Kolom
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong
Dulu, nongkrong anak muda sering dibayangkan dengan pergi ke bar, menikmati minuman bersama teman, atau menghabiskan malam di tempat hiburan. Sekarang, bentuknya mulai semakin beragam.
Di berbagai kota, pusat kebugaran, lintasan lari, lapangan padel, sampai studio pilates ramai didatangi anak muda. Bagi sebagian Generasi Z atau Gen Z, olahraga bukan lagi sekadar kegiatan untuk menjaga bentuk tubuh. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk bersosialisasi, bertemu komunitas, dan menghabiskan waktu bersama teman.
Perubahan gaya hidup ini kemudian sering dikaitkan dengan menurunnya minat anak muda terhadap minuman beralkohol. Namun, kalau melihat data terbaru, ceritanya ternyata tidak sesederhana itu.
Gen Z Bukan Berhenti Minum, tetapi Mulai Lebih Selektif
Laporan terbaru dari IWSR (International Wine and Spirits Research), lembaga riset konsumen minuman beralkohol global, melalui survei Bevtrac-nya justru menunjukkan bahwa Gen Z yang sudah berada pada usia legal minum masih cukup banyak mengonsumsi alkohol.
Perlu dicatat, data ini berasal dari survei di 15 pasar utama dunia (termasuk AS, Inggris, Kanada, Australia, India, dan sejumlah negara Eropa serta Asia), bukan data spesifik Indonesia. Dalam survei tersebut, 74 persen konsumen Gen Z usia legal melaporkan mengonsumsi minuman beralkohol dalam enam bulan terakhir. Angka tersebut naik dari 66 persen tiga tahun sebelumnya dan kini hampir menyamai tingkat partisipasi seluruh konsumen dewasa yang mencapai 76 persen.
Jadi, anggapan bahwa Gen Z merupakan generasi yang sepenuhnya meninggalkan alkohol tidak sepenuhnya tepat.
Yang berubah tampaknya lebih berkaitan dengan cara mereka memilih dan mengonsumsi minuman tersebut.
IWSR menemukan bahwa konsumen muda semakin selektif terhadap jenis minuman yang dikonsumsi. Rata-rata jumlah kategori minuman alkohol yang dikonsumsi dalam satu kesempatan turun dari 2,8 menjadi 1,8 dalam dua tahun terakhir.
Sederhananya, bukan berarti Gen Z berhenti minum. Mereka justru cenderung lebih memilih apa yang ingin diminum dan tidak selalu mencampur banyak jenis minuman dalam satu kesempatan.
Nongkrong Sekarang Bisa Sambil Berkeringat
Di sisi lain, tren wellness memang semakin terlihat di kalangan anak muda.
Gym, lari, padel, dan pilates kini bukan hanya soal olahraga. Aktivitas tersebut juga menjadi ruang sosial. Seseorang bisa datang ke kelas bersama teman, berkenalan dengan anggota komunitas, lalu melanjutkan obrolan setelah latihan.
Media sosial turut membuat aktivitas seperti morning run, padel date, dan kelas pilates semakin populer. Olahraga pun tidak lagi selalu dipandang sebagai rutinitas yang dilakukan sendirian.
Bagi sebagian anak muda, Sabtu pagi bisa dihabiskan dengan berlari beberapa kilometer atau bermain padel, kemudian dilanjutkan dengan makan atau minum kopi bersama teman.
Namun, fenomena ini belum cukup untuk membuktikan bahwa olahraga secara langsung membuat Gen Z mengurangi konsumsi alkohol. Keduanya lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perubahan gaya hidup yang sedang berlangsung bersamaan.
Artinya, pilihan hiburan anak muda semakin beragam. Bersosialisasi tidak harus selalu dilakukan di bar atau tempat yang menjual alkohol. Lapangan olahraga, studio pilates, taman, dan kedai kopi juga bisa menjadi tempat berkumpul.
Gaya Hidup Sehat Mulai Mendapat Tempat
Tren wellness sendiri tidak hanya berkaitan dengan olahraga.
Anak muda juga semakin akrab dengan pembahasan mengenai makanan bergizi, kualitas tidur, aktivitas fisik, hingga penggunaan teknologi untuk memantau kondisi tubuh.
Aplikasi kebugaran, smartwatch, dan perangkat pelacak aktivitas membuat seseorang lebih mudah mengetahui jumlah langkah, durasi olahraga, hingga kualitas tidur.
Karena itu, bagi sebagian Gen Z, menjaga kesehatan bukan lagi sesuatu yang baru dilakukan ketika sakit. Aktivitas seperti olahraga rutin dan memperhatikan pola hidup mulai menjadi bagian dari keseharian.
Meski demikian, tetap perlu hati-hati ketika menyebut Gen Z sebagai generasi yang “paling sehat”. Perilaku kesehatan sangat beragam dan tidak bisa digeneralisasi hanya berdasarkan tren olahraga yang terlihat di media sosial.
Kopi Ikut Menjadi Teman Nongkrong
Perubahan pilihan tempat berkumpul juga terlihat dari semakin kuatnya budaya kedai kopi di Indonesia.
Coffee shop kini tidak hanya menjadi tempat membeli minuman. Banyak orang datang untuk mengerjakan tugas, bekerja menggunakan laptop, bertemu teman, berdiskusi, atau sekadar menghabiskan waktu.
Data Point of Interest (POI) berbasis OpenStreetMap yang dibagikan oleh Specialty Coffee Association of Indonesia mencatat 461.991 lokasi terkait kopi di Indonesia hingga November 2025 — menempatkan Indonesia di posisi teratas dunia, mengungguli negara seperti Amerika Serikat, China, dan Vietnam. Namun, angka ini perlu dipahami sebagai data lokasi usaha yang teridentifikasi dalam basis data tersebut (mencakup warung kopi sederhana hingga kafe modern), bukan sensus resmi seluruh kedai kopi di Indonesia.
Meski begitu, angka tersebut tetap menunjukkan besarnya ekosistem kopi di Indonesia.
Kopi akhirnya punya fungsi sosial yang lebih luas. Secangkir latte bisa menemani seseorang mengerjakan tugas. Matcha bisa menjadi minuman setelah olahraga. Kedai kopi bisa menjadi tempat bertemu teman tanpa harus menghabiskan malam di tempat hiburan.
Dengan kata lain, anak muda tetap mencari ruang untuk bersosialisasi, tetapi pilihannya semakin beragam.
Industri Alkohol Juga Menghadapi Perubahan
Perubahan kebiasaan konsumen tentu ikut dirasakan industri minuman.
IWSR mencatat volume total beverage alcohol atau keseluruhan minuman beralkohol secara global turun sekitar 2 persen pada 2025, melanjutkan tren penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. IWSR mengaitkan tekanan tersebut dengan sejumlah faktor, termasuk tren moderasi, perubahan perilaku antargenerasi, kondisi ekonomi yang menantang, serta meningkatnya minat terhadap produk tanpa alkohol.
Menariknya, kategori tanpa alkohol justru menjadi salah satu bagian yang masih menunjukkan pertumbuhan, sementara sebagian besar kategori utama minuman beralkohol mengalami penurunan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen tidak selalu berhenti mencari pengalaman menikmati minuman. Mereka hanya memiliki pilihan yang semakin banyak.
Produsen pun mulai menyediakan produk rendah alkohol dan tanpa alkohol untuk menjangkau konsumen yang ingin tetap menikmati suasana sosial tanpa harus mengonsumsi alkohol.
Bukan Cuma Gen Z yang Mengubah Kebiasaan
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membahas perubahan konsumsi alkohol: Gen Z bukan satu-satunya kelompok yang berubah.
Data IWSR terbaru menunjukkan tingkat partisipasi konsumsi alkohol pada kelompok Baby Boomers justru mengalami penurunan. Angkanya berada di 71 persen, turun dua poin persentase dibandingkan tiga tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah di antara kelompok generasi yang diteliti.
Sebaliknya, Millennials memiliki tingkat partisipasi tertinggi, yaitu 81 persen, sedangkan Gen X berada di angka 77 persen.
Karena itu, kurang tepat jika tekanan terhadap industri alkohol hanya dianggap sebagai akibat dari Gen Z yang memilih gym, padel, atau kopi.
Ada banyak faktor yang ikut memengaruhi pasar, mulai dari kondisi ekonomi, perubahan selera, kebiasaan moderasi, hingga munculnya produk minuman tanpa alkohol.
Dari Party ke Wellness
Pada akhirnya, cerita tentang Gen Z dan alkohol bukan sekadar soal apakah mereka minum atau tidak.
Data justru menunjukkan bahwa Gen Z masih menjadi konsumen alkohol yang cukup besar, tetapi pada saat yang sama mereka juga memiliki semakin banyak pilihan dalam menentukan bagaimana menghabiskan waktu dan bersosialisasi.
Olahraga menawarkan salah satu alternatif tersebut.
Lari bisa menjadi agenda akhir pekan. Padel menjadi aktivitas bersama teman. Pilates menjadi rutinitas. Setelahnya, kopi atau minuman nonalkohol bisa menjadi teman mengobrol.
Jadi, perubahan yang paling menarik mungkin bukan soal “Gen Z meninggalkan alkohol”, melainkan soal bagaimana generasi ini semakin punya banyak cara untuk bersenang-senang.
Dari pesta ke workout. Dari bar ke coffee shop. Dari begadang hingga morning run.
Bukan berarti gelas alkohol benar-benar hilang dari kehidupan Gen Z. Hanya saja, kini ada lebih banyak pilihan untuk mengisi waktu luang mereka.
Dan ketika gaya hidup wellness semakin populer, industri minuman pun harus bersiap menghadapi konsumen yang tidak lagi memilih produk hanya berdasarkan rasa, tetapi juga berdasarkan gaya hidup yang ingin mereka jalani.