Entertainment
Dianggap Belokkan Sejarah, Tim Produksi Film The Assassin(s) Dipolisikan
Film The Assassin(s) yang dibintangi Lee Min Ho tengah jadi sorotan setelah sutradara dan tim produksinya dilaporkan ke polisi. Film yang rilis pada 23 September 2026 itu dipersoalkan karena dianggap menggambarkan peristiwa penembakan mendiang Ibu Negara Korea Selatan Yuk Young Soo pada 1974 secara berbeda dari versi sejarah yang selama ini dikenal.
Laporan tersebut diajukan Lee Jong Bae, mantan anggota Dewan Kota Seoul, terhadap empat orang yang terlibat dalam produksi film. Di sisi lain, The Assassin(s) justru mendapat respons besar di bioskop dan telah ditonton lebih dari 1,3 juta orang dalam empat hari pertama penayangannya.
Empat orang yang dilaporkan adalah Kim Won Guk selaku CEO Hive Media Corp sekaligus produser film, sutradara Heo Jin Ho, serta penulis skenario Kwon Ki Jun dan Lee Ji Min. Mereka dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik melalui pernyataan yang dianggap tidak benar.
Adegan Film Dipersoalkan
Lee mempermasalahkan sejumlah adegan dalam The Assassin(s) yang menurutnya dapat membuat penonton memiliki dugaan tertentu mengenai keterlibatan pihak-pihak di pemerintahan saat peristiwa tersebut terjadi.
"Adegan-adegan yang menunjukkan keterlibatan lembaga-lembaga kekuasaan disusun secara berurutan untuk mengarahkan penonton agar menganggap bahwa mantan Presiden Park Chung Hee berada di balik kejahatan tersebut atau setidaknya terlibat," kata Lee.
Ia juga menilai penggambaran tersebut berdampak terhadap reputasi keluarga mendiang Yuk Young Soo.
“Pernyataan palsu tentang almarhum telah menurunkan nilai sosial dan reputasi keluarga yang berduka, yang merupakan dakwaan pencemaran nama baik tersendiri terhadap mereka.”
Film yang dirilis pada 23 September 2026 itu memang mengambil peristiwa nyata penembakan Yuk Young Soo pada 15 Agustus 1974 sebagai latar. Saat itu, Yuk tewas tertembak ketika menghadiri upacara peringatan Hari Pembebasan Nasional di Seoul.
Versi penyelidikan yang selama ini dikenal menyebut Mun Se Gwang sebagai pelaku yang berusaha membunuh Park Chung Hee, tetapi tembakannya justru mengenai Yuk. Namun, The Assassin(s) mengangkat sejumlah pertanyaan mengenai asal peluru dan kemungkinan adanya pihak lain di balik peristiwa tersebut.
Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber perdebatan. Lee bahkan menyoroti penggunaan judul The Assassin(s) yang menggunakan bentuk jamak.
“Bahkan judul filmnya pun bukan 'Assassin' tetapi bentuk jamaknya 'Assassin(s),' yang menunjukkan bahwa mungkin ada orang lain selain Mun Se Gwang yang melakukan pembunuhan tersebut," kata Lee.
Tim Produksi Beri Penjelasan
Di tengah kritik tersebut, tim produksi The Assassin(s) membantah bahwa film mereka dibuat untuk menetapkan kesimpulan sejarah baru. Mereka menyebut karya tersebut merupakan film fiksi yang mengambil peristiwa 1974 sebagai motif cerita.
"Ini bukan film yang dibuat untuk menetapkan kesimpulan sejarah baru atau untuk menyangkal atau memutarbalikkan fakta yang ada," kata tim produksi.
"'The Assassin(s)' adalah film fitur yang mengambil peristiwa sejarah dari tahun 1974 sebagai motifnya,” lanjut mereka dalam pernyataan.
Kontroversi tersebut muncul ketika film sebenarnya sedang mendapat sambutan besar di bioskop Korea Selatan. The Assassin(s) sempat memimpin box office selama empat hari berturut-turut dan mengumpulkan lebih dari 1,3 juta penonton.
Namun, setelah enam hari tayang, film tersebut akhirnya turun ke posisi kedua pada 28 September dengan tambahan sekitar 67 ribu penonton. Data 29 September mencatat jumlah kumulatifnya telah mencapai sekitar 1,63 juta penonton.
Sampai saat ini, The Assassin(s) masih diputar di bioskop Korea Selatan di tengah kontroversi yang muncul. Sementara laporan tersebut diproses, tim produksi tetap pada pernyataannya bahwa film ini mengambil peristiwa 1974 sebagai latar cerita, bukan untuk menetapkan kesimpulan sejarah baru.