Cerita Misteri
Jam Berdenting dan Suara Nyanyian
Sudah lama Bunga dan Syifa merencanakan untuk liburan bersama. Hari ini mereka baru saja kembali dari mendaki gunung yang ada di kota Malang. Sebelum melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, Bunga mengajak Syifa untuk mengunjungi pamannya yang berada di kota Malang. Mereka juga berniat untuk menginap satu malam di sana.
"Bung, ini benar jalan menuju rumah pamanmu?" tanya Syifa yang terheran karena hanya melihat pepohonan di kanan kiri jalan.
"Iya, Fa. Memang pamanku tinggal agak jauh dari kota, dia bilang lebih suka suasana desa yang sepi dan asri," kata Bunga.
"Apa masih jauh rumah pamanmu dari sini?" tanya Syifa lagi.
"Tidak. Sekitar 20 menit lagi kita sampai setelah melewati perkebunan karet ini," kata Bunga.
Syifa hanya merespon dengan anggukan. Setelahnya Bunga kembali fokus mengendarai motor yang dibawanya dan Syifa menikmati pemandangan kebun karet di sekelilingnya.
***
Laju motor semakin melambat dan tepat di sebuah rumah tradisional khas jawa, Bunga menghentikan kendaraannya. Terlihat ada seorang pria dewasa yang sudah berdiri menunggu di depan rumah.
"Ayo Fa," ajak Bunga ke Syifa untuk menghampiri pamannya.
Bunga langsung mencium tangan pamannya yang kemudian diikuti Syifa dengan menyalami tangan paman Bunga.
"Ini temanku Syifa yang aku bilang kemarin," kata Bunga ke pamannya. "Dan Syifa ini kenalkan pamanku Pak Jatmo yang rumahnya mau kita inapi hari ini," lanjut Bunga ke Syifa.
"Salam kenal pak, saya Syifa teman Bunga. Saya izin menginap disini pak," kata Syifa.
"Saya senang kalau ada saudara atau keponakan yang berkunjung. Semoga nyaman beristirahat disini," kata Pak Jatmo.
"Sudah ayo cepat masuk. Sebentar lagi mau petang sebaiknya kalian mandi dan bersiap untuk makan malam," lanjut Pak Jatmo.
"Baik paman," jawab Bunga.
Mereka masuk ke dalam rumah. Syifa merasa takjud melihat interior rumah paman Bunga. Banyak koleksi barang kuno yang dipajang di setiap sudut rumah. Namun perhatiannya teralihkan pada sebuah jam tua yang masih berdiri kokoh di sudut ruang makan. Tiba-tiba rasa tidak nyaman dirasa Syifa setelah memperhatikan jam tua itu. Buru-buru Syifa menyusul Bunga yang berjalan di depannya.
"Ini kamar kita malam ini. Aku pasti selalu tidur di kamar ini kalau datang berkunjung," kata Bunga.
"Bagus dan terlihat nyaman kamarnya. Tapi kenapa kamu pilih kamar yang paling jauh Bung?" tanya Syifa.
"Aku suka dengan pemandangannya kalau pagi hari dan juga tidak berisik. Kamu lihat jam tua di sudut ruang makan. Setiap jam itu berdenting, pamanku akan mulai bernyanyi, jadi kamu jangan kaget kalau mendengar suara nyanyian," kata Bunga.
"Dan jangan keluar dari kamar setelah makan malam karena pamanku tidak suka kalau ada orang yang menggangu waktunya bernyanyi," lanjut Bunga.
"Iya Bung. Aku akan berusaha menjadi tamu yang baik yang menghormati tuan rumah," kata Syifa.
"Kalau begitu kamu mandi dulu aku mau minta handuk ke pamanku, nanti aku kasih handuknya ke kamu kalau sudah dapat," kata Bunga.
Setelah kepergian Bunga rasa tidak nyaman itu tiba-tiba muncul lagi. Syifa bergegas masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa aneh yang dirasa dan melanjutkan aktivitasnya untuk mandi.
***
Tepat jam 8 malam, Bunga dan Syifa sudah kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan malam bersama paman Bunga.
"Ada yang kamu perlu lagi Fa?" tanya Bunga.
"Kita tidak boleh keluar setelah ini," lanjut Bunga.
"Tidak Bung. Aku lelah sekali sepertinya aku mau istirahat saja," kata Syifa.
"Oke. Kalau begitu kita istirahat saja," kata Bunga.
Setelah percakapan itu, Bunga dan Syifa langsung tertidur lelap. Di tengah malam Syifa terbangun karena merasa haus. Syifa kaget mendengar suara nyanyian. Namun setelah kesadarannya mulai terkumpul ia teringat akan perkataan Bunga sebelumnya.
Rasa haus yang tak tertahan membuat Syifa harus melanggar perkataan Bunga. Setiap langkah Syifa makin dekat ke dapur, suara nyanyian itu semakin terdengar jelas. Saat sampai di dekat ruang makan, Syifa dikagetkan dengan bayangan paman Bunga dengan sesosok perempuan.
"Siapa perempuan itu?" tanya Syifa pada dirinya.
Syifa ingat Bunga pernah mengatakan kalau pamannya tinggal seorang diri tapi siapa sosok perempuan yang sedang bernyanyi bersama paman Bunga. Menyadari ada hal yang tidak wajar, Syifa bergegas lari kembali ke kamar Bunga.
***
Pagi sekali mereka sudah bersiap untuk pamit. Terlihat paman Bunga yang berdiri menunggu kepergian keponakannya.
"Aku pergi dulu paman. Lain kali aku berkunjung lagi," kata Bunga sambil pamit mencium tangan pamannya.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya menginap di rumah bapak," kata Syifa sambil bersalaman dengan Pak Jatmo.
"Sama-sama," kata Pak Jatmo dengan senyum yang terlihat aneh di mata Syifa.
Setelah itu mereka mulai pergi dengan kendaraan motornya. Di tengah perjalanan Syifa memulai percakapan dengan Bunga.
"Bung semalam aku haus dan memutuskan untuk mengambil air, tapi aku...," kata Syifa yang langsung di potong Bunga.
"Sudah diam. Simpan untuk dirimu dan jangan cerita ke siapapun," kata Bunga.