Cerita Fiksi

Kisah Sunyi Seorang Death Doula di Ujung Kehidupan

Kisah Sunyi Seorang Death Doula di Ujung Kehidupan
Ilustrasi pendamping kematian death doula. (dok. nano banana/gemini AI)

Malam itu, rumah sakit terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu lorong berpendar redup, menyisakan suara langkah kaki perawat yang sesekali terdengar memantul di atas lantai linoleum, lalu kembali menghilang ditelan sepi. Di salah satu ruang perawatan, seorang perempuan duduk diam di samping ranjang pasien yang sudah sangat renta.

Namanya Rara. Ia bukan dokter. Bukan pula perawat.

Tugasnya terdengar sangat sederhana, tetapi tidak semua orang memiliki ketabahan untuk melakukannya: menemani seseorang di ambang akhir hidupnya.

Di beberapa negara, peran seperti ini dikenal sebagai death doula—pendamping kematian yang membantu seseorang menghadapi akhir hidup dengan lebih tenang, secara emosional dan manusiawi. Peran ini sama sekali tidak berkaitan dengan tindakan medis, melainkan murni tentang kehadiran, empati, dan pendampingan. Meski di Indonesia istilah ini belum banyak dikenal, bagi Rara, maknanya terasa sangat nyata.

Pertemuan yang Mengubah Arah Hidup

Semua bermula tiga tahun lalu, ketika ibunya meninggal dunia di rumah sakit.

Saat itu, Rara masih sibuk bekerja sebagai desainer grafis. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan begitu dekat dengan ruang-ruang perawatan berbau karbol, apalagi menghabiskan malam hanya untuk duduk di samping tempat tidur seseorang yang napasnya perlahan melemah.

Namun, yang paling ia ingat dari malam kematian ibunya bukanlah suara mesin medis atau aroma obat-obatan. Melainkan kesepian yang teramat pekat.

Ibunya mengembuskan napas terakhir pada dini hari. Tidak ada keluarga lain yang sempat datang. Perawat hanya masuk sesekali untuk memastikan kondisi. Malam itu, Rara menggenggam tangan ibunya sendirian hingga denyut nadi itu perlahan menghilang.

Di detik-detik terakhir itulah, Rara menyadari sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya: tidak semua orang cukup beruntung memiliki seseorang untuk menemani mereka saat hidup hampir usai. Pikiran itu menancap di kepalanya, dan tak pernah benar-benar pergi.

Malam Bersama Pak Arif

Malam ini, Rara menemani Pak Arif, seorang pensiunan guru yang sudah beberapa hari tidak sadarkan diri. Keluarganya sedang dalam perjalanan dari luar kota dan belum sempat tiba. Ruangan itu sunyi.

Hanya ada suara ritmis dari monitor detak jantung yang sesekali berbunyi. Rara duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, dengan telaten membasahi bibir Pak Arif menggunakan kapas air agar tidak pecah-pecah.

Ia kemudian mulai berbicara pelan, meski tak yakin apakah Pak Arif masih bisa mendengarnya di alam bawah sadar sana.

“Pak Arif dulu guru matematika, ya? Pasti banyak murid Bapak yang sudah sukses sekarang,” bisiknya lembut. Ia tersenyum kecil, menatap wajah senja yang tampak sudah sangat lelah namun tenang itu. “Kalau mereka tahu Bapak sedang beristirahat di sini, mungkin mereka semua akan berbaris untuk bilang terima kasih.”

Tidak ada jawaban.

Namun, Rara memercayai satu hal—bahwa bahkan ketika seseorang tidak lagi bisa merespons secara fisik, jiwa mereka mungkin masih bisa merasakan kehangatan sebuah kehadiran.

Hal Kecil yang Sering Terlupakan

Beberapa jam kemudian, di sepertiga malam, tarikan napas Pak Arif mulai melemah. Rara merengkuh tangan keriput itu lebih erat.

Di saat-saat seperti itu, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Setiap detik terasa memanjang, seolah dunia di luar ruangan itu sengaja berhenti sejenak untuk memberi jalan. Lalu akhirnya, suara ritmis monitor berubah menjadi satu nada panjang dengan garis yang mendatar.

Sunyi. Pak Arif telah berpulang.

Rara menundukkan kepala. Bukan untuk menangis, melainkan untuk memberikan penghormatan kecil dan sunyi pada sebuah buku kehidupan yang baru saja tamat. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke ruangan.

“Terima kasih sudah menemani beliau, Mbak,” ucap sang perawat pelan.

Rara hanya tersenyum mengangguk. Baginya, itu bukanlah sesuatu yang heroik atau luar biasa. Ia hanya melakukan satu hal yang paling mendasar sebagai sesama manusia: hadir.

Cara Kita Memandang Akhir Kehidupan

Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, kematian sering kali masih dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan atau bahkan tabu untuk dibicarakan. Padahal, kematian adalah satu-satunya kepastian mutlak yang dituju oleh kehidupan.

Di beberapa negara, konsep death doula mulai berkembang sebagai bentuk pendampingan yang lebih manusiawi di masa transisi tersebut. Mereka tidak menggantikan tenaga medis, melainkan melengkapi kebutuhan emosional dan spiritual seseorang yang bersiap untuk pergi.

Rara sendiri tidak pernah melabeli dirinya dengan istilah asing itu. Baginya, ini bukan tentang profesi atau gelar. Ini murni tentang kepedulian.

Tentang memastikan bahwa ketika seseorang menutup matanya untuk terakhir kali, ada seseorang di sampingnya yang menggenggam tangannya. Seseorang yang diam-diam berkata dalam hati:

“Tidurlah. Kamu tidak sendirian.”

Dan mungkin, di dunia yang kini berjalan terlalu cepat dan acuh tak acuh ini, hal sesederhana itu justru menjadi sesuatu yang paling langka—dan paling berharga.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda