Entertainment
Dituding Pilih-Pilih Endorse, Manajer Kuak Cara Tasya Farasya Terima Kerja
Nama Tasya Farasya kembali menjadi bahan perbincangan publik setelah ia mengungkap bahwa konten populer bertajuk “Halo kakak permisi, boleh spill skincarenya?” yang dibawakan Bunga Sartika merupakan konten berbayar.
Pernyataan tersebut berbuntut panjang dan berujung pada keputusan Bunga Sartika untuk mundur sebagai host. Situasi ini membuat Tasya ikut diseret dalam berbagai tudingan.
Ia dianggap telah mematikan rezeki sesama kreator yang mengandalkan kerja sama endorsement sebagai sumber penghasilan. Kritik pun mengalir deras, terutama di media sosial.
Tuduhan Warganet dan Sindiran soal Endorse
Di tengah polemik, Tasya Farasya menerima beragam komentar sinis dari warganet.
Sebagian pihak meragukan kejujuran konten endorsement yang ia tampilkan, bahkan mempertanyakan kemungkinan Tasya benar-benar menggunakan semua produk yang dipromosikan.
“Lagian belum tentu juga dia pakai beneran karena endorse kan, mana mau sih dia pakai brand lokal?” menjadi salah satu komentar yang dibaca oleh Galih Soedirdjo, manajer Tasya Farasya.
Komentar serupa juga menyebut bahwa endorsement membuat semua produk terlihat bagus.
Ada pula yang menyinggung soal keterbatasan waktu pemakaian produk.
“Dia banyak diendorse sedangkan muka cuma satu. Ya kali produk dipakai seminggu langsung kelihatan aslinya,” ujar komentar lainnya.
Manajer Buka Suara Soal Proses Seleksi Endorse
Menanggapi berbagai asumsi yang berkembang, Galih Soedirdjo akhirnya memberikan klarifikasi melalui akun Threads miliknya.
Ia menjelaskan bahwa Tasya Farasya tidak serta-merta menerima semua tawaran kerja sama yang masuk.
“Fyi: gak semua produk itu kita terima kerja sama dan banyak banget yang udah kita tolak kalo gak cocok,” tulis Galih pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Untuk memperjelas, Galih bahkan membagikan cuplikan percakapan penolakan endorse sebagai bukti.
Dalam salah satu chat, terlihat bahwa Tasya menolak produk yang membuat bibirnya menjadi kering dan mengelupas setelah dicoba.
Produk Dicoba Langsung Sebelum Diputuskan
Galih juga mengungkap bahwa sebelum memberikan keputusan kepada brand, Tasya Farasya dan timnya melakukan uji coba terlebih dahulu. Proses ini dilakukan agar penilaian yang diberikan benar-benar berdasarkan pengalaman nyata.
“Kebetulan kemarin kita coba di dua tim, yang satu agak purging, yang satu nggak terlalu ada efek. Makanya Kak Tasya simpulkan untuk produknya belum cocok,” terang Galih dalam salah satu percakapan penolakan.
Menurut Galih, keputusan tersebut tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya nama brand atau anggaran yang ditawarkan. Baik produk lokal maupun brand besar tetap diperlakukan dengan standar yang sama.
“Walaupun brandnya gede, walaupun budgetnya ada. Kita literally nolak brand kalo produknya gak work di Tasya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kepercayaan audiens menjadi hal utama yang dijaga. “Jadi bukan soal dibayar atau enggak. Karena trust itu lebih mahal dari fee campaign,” pungkas Galih.
Permintaan Maaf Tasya Farasya
Di sisi lain, Tasya Farasya sendiri telah menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya terkait konten yang dibawakan Bunga Sartika. Ia mengakui bahwa cara penyampaiannya kurang bijak sehingga memicu reaksi besar di publik.
“Aku pun respect pada sesama content creator, namun aku juga akan tetap bersikap FIRM dengan seluruh values dan transparansi dalam endorsement yang aku pegang,” tandas Tasya.
Polemik ini sekaligus membuka diskusi lebih luas tentang transparansi endorsement di dunia konten digital, serta batas tipis antara kejujuran, etika promosi, dan cara penyampaian di ruang publik.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS