Health
Jangan Asal Buang ke Selokan! Begini Cara Benar Menyikapi Bangkai Tikus di Jalan Raya
Bangkai tikus yang terlindas kendaraan mungkin sudah menjadi pemandangan yang cukup sering ditemui di jalan. Bentuknya yang gepeng, bercampur dengan debu dan aspal, biasanya hanya membuat orang merasa jijik lalu memilih melanjutkan perjalanan.
Namun, belakangan muncul unggahan di media sosial yang mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh bangkai tikus di jalan. Disebutkan bahwa tubuh tikus dapat membawa bakteri penyebab penyakit yang berpotensi menular kepada manusia.
Salah satu penyakit yang kerap dikaitkan dengan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira dan termasuk penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.
Lantas, apakah bangkai tikus yang terlindas di jalan benar-benar berbahaya? Dan kalau menemukannya, apa yang sebaiknya dilakukan?
Tikus Memang Bisa Menjadi Sumber Leptospirosis
Tikus merupakan salah satu hewan yang dapat membawa bakteri Leptospira. Jika tikus terinfeksi, bakteri tersebut dapat keluar bersama urine dan mencemari lingkungan di sekitarnya.
Penelitian yang tersimpan di repositori Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kontak dengan lingkungan yang tercemar serta kebiasaan tertentu dapat meningkatkan risiko leptospirosis. Dalam penelitian di Kabupaten Demak, beberapa penderita diketahui memiliki aktivitas yang membuat mereka lebih sering bersentuhan dengan lingkungan yang berpotensi tercemar. Penelitian tersebut juga menemukan adanya masyarakat yang membuang bangkai tikus ke sungai.
Artinya, masalahnya bukan sekadar melihat atau berada di dekat tikus yang mati. Risiko leptospirosis lebih berkaitan dengan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau lingkungan yang sudah tercemar bakteri Leptospira.
Sebagai contoh, risiko dapat meningkat ketika seseorang berjalan tanpa alas kaki di genangan air yang tercemar urine tikus. Begitu juga jika kulit yang memiliki luka bersentuhan dengan air atau tanah yang telah tercemar.
Penelitian lain mengenai potensi penularan leptospirosis pada petugas rumah pemotongan hewan di Salatiga juga menunjukkan bahwa kontak dengan urine dan darah hewan perlu diperhatikan karena dapat menjadi salah satu sumber paparan bakteri.
Lalu, Bagaimana dengan Bangkai Tikus yang Sudah Terlindas?
Di sinilah penting untuk membedakan antara risiko penyakit yang berasal dari tikus dan lingkungan tercemar dengan risiko menyentuh bangkai tikus secara langsung.
Bangkai tikus yang sudah terlindas kendaraan dan berada di jalan terbuka tidak otomatis membuat orang yang melihat atau melewatinya terkena leptospirosis. Apalagi jika bangkai berada di permukaan jalan yang panas dan kering.
Meski begitu, bukan berarti bangkai tersebut aman untuk disentuh atau dipindahkan sendiri.
Kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan. Air, tanah yang lembap, genangan, selokan, dan lingkungan yang tercemar urine hewan dapat menjadi tempat yang lebih memungkinkan bakteri Leptospira bertahan dibandingkan permukaan yang panas dan kering.
Jadi, lokasi bangkai tikus juga berpengaruh. Bangkai yang terlindas di tengah jalan yang panas dan kering tentu berbeda kondisinya dengan bangkai yang berada di selokan, genangan air, atau tanah yang basah.
Jangan Malah Dipindahkan dengan Tangan Kosong
Ketika melihat bangkai tikus di jalan, reaksi spontan sebagian orang mungkin ingin segera menyingkirkannya.
Namun, kalau posisinya berada di jalan yang ramai, berhenti mendadak atau turun dari kendaraan justru bisa menciptakan risiko keselamatan yang lebih besar.
Tidak perlu merasa harus menjadi “petugas kebersihan dadakan”.
Jika bangkai berada di jalan umum, terutama di jalur kendaraan yang ramai, lebih baik tidak berhenti hanya untuk mengambilnya. Penanganan dapat dilakukan oleh pihak yang memang bertanggung jawab terhadap kebersihan atau pemeliharaan jalan.
Yang juga sebaiknya dihindari adalah mengambil bangkai menggunakan tangan kosong, memasukkannya ke kantong tanpa perlindungan, atau memindahkannya ke tempat lain secara sembarangan.
Sebab, tindakan tersebut justru membuat seseorang melakukan kontak langsung dengan bangkai dan kemungkinan material biologis yang terdapat di sekitarnya.
Jangan Buang ke Sungai atau Selokan
Ada satu hal yang justru perlu diperhatikan: jangan memindahkan bangkai tikus dari jalan lalu membuangnya ke sungai, selokan, atau tempat yang basah.
Penelitian Kementerian Kesehatan mengenai leptospirosis di Demak menemukan bahwa membuang bangkai tikus ke sungai merupakan salah satu perilaku yang ditemukan pada masyarakat yang diteliti. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya edukasi tentang pengendalian tikus dan kebiasaan untuk mencegah leptospirosis.
Membuang bangkai ke saluran air bukanlah solusi. Jika bangkai atau cairan tubuh tikus yang terinfeksi masuk ke air atau tanah yang lembap, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan.
Hal yang sama perlu diperhatikan ketika mengubur bangkai tikus sembarangan. Menguburnya tidak serta-merta menghilangkan risiko, terutama jika dilakukan tanpa memperhatikan kondisi tanah dan cara penanganan yang tepat.
Kapan Kita Perlu Lebih Waspada?
Kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika berada di lingkungan yang banyak terdapat tikus, terutama di area genangan air, banjir, sawah, selokan, atau tanah lembap yang mungkin tercemar urine tikus.
Masyarakat juga perlu berhati-hati saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi urine atau kotoran tikus. Menggunakan alas kaki dan pelindung yang sesuai dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan lingkungan yang berisiko.
Penelitian mengenai leptospirosis pada petugas rumah pemotongan hewan di Salatiga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang penyakit ini berkaitan dengan perilaku pencegahan. Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar responden belum memahami leptospirosis dan cara mencegahnya dengan baik.
Artinya, persoalan leptospirosis bukan hanya soal keberadaan tikus. Yang tidak kalah penting adalah memahami bagaimana penyakit ini dapat menular dan bagaimana menghindari kontak dengan sumber penularannya.
Jadi, Haruskah Takut Saat Melihat Bangkai Tikus?
Melihat bangkai tikus di jalan tidak berarti seseorang otomatis akan tertular leptospirosis. Risiko baru muncul jika seseorang mengalami kontak yang memungkinkan bakteri masuk ke tubuh.
Yang perlu dilakukan sebenarnya sederhana: jangan menyentuh bangkai secara langsung, jangan berhenti di lokasi berbahaya hanya untuk memindahkannya, dan jangan membuang bangkai ke sungai atau selokan.
Jika bangkai berada di lingkungan permukiman dan perlu dibersihkan, gunakan perlindungan yang sesuai dan pastikan tangan serta peralatan dibersihkan setelahnya.
Jadi, bangkai tikus memang tidak perlu membuat kita panik, tetapi juga jangan diperlakukan sembarangan.
Tidak perlu panik, tidak perlu menyentuh. Jika memungkinkan, laporkan kepada pihak yang bertanggung jawab agar bangkai dapat ditangani dengan aman.
Sebab, dalam situasi seperti ini, tindakan paling aman bukan menjadi orang yang paling cepat memindahkan bangkai, melainkan tahu kapan harus menjauh dan bagaimana menghindari risiko penyakit.