Cerita Fiksi
Selepas Kelam
Malam itu, hujan tak kunjung reda di pinggir hutan Jawa Timur. Aku, seorang pemahat batu nisan bernama Suroto, duduk di teras gubuk reyot sambil mengukir nama terakhir untuk hari ini: “Rini, 1998-2025. Hilang dalam kegelapan.”
Pisau pahatku berhenti. Angin membawa bau tanah basah bercampur sesuatu yang aneh—seperti kertas lama yang terbakar. Aku angkat kepala. Di ujung jalan setapak, berdiri seorang perempuan. Gaun putihnya basah kuyup, tapi rambutnya kering. Matanya hitam pekat, tanpa putih.
“Mas, tolong ukirkan satu nisan untukku,” katanya pelan, suaranya seperti daun kering yang bergesek.
Aku tak takut. Sudah dua puluh tahun aku mengubur orang mati yang tak diakui keluarganya. “Siapa namamu?”
“Namaku tak penting lagi. Yang penting, aku belum mati benar.”
Dia mendekat. Kulitnya pucat kebiruan, tapi ada denyut nadi samar di lehernya. Aku mundur selangkah. “Kau… masih hidup?”
“Selepas kelam, hidup dan mati jadi kabur,” jawabnya sambil tersenyum tipis. “Aku terjebak di antaranya. Tiap malam aku terbangun di kuburan yang sama, tapi tak pernah dikubur orang. Tolong ukirkan namaku supaya aku bisa pergi.”
Aku menggelengkan kepala. “Aku cuma pemahat batu, bukan dukun.”
Perempuan itu duduk di bangku kayu reyotku. “Namaku Laras. Dulu aku guru SD di desa sebelah. Suatu malam, aku pulang lewat hutan ini. Ada suara memanggil namaku dari balik pohon. Lalu aku mengikutinya. Lalu gelap menghampiriku. Saat sadar, aku sudah di liang tanah, tapi masih bisa bernapas. Tanahnya menekan dadaku, tapi aku tak mati. Tiap hari aku mencoba keluar, tapi selalu kembali ke titik yang sama. Selepas kelam itu, waktu seakan berhenti buatku.”
Aku pun diam sejenak Cerita semacam ini biasa kudengar dari orang-orang yang kehilangan sanak saudara di hutan. Tapi matanya… matanya tak bohong.
“Apa yang kauinginkan dari nisan?” tanyaku akhirnya.
“Ukirlah: Laras, 1995-2025. ‘Dia yang tak pernah mati benar.’ Taruh di tepi hutan, di dekat pohon beringin tua. Mungkin dengan itu, aku bisa lepas.”
Malam itu aku tak tidur. Aku ambil batu andesit terbaikku, yang biasanya untuk orang kaya desa. Pisau pahatku bergerak sendiri, seolah ada tangan lain yang memandu. Huruf-huruf terbentuk halus, dalam. Saat selesai, batu itu terasa hangat seperti tubuh yang hidup.
Pagi harinya, aku bawa nisan itu ke hutan. Hujan pun sudah reda, tapi kabutnya masih tebal. Pohon beringin tua berdiri megah, akarnya seperti tangan raksasa yang merangkul tanah. Aku gali lubang kecil, lalu menanam nisan itu dengan posisi tegak.
Saat palu terakhir menghantam, tanah di bawah kakiku bergetar. Dari balik kabut, kemudian muncullah Laras. Kali ini ia mengenakan gaun yang kering, rambutnya tergerai indah. Dia tersenyum, kali ini ada cahaya di matanya.
“Terima kasih, Mas Suroto.”
Dia berjalan mendekat, menyentuh pipiku dengan tangan dingin. “Kau tahu kenapa aku tak bisa mati benar? Karena aku tak pernah bilang selamat tinggal pada anakku. Malam itu, aku marah padanya karena tak mau makan. Aku tinggalkan dia menangis di rumah. Kata-kata terakhirku padanya adalah ‘Diam!’”
Air mata Laras jatuh, tapi bukan air biasa—ia berubah jadi butiran cahaya kecil yang lenyap di udara.
“Aku terjebak di dunia kelam itu karena penyesalan. Sekarang, dengan namaku terukir, mungkin aku bisa bilang selamat tinggal.”
Dia berbalik, berjalan ke arah pohon beringin. Tubuhnya mulai transparan. Sebelum hilang sepenuhnya, dia berbisik, “Jangan pernah tinggalkan kata-kata kasar sebagai yang terakhir, Mas. Selepas kelam, itu yang paling berat.”
Laras pun lenyap. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga melati yang tak pernah ada di hutan ini.
Aku pulang ke gubuk dengan tangan kosong. Malam berikutnya, aku tak lagi memahat batu nisan. Aku buat patung kecil dari sisa batu—seorang anak kecil sedang tertawa. Aku ukir di bawahnya: “Untuk Laras, dari seorang ayah yang tak pernah bilang kata maaf.”
Tiga hari kemudian, seorang bocah laki-laki datang ke gubukku. Usianya sekitar sepuluh tahun, mata hitam pekat seperti Laras. “Pak, ibu saya dulu guru SD. Namanya Bu Laras. Sudah tiga tahun hilang di hutan. Saya mimpi dia bilang maaf semalam.”
Aku diam sejenak, lalu memberikan patung kecil itu padanya.
“Simpan ini. Katakan pada ibumu, ayahmu minta maaf juga.”
Bocah itu tersenyum. Senyum yang sama seperti Laras saat terakhir kali kulihat.
Sejak itu, setiap malam hujan di pinggir hutan, aku tak lagi mendengar suara memanggil nama. Hanya angin yang berbisik pelan, seperti doa yang akhirnya terjawab.
Dan aku, Suroto, pemahat batu nisan, belajar satu hal: kadang, untuk melepaskan yang pergi, kita cukup ukir nama mereka dengan benar—bukan di batu, melainkan di hati yang masih hidup.
Selepas kelam, cahaya selalu datang. Tapi hanya bagi yang berani mengukir kata maaf sebelum terlambat.