Cerita Misteri

Rumah Nomor 17 yang Tidak Pernah Ada

Rumah Nomor 17 yang Tidak Pernah Ada
Ilustrasi Rumah Misteri Nomor 17 (AI)

Hujan turun tanpa jeda sejak sore itu. Jalanan Kampung Sukamaju yang biasanya ramai kini hanya menyisakan suara rintik air yang menghantam atap seng dan dedaunan. Langit tampak gelap meski jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Arga, seorang jurnalis muda, baru saja pulang dari liputan ketika motornya mogok di dekat sebuah gang tua yang belum pernah ia lewati sebelumnya. Ia menuntun motornya perlahan sambil mencari tempat berteduh.

Di ujung gang itu, ia melihat sebuah rumah tua bercat putih kusam. Lampunya menyala redup. Di pagar besinya tergantung papan kecil bertuliskan angka 17. "Untung ada rumah," gumam Arga. Ia mengetuk pagar.

Seorang wanita tua membuka pintu. Rambutnya memutih, tetapi wajahnya terlihat begitu tenang. "Masuklah. Hujannya belum akan reda," katanya pelan. Arga mengucapkan terima kasih dan duduk di ruang tamu yang dipenuhi perabotan kuno. Anehnya, jam dinding di rumah itu berhenti tepat di angka 00.00.

"Jamnya rusak?" tanya Arga.

Wanita itu hanya tersenyum. "Di rumah ini, waktu memang tidak berjalan."

Jawaban itu terdengar seperti candaan, tetapi ekspresi wanita tersebut sama sekali tidak menunjukkan gurauan. Tak lama kemudian, wanita itu menyuguhkan teh hangat. "Jangan melihat keluar jendela setelah pukul dua belas malam," pesannya. Arga mengangguk meski merasa aneh.

Sekitar pukul sebelas malam, hujan semakin deras. Sinyal ponselnya hilang. Tidak ada jaringan sama sekali. Karena bosan, ia berjalan mengelilingi rumah. Di lorong belakang terdapat banyak foto hitam putih yang dipajang rapi. Semua memperlihatkan orang-orang berbeda dari berbagai zaman. Yang membuat Arga merinding, setiap foto diambil di depan rumah yang sama—Rumah Nomor 17. Ada foto seorang tentara berpakaian zaman penjajahan. Ada pula seorang dokter, seorang guru, hingga seorang anak kecil. Semua tersenyum. Namun di sudut kanan bawah setiap foto terdapat tulisan tangan. "Mereka datang saat hujan." Arga mulai merasa tidak nyaman.

Menjelang tengah malam, listrik tiba-tiba padam. Rumah hanya diterangi cahaya lilin. Saat jam menunjukkan pukul dua belas tepat, terdengar suara langkah kaki dari luar.

Tok... Tok... Tok...

Arga spontan mendekati jendela. Ia teringat pesan wanita tua itu, tetapi rasa penasaran lebih besar. Perlahan ia membuka sedikit tirai. Gang yang tadi kosong kini dipenuhi puluhan orang berdiri diam. Mereka mengenakan pakaian dari berbagai zaman. Ada yang memakai seragam sekolah tahun 1980-an. Ada yang mengenakan pakaian kolonial. Ada pula pria dengan jas modern. Mereka semua memandang ke arah rumah. Tidak ada satu pun yang berkedip. Tiba-tiba seluruh kepala mereka menoleh bersamaan ke arah jendela. Tatapan mereka tepat mengenai Arga. Lampu lilin padam. Ruangan menjadi gelap.

Saat Arga menyalakan senter ponselnya, wanita tua itu sudah berdiri tepat di belakangnya. "Kau melanggar satu-satunya aturan." Suara wanita itu terdengar jauh lebih berat.

"Siapa mereka?"

"Mereka adalah orang-orang yang pernah datang ke sini... dan memilih melihat keluar."

Arga menelan ludah. "Mereka tidak bisa pulang?"

Wanita tua itu menggeleng. "Rumah ini hanya muncul bagi mereka yang tersesat."

"Tersesat di jalan?"

"Tidak. Tersesat dalam hidup." Jawaban itu membuat bulu kuduk Arga berdiri.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu depan. Brak! Brak! Brak! Suara itu semakin kuat. Pintu bergetar. Jendela ikut berderak. Wanita tua itu memejamkan mata. "Mereka datang menjemput."

"Siapa?"

"Mereka yang melihatmu."

Arga panik. "Apa yang harus saya lakukan?"

"Jangan buka pintu."

Namun suara ketukan berubah menjadi suara ibunya. "Arga... buka pintunya." Lalu berubah menjadi suara sahabatnya. "Arg... cepat." Kemudian suara ayahnya yang telah meninggal bertahun-tahun. "Anakku..."

Air mata Arga hampir jatuh. Ia sangat merindukan ayahnya. Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu.

"Tidak!" teriak wanita tua.

Tetapi suara di luar terdengar begitu nyata. "Ini Ayah..."

Tanpa berpikir panjang, Arga membuka pintu. Yang ia lihat bukan ayahnya. Melainkan puluhan wajah pucat tanpa mata. Mereka tersenyum lebar. Lalu semuanya menghilang bersama kabut putih.

Arga pingsan. Saat membuka mata, matahari sudah bersinar. Ia berada di pinggir jalan. Motor yang semalam mogok kini berdiri normal. Tidak ada gang. Tidak ada rumah. Tidak ada Nomor 17. Seolah semuanya hanya mimpi.

Beberapa hari kemudian, Arga kembali bersama warga setempat. "Ada rumah nomor 17 di sini?" tanyanya. Semua warga saling berpandangan. Seorang kakek menjawab, "Di kampung ini tidak pernah ada rumah nomor 17. Nomor rumah kami langsung dari 16 ke 18 sejak puluhan tahun lalu."

Arga terdiam. Ia yakin tidak sedang bermimpi. Ia masih menyimpan cangkir teh tua yang tanpa sadar terbawa di tasnya malam itu. Namun ketika diperlihatkan kepada warga, tak seorang pun dapat melihat cangkir tersebut. Di mata mereka, tas Arga kosong.

Bertahun-tahun kemudian, Arga menulis sebuah buku berjudul Rumah Nomor 17 yang Tidak Pernah Ada. Banyak pembaca menganggapnya hanya cerita fiksi. Tak ada yang percaya kisah itu benar-benar terjadi.

Suatu malam, seorang remaja membaca buku tersebut hingga selesai. Karena penasaran, ia mencari gang yang diceritakan di dalamnya. Saat hujan turun deras, ia menemukan sebuah rumah tua dengan lampu redup. Di pagar besinya tergantung papan kecil. 17.

Seorang wanita tua membuka pintu sambil tersenyum. "Masuklah. Hujannya belum akan reda."

Di ruang tamu, sebuah foto baru tergantung di dinding. Foto itu memperlihatkan seorang pria membawa kamera. Di sudut bawah foto tertulis satu nama. Arga. Dan di samping foto itu, masih tersedia satu bingkai kosong. Seolah rumah itu sedang menunggu tamu berikutnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda