Sinopsis Teman Tegar Maira: Whisper from Papua, Film yang Sarat Makna

Hayuning Ratri Hapsari | Yas Julia
Sinopsis Teman Tegar Maira: Whisper from Papua, Film yang Sarat Makna
Film Teman Tegar Maira (Instagram/film_tegar)

Setelah sukses menyentuh emosi penonton lewat film Tegar pada 2022, rumah produksi Aksa Bumi Langit kembali melanjutkan semesta kisah inspiratif ini melalui film sekuel berjudul Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tak sekadar menjadi lanjutan cerita, film ini hadir dengan pendekatan yang lebih puitis, reflektif, dan sarat pesan kemanusiaan serta kepedulian terhadap alam.

Disutradarai oleh Anggi Frisca, film ini menggabungkan drama keluarga, isu lingkungan, dan persahabatan anak-anak dalam balutan lanskap alam Papua yang memukau, sekaligus menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan.

Sinopsis Teman Tegar Maira 

Cerita film ini berpusat pada pertemuan dua anak dari latar belakang yang sangat berbeda. Di tengah kabut pegunungan Papua yang sunyi dan sakral, hiduplah Maira, seorang gadis remaja berusia 12 tahun yang tumbuh menyatu dengan alam. Bagi Maira, hutan bukan hanya tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan, ruang bermain, sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga dengan sepenuh hati.

Kehidupan Maira yang sederhana namun sarat makna mulai berubah ketika ia bertemu dengan Tegar, bocah 11 tahun penyandang disabilitas fisik yang datang dari kota. Kehadiran Tegar di Papua bukan tanpa alasan. Ia menyimpan rasa ingin tahu besar tentang hutan, burung cendrawasih, dan cerita-cerita tentang tanah Papua yang selama ini hanya ia dengar dari sang kakek. Pertemuan ini menjadi awal perjalanan emosional yang perlahan mengubah cara pandang keduanya terhadap dunia.

Rasa ingin tahu terhadap burung cendrawasih membawa Maira dan Tegar menjelajahi hutan Papua yang luas dan penuh misteri. Namun, keindahan alam tersebut ternyata berada di ambang ancaman. Sejumlah pengusaha datang dengan ambisi besar untuk menguasai hutan, mengabaikan nilai-nilai budaya dan keberlangsungan hidup masyarakat setempat.

Di sinilah konflik utama film berkembang. Maira, yang sejak kecil diajarkan untuk menjaga hutan sebagai bagian dari jati dirinya, harus berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Sementara itu, Tegar yang awalnya hanya ingin mengenal alam, perlahan belajar bahwa hutan bukan sekadar pemandangan indah, melainkan rumah bagi banyak kehidupan.

Bersama-sama, Maira dan Tegar berusaha mempertahankan hak-hak hutan dengan cara mereka sendiri. Tanpa kekerasan, tanpa heroisme berlebihan, film ini menampilkan perjuangan anak-anak melalui keberanian, ketulusan, dan kepercayaan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Persahabatan, Musik, dan Dongeng Alam

Salah satu kekuatan utama Teman Tegar Maira: Whisper from Papua terletak pada pendekatannya yang lembut dan penuh rasa. Film ini memadukan musik, dongeng, dan visual alam Papua yang menakjubkan untuk menyampaikan pesan cerita. Alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga “tokoh” yang bersuara, berbisik, dan mengingatkan manusia akan tanggung jawabnya.

Karakter Maira digambarkan sebagai simbol keteguhan dan suara alam yang sering kali tak terdengar. Sementara Tegar hadir sebagai representasi anak yang belajar memahami dunia di luar keterbatasannya. Persahabatan mereka menjadi jembatan antara dua dunia, kota dan hutan, modernitas dan tradisi, manusia dan alam.

Deretan Pemain dan Jadwal Tayang 

Film ini dibintangi oleh M. Aldifi Tegarajasa sebagai Tegar, Elisabet Sisauta sebagai Maira, serta Joan Wakum sebagai Teh Isy. Akting para pemain anak yang natural menjadi salah satu kekuatan emosional film ini, membuat kisahnya terasa jujur dan membumi.

Kabar baiknya film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua dipastikan akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada Kamis, 5 Februari 2026.

Lebih dari sekadar tontonan keluarga, Teman Tegar Maira: Whisper from Papua mengajak penonton untuk merenung tentang arti persahabatan, keberanian, dan pentingnya menjaga alam. Film ini menjadi pengingat bahwa suara-suara kecil, termasuk suara anak-anak dan alam, memiliki kekuatan besar jika didengar.

Dengan narasi yang hangat dan visual yang memanjakan mata, film ini berpotensi kembali menyentuh hati penonton, sekaligus membuka ruang dialog tentang masa depan hutan Papua dan generasi yang akan mewarisinya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak