Entertainment
Nasib Tragis The Transporter: Ditinggal Jason Statham, 2 Aktor Penggantinya Gagal Total!
Ketika mendengar nama The Transporter, ingatan kolektif penonton seluruh dunia langsung tertuju pada mobil mewah, adegan aksi, dan sosok Jason Statham sebagai Frank Martin. Karakter pengemudi profesional yang dingin dan mematikan ini sudah telanjur menyatu erat dengan persona sang aktor.
Padahal, sebelum meledak lewat film laga ikonik ini pada tahun 2002, Statham lebih dikenal sebagai aktor spesialis film kriminal Inggris seperti Lock, Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch. Peran Frank Martin-lah yang secara resmi mengubah karier internasionalnya menjadi ikon laga global paling diperhitungkan, yang kemudian berlanjut sukses lewat sekuel Transporter 2 (2005) dan Transporter 3 (2008) sebagai fondasi utama finansial waralaba tersebut.
Banyak penonton mengira Statham jenuh sehingga meninggalkan peran ini, namun alasan sebenarnya murni masalah bisnis yang merugikan dari pihak studio produksi, EuropaCorp. Saat studio berniat melanjutkan waralaba, mereka menuntut Statham menandatangani kontrak buta untuk tiga film sekaligus tanpa memperlihatkan naskah ataupun skenarionya terlebih dahulu.
Tidak hanya sampai di situ, honor total yang ditawarkan untuk paket tiga film tersebut bahkan jauh lebih rendah daripada standar bayaran yang biasa diterima Statham hanya untuk satu film saja. Sebagai aktor yang realistis, Statham secara tegas menolak karena menilai bahwa mengambil proyek tanpa kejelasan kualitas naskah dengan bayaran murah adalah keputusan bisnis buruk yang berisiko merusak reputasi kariernya.
Pasca-hengkangnya Statham, studio mencoba memindahkan karakter ikonik ini ke layar kaca lewat proyek Transporter: The Series yang mengudara dari tahun 2012 hingga 2014. Chris Vance ditunjuk sebagai Frank Martin baru, didampingi oleh François Berléand yang kembali memerankan tokoh Inspektur Tarconi demi menjaga kesinambungan cerita.
Sayangnya, serial televisi ini gagal total mengembalikan kejayaan waralaba karena hanya mencatat skor audiens yang mengecewakan sebesar 59 persen di situs Rotten Tomatoes. Penonton menilai eksekusi serial ini terlalu malas karena hanya mengeksploitasi adegan kejar-kejaran mobil tanpa pengembangan karakter, hingga akhirnya proyek ini dihentikan paksa setelah berjalan dua musim dengan akhir cerita yang menggantung.
Tidak kapok dengan kegagalan di layar kaca, studio kembali mencoba peruntungan mereka untuk menghidupkan versi bioskop melalui film soft reboot berjudul The Transporter Refueled pada tahun 2015 dengan menggandeng aktor Ed Skrein. Dari segi finansial, film ini memang masih menghasilkan keuntungan komersial dengan meraup sekitar US$72,6 juta dari total anggaran produksi sebesar US$22 juta.
Namun dari segi kualitas, film ini menjadi bencana kritik global setelah dihajar habis-habisan dan hanya mendapatkan skor mengenaskan sebesar 15 persen di Rotten Tomatoes. Pendapatan tersebut juga mencerminkan penurunan drastis jika dibandingkan dengan tren trilogi asli Statham yang selalu naik, di mana film pertama meraup US$43,9 juta, film kedua melesat ke US$89,1 juta, dan film ketiga memuncak di angka US$112,9 juta.
Kegagalan beruntun yang dialami oleh Chris Vance maupun Ed Skrein menjadi bukti konkret atas satu fakta keras bahwa kekuatan utama waralaba ini bukan terletak pada konsep profesi "Transporter"-nya, melainkan pada pesona personal yang dimiliki Jason Statham.
Aktor pengganti mungkin bisa meniru koreografi pertarungan atau mengemudikan mobil sport dengan cepat, tetapi mereka tidak memiliki intensitas emosi, tatapan mata yang dingin, serta karisma maskulin alami yang membuat aturan-aturan kaku Frank Martin terasa hidup.
Pada akhirnya, eksperimen gagal ini membuktikan bahwa mencari aktor baru dengan fisik serupa mungkin mudah, tetapi menggantikan jiwa sejati dari sebuah karakter ikonik adalah hal yang mustahil.