Health

Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi

Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi
Ilustrasi seafood cumi-cumi (Sumber: Freepik)

Kalau mikir racun laut cuma ada di kerang busuk, siap-siap kaget karena isi piring seafood kamu yang lain bisa jadi menyimpan bahaya serupa tanpa disadari.

Mekanisme Teoretis Racun Asam Domoat pada Otak

Asam domoat adalah neurotoksin kuat yang diproduksi oleh mikroalga diatom, terutama genus Pseudo-nitzschia. Secara teoritis, molekul ini bekerja sebagai analog dari asam glutamatneurotransmiter yang mengirimkan sinyal utama ke otak manusia.

Ketika masuk ke dalam tubuh, asam domoat berikatan sangat kuat dengan reseptor kainat dan AMPA di otak, khususnya pada wilayah hipokampus.

Pengikatan ini memicu masuknya kalsium secara berlebihan ke dalam sel saraf (eksitotoksisitas), yang berakhir pada kerusakan hingga kematian sel saraf secara permanen.

Akibatnya, korban bisa mengalami Amnesic Shellfish Poisoning (ASP), yang ditandai dengan mual, kejang, hingga hilang ingatan jangka pendek.

Pandangan Pakar: Bahaya Nyata Teror Toksin Laut

Para ahli oseanografi dan toksikologi modern terus menyoroti ancaman ini. Kathi Lefebvre, ilmuwan dari NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika Serikat, menegaskan dalam penelitiannya bahwa asam domoat bukan lagi ancaman musiman lokal, melainkan toksin persisten yang mampu menumpuk di sepanjang rantai makanan bahari dari jaring kecil hingga mamalia laut besar.

Di Indonesia, Prof. Asep Tagar bersama para peneliti oseanografi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menekankan bahwa fenomena dinamika Harmful Algal Blooms (HABs) atau ledakan alga berbahaya di perairan tropis semakin sulit diprediksi. Pemanasan suhu permukaan laut dan tingginya nutrisi limbah memicu fenomena ini terjadi lebih sering di wilayah perairan Nusantara.

3 Makanan Seafood yang Bisa Tercemar Asam Domoat

Kerang memang penyaring air (filter feeder) paling efisien yang sering menumpuk toksin ini. Namun, racun ini berpindah ke spesies lain melalui rantai makanan:

  • Ikan Teri dan Lemuru: Ikan-ikan kecil ini mengonsumsi mikroalga Pseudo-nitzschia secara langsung. Jika dimakan utuh bersama organ di dalamnya, risiko paparan asam domoat sangat tinggi.
  • Kepiting Laut: Kepiting predator memakan biota dasar laut yang telah terkontaminasi. Toksin ini menumpuk terutama pada organ dalam atau area “mentega kepiting” (jeroan).
  • Cumi-Cumi: Sebagai karnivora yang memakan ikan-ikan kecil yang terkontaminasi, cumi-cumi dapat menyimpan sisa toksin ini di saluran pencernaannya sebelum dibersihkan.

Relevansi Asam Domoat dengan Kondisi Indonesia

Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang, masyarakat Indonesia mengonsumsi hasil laut dalam jumlah besar. Perubahan iklim dan polusi industri di wilayah seperti Teluk Jakarta, Selat Bali, hingga perairan Sulawesi memperbesar potensi munculnya alga beracun.

Sayangnya, pemantauan kadar toksin alga pada produk perikanan lokal masih menghadapi tantangan infrastruktur. Tanpa pengawasan ketat di tempat pelelangan ikan, risiko kontaminasi langsung sampai ke piring konsumen harian sangat nyata.

Edukasi Kesadaran Pangan Bahari Kita

Menikmati hasil laut adalah bagian dari gaya hidup dan nutrisi bangsa bahari. Namun, mengonsumsi tanpa pemahaman adalah tindakan yang berisiko.

Memahami bahaya asam domoat bertujuan bukan memicu kepanikan, melainkan mendorong literasi keamanan pangan yang lebih baik—mulai dari cara mengolah makanan laut dengan membuang organ di dalamnya, hingga menuntut pengawasan mutu perikanan yang lebih responsif.

Kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita makan, tetapi juga oleh seberapa matang kita memahami asal-usulnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda