Cerita Fiksi

Bingkai Tanpa Subjek

Bingkai Tanpa Subjek
ilustrasi Bingkai Tanpa Subjek (Gemini AI)

Kota selalu tahu cara memperlakukan perantau: mula-mula ia mematahkan punggungmu, lalu setelah kau pasrah, ia mengisimu dengan logam dan melupakan namamu.

Di kamar kontrakan yang pengap oleh bau karbit dan sisa tumisan minyak kelapa, Bagas menghitung lembaran uang seratus ribuan dengan takzim yang ganjil. Seolah-olah kertas berwarna merah menyala itu adalah serpihan kitab suci yang jatuh dari langit. Tahun lalu, saat gerimis menyapu Terminal Pulogadung seperti tirai duka yang tak selesai dijahit, ia terpaksa menelan bulat-bulat harga dirinya.

Lewat lubang pengeras suara ponselnya yang retak, ibunya sempat menelepon. "Bagas, Lebaran ini pulang, Le? Ibu sudah buatkan lepet janur kesukaanmu."

Bagas menghela napas, menggosok keningnya yang lengket oleh peluh harian. "Maaf, Bu. Proyek konstruksi di sini sedang mandek. Mandor menyunat upah kami. Uangku pas-pasan sekali, bahkan untuk sekadar membeli tiket bus kelas ekonomi yang harganya melesat tidak rasional."

Di ujung sana, suara yang mulai merapuh itu hanya menjawab dengan sepotong kalimat yang lebih mirip embusan napas panjang, "Ora apa-apa, Le. Sing penting kowe sehat di tanah orang. Doaku ndak pernah putus di atas sajadah."

Bagas tahu, di balik suara tenang itu ada sepi yang menggelayut seperti jelaga di dinding dapur. Namun, egonya menolak pulang sebagai pecundang tanpa tentengan kemewahan.

Kini, jalurnya telah berputar seratus delapan puluh derajat. Sang Maha Kaya seakan sengaja membuka lebar-lebar keran berkah-Nya tepat di atas kepala Bagas. Sebuah tender logistik skala menengah yang ia menangkan tiga bulan lalu merombak total struktur dompetnya. Hari ini, ia pulang sebagai pemenang. Di bagasi mobil sewaan yang harum vanila sintetis, bertumpuk kardus-kardus tebal berisi oleh-oleh kelas satu.

Bagas sempat menghubungi salah satu kawan lamanya di desa lewat sambungan telepon saat mobilnya melaju di jalur bebas hambatan. "Aku sudah di jalan tol, Dan. Tolong kabari orang rumah. Aku bawa kain tenun sutra terbaik untuk Ibu, juga minyak wangi melati premium dari kota. Aku ingin lihat bagaimana wajah sepupu-sepupu kita saat melihat mobil ini."

"Wah, mantap betul kamu sekarang, Gas. Sukses besar ya," sahut suara di seberang. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Nanti kita ngobrol di gardu."

Dada Bagas bergemuruh penuh kemenangan. Ia membayangkan sebuah pelukan hangat di ambang pintu, aroma minyak kayu putih bercampur wangi masakan opor, dan rentetan ocehan panjang tentang betapa kurusnya ia sekarang.

Mobil membelah kabut fajar saat memasuki gapura desa yang masih basah oleh embun pagi. Namun, ada yang ganjil dengan denyut udara hari itu. Di sepanjang jalan setapak menuju rumah berkulit anyaman bambu tempat ia dibesarkan, bendera kuning kecil tampak tertancap pada batang pisang di beberapa sudut pertigaan. Bagas merasakan dadanya mendadak berongga.

Ketika mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah, pemandangan yang menyambutnya bukanlah sesosok perempuan dengan daster pudar yang berdiri melambaikan tangan. Melainkan kerumunan tetangga berpeci yang sedang melipat tikar pandan di teras. Sunyi mendadak menjadi raksasa yang mencengkeram tenggorokannya.

Bagas melangkah turun dengan lutut gemetar. Seseorang berbaju koko abu-abu, Pakde Hardi pamannya sendiri, berjalan mendekat dengan mata yang bengkak dan merah.

"Pakde..." suara Bagas tercekat di kerongkongan. "Ini... ada acara apa di rumah? Kenapa banyak orang melipat tikar?"

Pakde Hardi tidak langsung menjawab. Beliau memandangi bungkusan oleh-oleh mewah yang mengintip dari kaca belakang mobil sewaan Bagas, lalu menepuk bahu keponakannya itu dengan sangat pelan. "Kamu terlambat satu hari, Le. Ibumu sudah dipanggil pulang oleh Gusti Allah kemarin sore. Serangan jantungnya mendadak sekali."

"Kenapa tidak ada yang meneleponku?!" pekik Bagas, suaranya pecah menembus kesunyian pagi.

"Ponselmu sulit dihubungi sejak dua hari lalu, Gas. Kami bingung," sahut Pakde Hardi lirih. "Ayo, ikut Pakde. Kita bertamu ke rumah barunya."

Rumah baru itu ternyata berada di sudut paling luar dari kompleks pemakaman umum desa, terlindung di bawah bayang-bayang pohon kamboja tua. Bagas bersimpuh di atas gundukan tanah yang masih basah. Di hadapannya, berdiri tegak sebuah papan nisan kayu tipis bercat putih bertuliskan satu nama: Sitti Aminah. Hanya itu. Papan dan nama.

"Bu... ini Bagas," bisik Bagas pada tanah yang bisu. "Bagas pulang bawa uang banyak. Kain sutra yang Ibu inginkan ada di mobil. Bangun, Bu... Marahi Bagas karena baru pulang sekarang. Tolong ocehi Bagas seperti dulu..."

Pakde Hardi yang berdiri di belakangnya ikut menyeka air mata. "Sudah, Le. Ikhlaskan. Ibumu tidak butuh kain sutra lagi. Setiap malam sebelum tidur, dia hanya selalu melihat ke arah jendela, bertanya-tanya apakah suara motor di jalan itu adalah suaramu. Dia merindukanmu, bukan uangmu."

Ternyata untuk urusan ikhlas, ia ini cuma seorang amatir yang patetis. Masih sangat amatir. Gengsi fana yang selama bertahun-tahun dipeliharanya seperti hewan peliharaan kini berbalik mencabik-cabik kewarasannya sendiri. Manusia sombong yang merasa bisa menaklukkan ibu kota ini sekarang bertekuk lutut, kehilangan inti dari seluruh alasan mengapa ia bekerja keras memeras keringat hingga menjadi darah.

***

Sore harinya, rumah peninggalan ibunya dipadati oleh sanak saudara untuk ritual yang paling dibenci Bagas sejak kecil: sesi potret keluarga besar. Seorang fotografer lokal dengan kamera DSLR tua sibuk mengatur posisi berdiri para sepupu dan paman di ruang tamu yang pengap.

"Ayo, Bagas, masuk barisan. Mumpung kamu lagi pulang pakai baju bagus, sekalian untuk kenang-kenangan keluarga," panggil seorang bibi dari sudut ruangan dengan senyum yang dipaksakan.

"Saya tidak usah ikut, Lik," tolak Bagas datar, matanya menatap lantai.

"Jangan begitu, Le. Ini amanah dari ibumu juga jauh-jauh hari," potong Pakde Hardi, menarik lengan Bagas perlahan. "Tahun lalu kita tidak foto bersama karena kamu tidak pulang. Tahun ini harus lengkap, walau... walau posisinya sudah berbeda."

Bagas melangkah maju dengan enggan. Baginya, kamera adalah mesin pencatat kehilangan yang paling kejam. Susunan barisan itu telah cacat secara permanen. Ada kekosongan yang menganga di sisi kirinya, sebuah ruang hampa udara yang tak akan pernah bisa diisi oleh siapa pun.

"Ayo, semuanya lihat ke kamera ya. Agak merapat yang di sebelah kiri Bagas, biar tidak terlalu renggang!" seru fotografer itu dari balik lensa.

"Jangan merapat!" potong Bagas tiba-tiba dengan nada tinggi, membuat seisi ruangan mendadak senyap.

Fotografer itu menurunkan kameranya, bingung. "Ada apa, Mas Bagas?"

Bagas menarik napas dalam-dalam, matanya memanas. "Biarkan ruang di sebelah kiri saya kosong. Jangan ada yang bergeser ke sana. Di situ... di situ harusnya tempat Ibu berdiri."

Suasana ruangan mendadak berubah magis dan penuh haru. Beberapa sepupu perempuan mulai terdengar terisak pelan. Pakde Hardi hanya mengangguk pelan pada sang fotografer, memberi kode untuk melanjutkan tugasnya.

"Baik... siap ya semua. Satu... dua... tiga..." fotografer itu memberi aba-aba.

Lampu kilat menyala memutihkan ruangan selama sepersekian detik. Di dalam kilatan cahaya putih itu, Bagas seperti ditarik paksa kembali ke realitas yang paling jernih sekaligus paling menghancurkan: ini nyata, ibunya telah pergi dan tidak akan pernah kembali ke dalam bingkai digital itu.

Selesai pemotretan, fotografer itu mendekati Bagas dan menunjukkan layar kecil di kameranya. "Mas Bagas, bisa tolong lihat hasilnya sebentar? Apakah pencahayaannya sudah pas?"

Bagas menatap gambar digital tersebut. Di sana, ia melihat dirinya sendiri berdiri tegak dengan kemeja mahal, namun matanya kosong seperti rumah yang ditinggal pergi penghuninya sejak berabad-abad lalu. Tepat di sebelah kirinya, sebuah ruang kosong menganga lebar, menegaskan sebuah kehilangan yang mutlak.

"Sudah, Mas. Sudah bagus," kata Bagas pelan, suaranya nyaris berbisik. "Tolong cetak yang besar, lalu beri bingkai terbaik. Saya akan bayar berapa pun harganya."

"Baik, Mas Bagas. Besok sore saya antar ke rumah," jawab fotografer itu seraya berpamitan.

Bagas berjalan menuju teras rumah, menatap langit senja yang mulai meredup keunguan. Sesi potret itu telah selesai, meninggalkan sebuah potret keluarga yang lengkap secara jumlah di atas kertas, namun sebatang kara di dalam jiwa. Ia telah memenangkan kota, tetapi kehilangan seluruh dunianya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda