan manusia untuk memperoleh kekayaan, pengaruh, dan kasih sayang melalui jalan yang dianggap tidak biasa. Pembaca juga diajak mengenal cara-cara menghindari hal-hal yang berkaitan dengan praktik mistis.
Salah satu bagian menarik adalah pembahasan mengenai Kejawen dan kedatangan imperialisme. Buku ini menawarkan sudut pandang berbeda tentang Kejawen yang kerap disamakan dengan klenik atau praktik ilmu hitam.
Padahal, Kejawen sejati tidak serta-merta mengajarkan tindakan mencelakakan orang lain. Dengan demikian, pembaca diajak membedakan nilai-nilai spiritual dan falsafah hidup Jawa dari praktik mistis yang berkembang di tengah masyarakat.
Kelebihan dan Kekurangan
Aspek sejarah menjadi daya tarik tersendiri. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa dan masa kolonialisme tidak hanya dibahas melalui monopoli, penindasan, serta kekerasan terhadap penduduk pribumi. Buku ini juga menyinggung hubungan penguasa kolonial dengan kepercayaan lokal. Salah satu kisahnya menyebut Daendels yang konon memanfaatkan jasa dukun setempat untuk membangun keberanian dan menghadapi berbagai ancaman, baik yang bersifat gaib maupun dari kalangan bangsawan.
Pada bagian berikutnya, pembaca disuguhi kumpulan cerita misteri yang menghadirkan sosok-sosok menyeramkan, ritual, dan tempat-tempat angker. Cerita-cerita tersebut membangun suasana horor yang membuat pembaca seolah ikut berada di tengah peristiwa.
Meski demikian, susunan buku ini terasa kurang konsisten. Lebih dari separuh bagian awal berisi pembahasan mitos dan sejarah, sedangkan bagian akhirnya beralih ke kumpulan cerita seram yang tidak selalu memiliki keterkaitan langsung dengan pembahasan sebelumnya. Peralihan tersebut dapat membuat arah pembahasan terasa kurang padu.
Terlepas dari kekurangan itu, Kisah Tanah Jawa menawarkan pengalaman membaca yang berbeda. Buku ini tidak sekadar mengandalkan ketakutan, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan asal-usul kepercayaan dan melihat hubungan antara budaya, sejarah, serta cerita mistis. Bagi pencinta horor, sejarah lokal, dan tradisi Jawa, buku ini menjadi bacaan menarik untuk memahami bahwa di balik kisah-kisah menyeramkan, tersimpan pula jejak cara masyarakat memaknai dunia di sekitarnya.
Baca Juga
-
Meterai Rp10 Ribu: Saat Transaksi Warga Sekalipun Tak Luput dari Pajak
-
Mari Jaga Hutan Papua, Swasembada Energi atau Kedok Ekspansi Korporasi?
-
Misi Alexis Menyelamatkan Ingatan Kakeknya di Novel Mist-Bound
-
Dari Isi Piring hingga Obat, Politik Mengatur Kehidupan Kita Sehari-hari
-
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026: Saatnya Cinta Jadi Tindakan Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Do You Like Brahms?: Jatuh Bangun Mahasiswa Musik Mengejar Mimpi
-
Review Serial Prefiero la Muerte: Suguhkan Kisah Cinta Unik Berbalut Horor
-
Ulasan Novel Bumi: Petualangan Tiga Sahabat Menjelajahi Dunia Paralel
-
Keberuntungan Sedang Menghampirimu: Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Menuju Harapan
-
Belajar Menghargai Pengorbanan Orang Tua dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Terkini
-
Puncaki Chart Musik Korea, Rescene Janji Tuk Melangkah Bersama di Lagu With
-
Bye Bibir Kering! Ini 5 Lip Balm Madu yang Ampuh Melembapkan
-
EHEF 2026 Resmi Digelar di UGM, Hadirkan 90 Kampus Eropa dan 1.000 Beasiswa
-
Jarang Komentari Politik, SBY Sindir Pedas: Kok Begini Liar Politik Kita?
-
Realistis atau Pesimis? Mengulik Tren Stop the Wedding dari Sisi Finansial