Cerita Fiksi
Teka-Teki Kepergian Bapak
Dalam setiap detik yang menghilang dari tempat ini, aku tidak mengerti alasan Bapak pergi hari itu. Usiaku baru sepuluh tahun. Perlu waktu bertahun-tahun untuk paham tentang pilihan orang dewasa yang dulu kuanggap sebagai kebebasan.
Hari-hari yang berlalu ketika Bapak pergi menjadi salah satu waktu terberat bagi keluarga kami. Ibu yang waktu itu kuingat jelas, berdiri lusuh bersandar pada kusen pintu menggendong adikku yang baru berusia dua tahun. Matanya menatap kepergian Bapak yang tampak ringan membawa tas gendong hitam dan kardus berisi beras.
"Bapak pergi merantau, Nduk. Kamu kan sudah mau masuk SMP," suara Ibu terdengar lirih sambil tetap menatap punggung Bapak yang kian hilang dari pandangan kami.
Usia yang baru menginjak angka belasan tahun saat itu ternyata belum cukup membuatku mengerti kalau mencari uang ternyata harus meninggalkan orang terkasih di rumah.
Keluarga kami yang hanya terdiri dari Ibu, Bapak, aku, dan adikku akhirnya tersisa tiga orang dalam beberapa tahun ke depan. Hari-hari yang berlalu terasa lebih sepi. Apalagi kami saat itu masih mengandalkan surat untuk berkomunikasi karena tidak memiliki ponsel. Makanya, kami hanya bisa mendapat kabar Bapak sesekali saja dan jarang sekali surat yang ia kirimkan sampai tepat waktu.
Kabar terakhir, kudengar Bapak menjadi anak buah kapal nelayan. Dalam surat yang ia kirimkan, memang terkadang aku bisa merasakan samar aroma laut dan amis yang padu dengan kertas lecek. Tulisannya sesekali tergores. Kata Bapak, ia menulis saat ombak tinggi dan baru bisa mengirim beberapa bulan ketika berlabuh ke daratan. Memang benar, selain amis dan lecek, surat itu sangatlah kusam.
Karena aku sudah tahu pekerjaan Bapak, ketika menginjak remaja aku dengan bangga memperkenalkan diri sebagai anak nelayan meski kami bertempat tinggal di kaki gunung. Lagi pula, sejak kecil kita juga selalu dinyanyikan lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut". Jelas saja aku memamerkan pekerjaan Bapak karena tidak semua orang gunung bisa bergelut dengan pekerjaan di lautan lepas.
Meski begitu, seiring berjalannya waktu, adikku juga kian tumbuh besar. Ditinggalkan sejak kecil membuat ia tidak pernah mengenal dan melihat sosok Bapak secara seksama dalam hidupnya. Anak-anak lain dan teman-temannya di sekolah pun tampak mulai menyadari absennya sosok ayah di keluarga kami.
Dan sepanjang waktu itu juga aku mulai merenungi kembali ketidakhadiran sosok ayah. Ibu menjalankan peran bagai nahkoda yang paham jalur pelayaran meski tanpa peta. Adikku sering kali pulang dalam keadaan menangis karena diejek tidak memiliki ayah. Lalu aku? ternyata aku pun diam-diam tidak tahu arti ayah.
"Bapak tidak ada rencana pulang?" tanyaku pada suatu pagi ketika Ibu menerima paket yang kutebak itu dari Bapak.
"Sekolahmu dan adikmu lagi butuh biaya banyak, Nduk. Apalagi kamu mau masuk SMA," begitu jawabnya.
Lalu, apakah aku puas dengan jawaban itu? Jelas tidak! Sudah kubilang hari-hari saat Bapak pergi dari rumah, kondisi kami tidak benar-benar membaik karena ekonomi tidak kunjung stabil dan hidup masih serba pas-pasan. Kurasa lebih baik lagi jika Bapak tetap di rumah, kemudian menggarap sepetak sawah kecil warisan kakek daripada jauh dari keluarga tanpa hasil yang nyata.
Sayangnya saat aku mengungkapkan pemikiran itu, Ibu marah. Katanya, "Seharusnya kamu berdoa agar Bapak selalu diberi keselamatan."
Bu, bukankah tidak apa kalau aku meminta agar Bapak segera pulang?
Begitu aku bertanya-tanya dalam hati karena tak berani mengucapkan.
Namun, seperti aku yang tidak pernah terpikir alasan Bapak pergi hari itu, hari ini aku lagi-lagi tidak mengerti alasan apa yang mendasari tidak ada Bapak di sini. Semua membingungkan. Aku tidak bisa mengira, membayangkan, bahkan mengeja. Kepergian Bapak hari itu, alpa yang terlampau lama, keluarga kami yang masih miskin meski Bapak pergi bekerja, dan Ibu yang diam-diam masih banting tulang untuk sekadar makan harian.
Satu-satunya yang aku coba mengerti adalah kehilangan.
Aku dan adikku kehilangan sosok ayah, sedangkan ibu kehilangan suaminya. Lelaki itu ternyata pergi entah ke mana. Bertahun-tahun aku masih tidak mengerti, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau ia telah pergi dari kehidupan kami.
Bapak, atau lelaki yang tidak pantas disapa Bapak itu ... meninggalkan kami dalam harapan semu. Sosoknya yang sudah bertahun-tahun tak kami lihat mulai memudar dari segala ingatan. Bahkan surat-surat yang dulu sesekali datang dengan pasti lambat laun mulai menghilang pula. Tidak ada yang tersisa selain pertanyaan "mengapa" yang tidak akan pernah dapat jawaban "karena".
Satu-satunya hal yang paling aku ingat bukanlah pekerjaan Bapak yang seorang nelayan atau hari ketika kami ditinggalkan. Namun, bayangan saat aku berumur lima tahun ketika kaki ini menginjak pasir pantai untuk pertama kali.
Saat itu, kami sengaja mengunjungi pantai di sepanjang jalur selatan. Tidak bersama Ibu dan adikku belum ada di dunia ini, hanya aku. Debur ombak yang mengarah ke tepian membuat suara-suara di sekitar terdengar bagai dengungan semata.
"Bapak tidak janji akan menemimu sampai dewasa, Nduk," namun, suara Bapak sangat jelas teringat kala itu.
Sama seperti aku yang tidak memahami keputusan Bapak pergi hari itu, bisikannya di bibir pantai saat itu rupanya jadi misteri pertama yang tidak bisa aku pecahkan dari sosok Bapak. Satu per satu, tabir samar yang terpecah menjadi kepingan patah yang menyayat batinku.
Sayangnya setelah kepergian Bapak, setiap teka-teki itu tak pernah aku bisa pahami meski aku sudah beranjak dewasa.