Entertainment
5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Setiap bulan September, peristiwa 1965 kembali menjadi bagian dari ingatan sejarah Indonesia. Sejarah kelam yang menyangkut tragedi G30S/PKI itu tidak hanya terekam dalam buku sejarah atau sekolah, namun juga menjadi latar kejadian dari beberapa novel.
Sastra juga dapat menjadi cara untuk melihat bagaimana sebuah peristiwa besar memengaruhi kehidupan manusia. Lewat lima novel berlatar sejarah ini, mari kita lihat bagaimana peristiwa G30S/PKI meninggalkan luka, ketakutan, perpisahan, untuk orang-orang yang harus menanggung dampak dari situasi politik pada masa itu.
1. September - Noorca M. Massardi

September karya Noorca M. Massardi mengangkat situasi politik Indonesia di sekitar peristiwa September 1965 melalui kisah Darius, seorang manajer yang diPHK karena perusahaan kecap tempatnya bekerja pailit. Mau tak mau, ia harus mencari pekerjaan baru di tengah gejolak politik saat itu.
Uniknya, latar novel ini menggunakan dekonstruksi peristiwa G30S/PKI yang diubah menjadi G10S karena terjadi pada 10 September alih-alih tanggal 30. Meskipun Massardi mengemas novel ini dengan cerita fiksi, pembaca masih merasakan unsur sejarah yang sangat kental.
2. Pulang - Leila S. Chudori

Pulang karya Leila S. Chudori mengikuti kisah para eksil politik Indonesia yang terpaksa hidup di luar negeri setelah peristiwa 1965. Dimas Suryo dan rekan-rekannya kehilangan kewarganegaraan dan tidak bisa pulang karena dampak tragedi G30S/PKI.
Di Prancis, ia meneruskan hidup dan membuka restoran bernama L'Homard. Cerita berlanjut hingga anaknya yang melakukan riset tentang kejadian kelam tahun 1965 untuk tugas kuliahnya. Selain itu, novel ini juga membahas Segara Alam, yang dibuatkan spin-off oleh Leila S. Chudori di novel Namaku Alam.
3. Namaku Alam - Leila S. Chudori

Setelah Pulang, kamu wajib membaca Namaku Alam, yang membahas kisah dari putra kawan Dimas Suryo, Segara Alam. Sejak kecil, Alam harus hidup dengan stigma yang melekat pada keluarganya akibat sejarah politik sang ayah. Ia bahkan pernah dicap sebagai “anak pengkhianat negara” oleh orang di sekitarnya.
Lewat sudut pandang Alam, novel ini menunjukkan bahwa dampak peristiwa 1965 tidak berhenti pada orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Sejarah tersebut ikut membentuk kehidupan generasi berikutnya, bahkan ketika mereka sendiri tidak terlibat dalam peristiwa tersebut.
4. Gadis Kretek - Ratih Kumala

Dalam Gadis Kretek, Ratih Kumala membawa pembaca mengikuti perjalanan keluarga Soeraja sekaligus sejarah industri kretek di Indonesia. Ketika situasi politik memanas pada 1965, kehidupan keluarga tersebut ikut berubah dan meninggalkan persoalan yang baru terungkap bertahun-tahun kemudian.
Soeraja yang tengah sekarat menyebut-nyebut nama Jeng Yah. Sebagai keinginan terakhirnya, putranya mencari perempuan bernama Jeng Yah itu dan pembaca diajak kilas balik di tahun 1960-an saat keduanya muda dan jatuh cinta. Namun, situasi politik saat itu menjadi penghalang dari hubungan mereka.
5. Jalan Bandungan - Nh. Dini

Jalan Bandungan merupakan novel karya Nh. Dini yang terbit pada 1989. Novel ini menggambarkan perjuangan Muryati pada era pasca peristiwa G30S/PKI. Widodo, suami Muryati, terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut. Akibatnya, suaminya harus ditahan dan kemudian menjalani kehidupan sebagai eks-tapol. Muryati harus membesarkan anak-anaknya sekaligus menghadapi stigma yang ikut melekat pada keluarganya.
Novel Jalan Bandungan ini meng-highlight bagaimana sulitnya kehidupan orang yang berkaitan dengan peristiwa itu. Bahkan, Muryati tidak bisa mendapat pekerjaan dengan ijazahnya karena dianggap identitasnya yang kurang 'bersih'.
Dengan membaca novel-novel tersebut, kita bisa membantu peristiwa G30S/PKI itu tetap hidup dalam ingatan bangsa Indonesia. Mengingat sejarah bukan hanya tentang mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami bagaimana peristiwa tersebut meninggalkan jejak bagi mereka yang mengalaminya.