Health

Mengurangi Rasa Dendam dan Meningkatkan Kesehatan Mental dengan Memaafkan

Mengurangi Rasa Dendam dan Meningkatkan Kesehatan Mental dengan Memaafkan

Kasus kriminal yang terjadi di Indonesia sudah cukup sering terjadi. Jika kita berfokus pada kejahatan terhadap nyawa (pembunuhan) dan kejahatan terhadap badan (kekerasan fisik), tidak jarang motif pelakunya adalah dendam. Bisa diambil contoh salah satunya dalam kasus Novel Baswedan yang mendapatkan penyerangan disiram air keras oleh orang tidak dikenal, dan pelaku berkata bahwa alasannya melakukan tindakan tersebut adalah karena dendam.

Dalam KBBI, dendam diartikan sebagai suatu tindakan yang berkeinginan keras untuk membalas. Perasaan dendam ini timbul, akibat kurangnya memaafkan dalam diri seseorang.

Memaafkan adalah pelepasan perasaan negatif yang terdiri dari perasaan, emosi, dan perilaku terhadap pelaku (Enright et al., 1998).

Penelitian telah menunjukkan bahwa memaafkan dikaitkan dengan beberapa hasil kesehatan mental, termasuk lebih sedikit kecemasan, depresi, dan gangguan kejiwaan utama lainnya (Hirsch et al., 2011; Lin et al., 2004; Ryan dan Kumar, 2005; Toussaint dan Cheadle, 2009 ; Toussaint et al., 2008).

Memaafkan  juga dikaitkan dengan kesehatan fisik yang lebih baik dan keluhan kesehatan fisik yang lebih sedikit (Lawler et al., 2005; Seawell et al., 2014). Dapat dipahami bahwa memaafkan berarti menghapuskan dan melupakan semua perasaan sakit yang ditimbulkan akibat perbuatan orang lain karena adanya motivasi dan keinginan untuk membangun hubungan yang lebih baik.

Memaafkan ini merupakan suatu proses atau gaya coping yang berfokus pada emosi yang dapat membantu orang mengelola pengalaman psikologis dan emosional negatif (yaitu dendam/ tidak memaafkan) yang ditimbulkan oleh konflik dan stres antarpribadi (Strelan dan Covic, 2006; Worthington dan Scherer, 2004).

Dari sini,  memaafkan hanyalah salah satu dari beberapa cara yang dapat digunakan individu untuk mengatasi stress hidupnya, namun, telah diusulkan sebagai salah satu pilihan yang lebih sehat untuk menghadapi kesulitan (Worthington dan Scherer, 2004). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa persepsi stres memediasi secara penuh hubungan antara memaafkan dan gejala kesehatan mental dan fisik (Green et al., 2012). 

Memaafkan tentu memberi dampak yang sangat positif terhadap kontrol perilaku, kesehatan mental dan bahkan dapat mengurangi stress. Hal ini dikarenakan memaafkan merupakan pelepasan emosi-emosi negatif yang ada didalam diri/hati seseorang.

Emosi positif maupun negatif yang mempengaruhi hati seseorang dapat mempengaruhi tindakan dan perilaku serta saat  pengambilan keputusan, proses koginitif lainnya, perasaan bahagia, perasaan sedih, dan bahkan cara seseorang bersikap. Saat seorang mempunyai rasa dendam maka hal itu hanya akan menambah beban untuk dirinya sendiri dan dapat menyebabkan stress karena terlalu banyak pikiran dan perasaan negatif yang ada didalam diri.

Sehingga untuk mengurangi perasaan tersebut, tidak jarang seseorang melakukan tindakan diluar batas untuk melampiaskan dendamnya tersebut. Tetapi, saat seseorang memaafkan maka rasa marah dan tekanan yang mengganggu dan mendominansi emosi  dapat ditekan dan diredakan serta ada perasaan yang lebih tenang  didalam hati.

Hal ini juga dapat membawa efek yang positif untuk menjalani kehidupan dan bisa menjadi lebih bahagia didalam hidup dan perasaan bahagia ini tentunya akan dapat mengurangi stress yang ada didalam diri. Dengan kata lain memaafkan dapat memfasilitasi perilaku yang lebih sehat setelah stres besar dalam kehidupan atau mungkin mendorong pendekatan yang lebih aktif untuk menangani stres yang melibatkan penanganan aspek-aspek stres yang dapat dikendalikan.

Di dalam Al Qur'an pun kata maaf (dalam bahasa Arab disebut Al-Afw) diulangi sebanyak 34 kali, yang 7 kali diantaranya menjelaskan tentang memaafkan.

Salah satunya dalam QS. Ali Imran Ayat 134 yang menjelaskan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang mengatasi kekeliruan terhadapnya dengan cara menahan amarah, memaafkan dan tetap berbuat baik terhadap orang yang melakukan kesalahan. Hal ini berarti perilaku memaafkan juga merupakan hal yang penting dimiliki oleh setiap orang Muslim. 

Berdasarkan hal-hal diatas maka dapat ditarik kesimpulan, orang yang memaafkan akan dapat mengontrol perilakunya, menahan stress dan lebih sehat secara mental dan fisik. 


Oleh: Chairunnisa Fadilah Mulia - Awardee BSM / Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Jakarta

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda