Cerita Misteri

Misteri Inkubator Tujuh: Sisi Gelap Ruang Perinatologi

Misteri Inkubator Tujuh: Sisi Gelap Ruang Perinatologi
Ilustrasi Rani penasaran lantas kaget saat melihat semuanya. (Foto : Gemini AI)

Tangisan itu muncul pukul dua lewat tujuh belas menit. Suaranya tipis, panjang, dan melengking seperti sesuatu yang dipaksa hidup terlalu lama di ruangan dingin. Rani menghentikan langkah di depan ruang perinatologi sambil menahan napas tanpa sadar. Lorong rumah sakit malam itu remang dengan lampu kuning pucat yang berkedip malas di langit-langit. Bau alkohol, cairan antiseptik, dan susu basi bercampur menjadi aroma yang membuat tenggorokan terasa pahit.

Deretan inkubator di ruangan itu tampak mati dan terselimuti tirai putih kusam. Hanya inkubator nomor tujuh di ujung ruangan yang tirainya sudah tersingkap, menampilkan permukaan kaca yang dipenuhi embun tipis. Dua malam sebelumnya, seorang bayi prematur perempuan meninggal di sana setelah operasi sesar darurat yang gagal menyelamatkan ibunya. Rani masih ingat darah yang menempel di sarung tangannya saat membantu membereskan sisa instrumen operasi yang bersimbah darah hingga subuh. Bau amis ruang bedah itu terus tertinggal di hidungnya bahkan setelah ia mencuci tangan berkali-kali.

Namun ada satu hal lain yang selalu membuat Rani tidak nyaman tentang inkubator nomor tujuh. Sejak pertama kali bekerja di ruang perinatologi tiga tahun lalu, inkubator itu hampir tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada bayi tanpa keluarga jelas yang dipindahkan ke sana tengah malam oleh Dokter Dimas, lalu menghilang beberapa hari kemudian tanpa banyak pertanyaan dari staf lain. Beberapa perawat senior bahkan diam-diam menyebut inkubator itu sebagai “lemari titipan,” tempat bayi-bayi yang tidak akan pernah tercatat pulang. Rani dulu mengira itu cuma cara orang rumah sakit bercanda untuk bertahan dari shift malam yang terlalu panjang.

“Dengar juga?”

Suara Dokter Dimas membuat Rani menoleh cepat. Lelaki itu berdiri di belakang sambil membawa map pasien dengan jas yang berbau samar asap rokok. Wajahnya tampak tenang, tetapi otot rahangnya menegang seperti orang yang terlalu lama menahan emosi. Ketika tangisan itu kembali terdengar dari dalam ruang perinatologi, mata Dimas bergerak singkat ke arah inkubator nomor tujuh. Ia membuka pintu ruangan dan mempersilakan Rani masuk sambil mengatakan mungkin suara itu berasal dari ICU lantai bawah.

Rani melangkah melewati deretan inkubator kosong dengan pelan. Lampu putih di dalam ruangan membuat kulit semua benda terlihat pucat seperti mayat yang terlalu lama disimpan di lemari pendingin. Saat ia mendekati inkubator nomor tujuh, suara tangisan itu terasa semakin dekat dari balik kaca berembun. Dimas mencengkeram pergelangan tangan Rani terlalu erat hingga map pasien di tangan kirinya sedikit bergetar. Secarik kertas menyembul dari sela map, memperlihatkan cap merah bertuliskan DONOR sebelum Dimas menyembunyikannya kembali dengan sekali sentakan tak bersuara.

“Jangan dibuka,” katanya.

Nada suaranya datar, tetapi napasnya terdengar lebih berat dari sebelumnya. Rani hendak bertanya ketika seluruh listrik rumah sakit tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam gelap lembap yang membuat suara napas terasa terlalu dekat di telinga. Dari dalam inkubator nomor tujuh muncul bunyi kuku kecil menggaruk kaca dengan ritme lambat dan teratur. Dimas berdiri diam di samping Rani, sementara dari luar ruangan terdengar langkah tergesa seseorang mendekat sambil membawa senter besar.

Pak Harun muncul di ambang pintu tepat ketika generator menyala kembali. Cahaya senternya bergetar liar di atas kaca inkubator nomor tujuh, sementara tasbih kecil di tangannya beradu cepat. “Sudah mulai lagi...” bisiknya dengan bibir pucat.

“Diam, Harun!” bentak Dimas tanpa mengalihkan mata dari inkubator. Namun lelaki tua itu justru menggeleng panik sambil mundur setengah langkah.

“Dok, cukup saya tidak mau ikut campur lagi,” katanya terbata. “Setahun lalu saya cuma dibayar buat kunci pintu belakang dan hapus CCTV malam itu. Saya tidak tahu bayi-bayi tanpa nama yang dibawa ke inkubator tujuh bakal tetap ada di sini.” Kalimat terakhirnya nyaris terdengar seperti gumaman orang linglung. Pak Harun menatap inkubator nomor tujuh dengan mata merah dan wajah pucat, seolah benda itu bukan alat medis lagi, melainkan lubang yang menyimpan sesuatu hidup di dalamnya.

Suara retakan keras terdengar dari lampu di atas meja kerja Dokter Dimas. Pecahan kaca menghantam laci meja hingga terbuka beberapa sentimeter. Dimas bergerak cepat menutupnya, tetapi Rani sudah lebih dulu melihat map-map usang yang terikat karet gelang kecokelatan di dalam sana. Salah satu map tersebut terbuka sedikit, tampak formulir donor organ bayi dengan cap rumah sakit yang nyaris pudar. Bau kertas lembap bercampur antiseptik tiba-tiba membuat perut Rani terasa mual.

Di bawah cahaya senter Pak Harun, Rani melihat lembar demi lembar formulir persetujuan dengan tanda tangan yang tampak dipalsukan. Ada daftar kode organ, berat tubuh bayi, dan catatan medis yang diberi garis merah. Beberapa nama ditulis tanpa identitas keluarga dengan tulisan kecil di sampingnya: ANAK DONOR. Di bagian belakang map, Rani melihat daftar nomor inkubator yang dipakai untuk “penyimpanan sementara.” Nomor tujuh muncul berulang kali selama bertahun-tahun. Dimas tidak membela diri. Lelaki itu menurunkan mapnya perlahan, mencoba bersikap tenang dengan tatapan dingin orang yang tahu bahwa topengnya telah lepas.

Suara retakan kecil membuat mereka menoleh bersamaan ke arah inkubator nomor tujuh. Embun di kaca bagian dalam perlahan membentuk sidik telapak tangan mungil yang bergerak turun. Pak Harun mulai menangis sambil komat-kamit membaca doa yang tercekat di tenggorokan. Ketika tangisan itu berubah semakin tinggi, lampu-lampu di langit-langit pecah satu demi satu. Serpihan kaca jatuh ke lantai seperti hujan es kecil yang memantul di ubin putih.

Di dalam inkubator kini ada bayi kecil dengan kulit kebiruan dan mata terbuka lebar. Mulutnya bergerak tanpa suara, sementara cairan menyerupai ketuban hitam menetes dari sudut bibirnya ke bantalan inkubator. Kepalanya perlahan menoleh ke arah Dimas seperti mengenali seseorang yang akrab. Pak Harun mundur sambil tersandung kursi kecil hingga jatuh keras ke lantai. Pada detik berikutnya, listrik kembali mati dan seluruh ruangan tenggelam dalam cahaya merah redup dari lampu darurat.

Dari bawah inkubator terdengar bunyi basah seperti sesuatu merangkak cepat di lantai. Suara itu bergerak memutari kaki mereka sambil diselingi kekehan kecil yang patah-patah. Rani menahan napas ketika sesuatu yang dingin menyentuh ujung sepatunya sebelum bergerak menjauh. Dalam gelap itu, Pak Harun menangis keras sementara Dimas justru mengeluarkan tawa pendek yang membuat tengkuk Rani terasa dingin. Bau anyir bercampur antiseptik memenuhi ruangan hingga dadanya terasa sesak.

Ketika generator menyala kembali beberapa detik kemudian, inkubator nomor tujuh sudah kosong. Hanya ada bekas cairan hitam mengilap di lantai seperti ketuban yang tertinggal setelah sesuatu merangkak keluar. Di tengah cairan itu tergeletak gelang identitas putih yang lolos dari sela pintu inkubator. Rani memungutnya sambil merasakan dingin menjalar sampai siku. Di atas garis nama orang tua, tertulis tinta hitam yang masih basah: By. Ny. Rani.

Jantung Rani berdegup liar. Itu tulisan tangan Dimas. Tulisan meliuk yang sama pada resume medis setahun lalu saat Dimas menyatakan janinnya mati di dalam kandungan setelah ia pingsan ketika menjalani shift malam. Rani refleks menyentuh perut bawahnya. Bekas luka operasi kecil yang dulu disebut Dimas sebagai prosedur kuretase mendadak terasa ngilu dan panas seperti baru saja disayat ulang. Sesuatu dari dalam dirinya ternyata tidak pernah dibuang, melainkan dipindahkan ke inkubator nomor tujuh bersama bayi-bayi lain yang tidak pernah pulang.

Dimas melangkah mendekat sambil menambahkan serpihan pecahan kaca kecil di lengannya dengan tenang. Ia menutup laci meja kerja perlahan seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi di ruangan itu. “Kalau kamu lapor,” katanya lirih, “orang akan mengira perawat shift malam yang kelelahan sedang berhalusinasi.” Matanya lalu melirik ke arah lorong gelap tempat suara tawa bayi tadi menghilang. “Lagipula, Rani… dia tahu siapa saja yang tidak boleh keluar dari ruangan ini hidup-hidup.”

Rani meraba saku seragamnya dengan napas pendek, berniat mencari pertolongan. Kosong. Ia mendongak dan mendapati Dimas sedang memasukkan benda pipih hitam ke dalam saku jasnya sendiri, ponselnya, yang rupanya telah direnggut diam-diam saat lelaki itu mencengkeram pergelangan tangannya dalam gelap tadi. Pak Harun masih terduduk di sudut ruangan dengan mata merah dan mulut gemetar tanpa suara. Saat Rani mundur satu langkah, pintu di belakangnya berderit terbuka sendiri. Kekehan bayi itu muncul tepat di belakang tengkuknya, basah dan pendek seperti suara mulut kecil yang dipenuhi cairan ketuban. Di depannya, Dimas perlahan memutar kunci pintu ruang perinatologi, sementara sesuatu yang dingin mulai merayap menyentuh tumit kaki Rani dari kegelapan lorong.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda