Ketukan Tiga Kali dari Balik Dinding

Hayuning Ratri Hapsari | Khoirul Umar
Ketukan Tiga Kali dari Balik Dinding
Ilustrasi manusia sedang menguping dibalik dinding (Gemini Ai)

Aku pindah ke kontrakan itu karena alasan sederhana: murah dan dekat kantor. Bangunannya memang terlihat tua, dengan cat kusam dan beberapa retakan di sudut dinding, tapi menurutku itu wajar untuk rumah lama.

Lingkungannya juga cenderung sepi. Siang hari masih terdengar suara motor lewat dan anak-anak bermain, tapi begitu malam turun, suasananya berubah jadi terlalu sunyi. Awalnya aku justru suka suasana itu. Tenang, tidak berisik, cocok buat istirahat setelah kerja.

Kamar tidurku berada di sisi kanan rumah, berbatasan langsung dengan rumah sebelah. Dindingnya tebal dan terasa dingin kalau disentuh. Di situ aku menaruh kasur tepat menempel ke tembok, supaya ruangan kecil itu terasa lebih lega. Minggu pertama tidak ada kejadian aneh. Aku menjalani rutinitas biasa: pulang kerja, mandi, makan, lalu rebahan sambil main ponsel sampai mengantuk.

Sampai suatu malam, sekitar jam setengah dua belas, ketika lampu sudah kupadamkan dan kamar hanya diterangi cahaya layar ponsel, terdengar suara pelan dari arah dinding di sampingku.

Tok… tok… tok.

Tiga kali. Jelas. Teratur.

Aku langsung berhenti scrolling. Kupikir itu cuma suara kayu memuai atau pipa air. Rumah lama memang sering mengeluarkan bunyi aneh di malam hari. Aku mencoba mengabaikannya dan memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, suara itu terdengar lagi.

Tok… tok… tok.

Pola yang sama. Tiga kali, dengan jeda yang rapi. Kali ini rasanya tidak seperti suara acak. Ada ritme. Seperti… sengaja.

Aku duduk dan menatap dinding dalam gelap. “Paling tetangga,” gumamku mencoba tenang. Rumah sebelah memang berpenghuni, walau aku jarang melihat orangnya. Seorang pria pendiam yang hanya pernah kulihat sekilas.

Malam berikutnya, suara itu muncul lagi di jam yang hampir sama. Kali ini rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku mendekat dan menempelkan telinga ke dinding yang dingin. Saat ketukan ketiga berbunyi, jantungku ikut berdetak mengikuti iramanya.

Iseng, dengan tangan gemetar, aku membalas.

Tok… tok… tok.

Sunyi beberapa detik.

Lalu

Tok… tok… tok.

Balasan.

Napasku tertahan. Balasannya terlalu cepat untuk kebetulan. Seolah ada yang memang menunggu.

Sejak malam itu, ketukan tiga kali menjadi rutinitas yang aneh. Selalu muncul menjelang tengah malam. Selalu tiga kali. Tidak pernah dua, tidak pernah empat. Aku pernah mencoba mengetuk dua kali, tidak ada jawaban. Begitu aku kembali mengetuk tiga kali, balasan itu datang lagi. Seolah angka itu satu-satunya cara komunikasi.

Rasa takut mulai tumbuh pelan-pelan. Setiap malam aku seperti menunggu suara itu datang. Ada rasa tegang yang sulit dijelaskan. Kadang aku merasa bodoh sendiri karena takut pada sesuatu yang belum tentu apa-apa. Tapi di sisi lain, ada bagian dari diriku yang merasa ini bukan hal biasa.

Suatu malam, saat aku menempelkan telinga ke dinding, aku mendengar sesuatu selain ketukan. Seperti suara napas pelan. Berat. Terseret. Bukan dari jauh, tapi tepat di balik tembok itu. Aku langsung menjauh dan menyalakan lampu. Suara itu hilang seketika.

Besok paginya, dengan sisa rasa penasaran dan sedikit keberanian, aku mencoba mendatangi rumah sebelah. Pintu depannya tertutup, tapi terlihat tidak pernah dibersihkan. Catnya mengelupas lebih parah dari rumahku. Aku mengetuk beberapa kali, tidak ada jawaban. Anehnya, saat kuputar gagangnya, pintu itu terbuka.

Bagian dalamnya kosong.

Tidak ada furnitur. Tidak ada tanda-tanda orang tinggal. Lantai berdebu, sudut ruangan dipenuhi sarang laba-laba. Bau lembap langsung menyergap hidungku. Rumah itu jelas sudah lama tidak dihuni.

Tubuhku terasa dingin. Kalau rumah ini kosong… lalu siapa yang mengetuk?

Aku melangkah masuk, mencari ruangan yang berbatasan langsung dengan kamarku. Saat menemukannya, aku melihat retakan besar di dinding yang sama posisinya dengan dinding kamarku. Catnya terkelupas dan ada bekas seperti tekanan dari dalam.

Tiba-tiba

Tok… tok… tok.

Suara itu terdengar lagi.

Bukan dari kamarku. Bukan dari luar.

Tapi dari dalam dinding itu sendiri.

Seperti ada ruang sempit tersembunyi di antara dua tembok.

Aku mundur perlahan, napas terasa berat. Lalu terdengar suara gesekan, seperti kuku yang diseret di permukaan keras. Retakan itu tampak sedikit bergetar. Debu halus jatuh pelan dari celahnya.

Dan sekali lagi

Tok… tok… tok.

Kali ini lebih dekat. Lebih jelas.

Aku tidak menunggu lebih lama. Aku berlari keluar rumah, hampir tersandung di ambang pintu. Malam itu aku tidak kembali. Aku menginap di tempat teman dengan alasan listrik kontrakan bermasalah.

Keesokan harinya, aku datang hanya untuk mengambil barang-barang penting. Saat membereskan kasur yang menempel ke dinding, aku melihat sesuatu yang membuatku merinding. Di permukaan tembok kamarku, tepat di sisi dalam, ada tiga tonjolan kecil. Seperti bekas dorongan dari dalam tembok, bukan dari sisi kamarku.

Seolah ada sesuatu yang mencoba mengetuk dari ruang yang terperangkap di antara dua dinding.

Aku pindah hari itu juga tanpa banyak penjelasan. Pemilik kontrakan tidak banyak bertanya, hanya terlihat gelisah saat aku menyebut dinding yang retak. Beberapa minggu kemudian aku dengar rumah itu direnovasi karena ada kerusakan di bagian tembok samping. Katanya, saat dibongkar, ada rongga sempit yang tidak tercatat di denah bangunan lama. Tapi tidak ada yang mau menjelaskan lebih jauh.

Sampai sekarang, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang mengetuk dari balik dinding itu. Kadang aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi, suara pipa, atau hal teknis lain yang kebetulan terdengar seperti pola.

Namun sesekali, ketika malam terlalu sunyi dan aku hampir tertidur, aku seperti mendengar gema samar di kepalaku.

Tok… tok… tok.

Tiga kali.

Selalu tiga kali.

Dan setiap kali itu terjadi, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah sesuatu masih sabar menunggu balasan. Dari balik dinding mana pun aku berada sekarang.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak