Disorot soal Kontribusi LPDP, Tasya Kamila Minta Maaf dan Bahas Pajak

Hayuning Ratri Hapsari | Natasya Regina
Disorot soal Kontribusi LPDP, Tasya Kamila Minta Maaf dan Bahas Pajak
Tasya Kamila (Instagram/tasyakamila)

Nama Tasya Kamila kembali menjadi perbincangan publik setelah unggahannya mengenai laporan kontribusi sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP menuai pro dan kontra di media sosial.

Perdebatan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap isu akuntabilitas dan dampak nyata para penerima beasiswa negara.

Sebelumnya, isu seputar LPDP ramai dibicarakan usai salah satu alumni, Dwi Sasetyaningtyas, viral karena pernyataannya yang dinilai kontroversial.

Dalam konteks tersebut, Tasya Kamila ikut terseret ke dalam diskusi publik setelah membagikan sejumlah kontribusi yang ia lakukan pasca menyelesaikan studi.

Melalui akun Instagram pribadinya, Tasya memaparkan berbagai kegiatan yang ia jalani sebagai bentuk pengabdian kepada Indonesia.

Namun, unggahan itu justru memantik kritik dari sebagian warganet yang menilai kontribusinya tidak sebanding dengan besarnya dana beasiswa yang dikeluarkan negara.

Kritik Warganet soal Dampak Kontribusi

Salah satu komentar datang dari akun @houseofvya yang mempertanyakan skala dampak kegiatan Tasya.

Komentar tersebut menyebut kontribusi yang ditampilkan lebih menyerupai program organisasi kampus, kegiatan CSR perusahaan, atau aktivitas komunitas warga, alih-alih dampak strategis dari lulusan pendidikan luar negeri bergengsi.

Komentar itu pun langsung ditanggapi Tasya Kamila. Ia membuka balasannya dengan permohonan maaf karena merasa belum mampu memenuhi ekspektasi semua pihak sebagai penerima beasiswa LPDP.

"Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan. Tapi aku sadar memang aku enggak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang," tulis Tasya dalam kolom komentar pada Selasa (24/2/2026).

Gerakan Akar Rumput dan Latar Akademik

Perempuan berusia 33 tahun ini juga mengaku sedih karena salah satu fokus kontribusinya, yakni gerakan akar rumput untuk isu lingkungan, dianggap tidak berdampak.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut justru merupakan penerapan langsung dari ilmu yang ia peroleh selama menempuh pendidikan magister di Columbia University.

"Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan," ujar Tasya Kamila.

Ia menambahkan bahwa pada tahun 2016, isu SDGs menjadi salah satu prioritas nasional sehingga jurusan yang ia ambil termasuk bidang yang diprioritaskan oleh LPDP.

Kolaborasi dan Peran sebagai Penghubung

Menurut Tasya, gerakan lingkungan yang ia jalankan memang dapat dilakukan oleh siapa saja dan justru perlu dikerjakan bersama-sama.

Namun, tetap dibutuhkan pihak yang berperan sebagai inisiator, penggerak, serta penghubung antara masyarakat dan pembuat kebijakan.

"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya," tulisnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran jembatan antara publik dan pembuat kebijakan agar pesan dapat tersampaikan dengan efektif dan tujuan lingkungan bisa tercapai.

"Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud," imbuhnya.

"Dan sebaliknya, dari gerakan akar rumput soal lingkungan yang dibuat ngetrend juga mendorong kebijakan publik pro lingkungan, mendorong demand untuk produk-produk dan praktik bisnis yang pro lingkungan," tuturnya.

Dalam praktiknya, Tasya mengaku tidak bekerja sendirian. Ia berkolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, organisasi nonpemerintah, sekolah, komunitas ibu-ibu PKK, hingga program CSR perusahaan. Salah satu wadah yang ia kelola adalah Green Movement Indonesia.

"Aku enggak bekerja sendirian. Aku berkolaborasi dengan Kementerian dan Lembaga, NGO, sekolah-sekolah, ibu-ibu PKK, termasuk juga CSR perusahaan, untuk membangun dampak yang lebih besar," tegasnya.

Pernyataan soal Pajak Tuai Respons Baru

Di tengah penjelasannya, Tasya juga menyinggung soal kontribusi pajak. Ia menyebut pajak yang disetorkan dari pekerjaannya di industri kreatif sejak lulus kuliah diyakini sudah menutup biaya pendidikannya.

"Kak, kalau mau ngomongin monetary impact, Alhamdulillah dari rezekiku dalam pekerjaanku di industri kreatif juga sudah berkontribusi untuk pajak. Kalau dihitung sejak aku lulus, pajak yang management-ku setorkan Insya Allah udah bisa nutup itu uang sekolahku," ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen untuk terus memberi dampak positif di setiap pekerjaan yang dijalani.

"Insya Allah aku masih ada semangat untuk terus berdampak baik di tiap pekerjaan yang aku jalani. Ini baru sebagian dari perjalananku," tutup Tasya Kamila.

Namun demikian, respons tersebut kembali menuai kritik dari warganet, khususnya terkait pernyataan soal pajak.

Sebagian menilai alasan tersebut justru memperkuat pertanyaan awal tentang urgensi penggunaan dana LPDP untuk pendidikan di universitas Ivy League, sehingga perdebatan di ruang publik pun terus berlanjut. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak