Hobi
Gagal di Korea Masters 2023, Bukti Para Pemain Pelapis Belum Siap
Kekalahan Ester Nurumi Wardoyo dari Tomoka Miyazaki (Jepang) menjadi akhir petualangan wakil Indonesia di Korea Masters 2023. Sempat merebut angka di gim kedua, namun di gim ketiga setelah interval Ester kehilangan fokus.
Dalam ajang Korea Master 2023 yang digelar 7-12 November 2023 di Gwangju, Korea, Indonesia tidak menempatkan wakil-wakil terbaiknya. Sebuah langkah yang tepat, karena para pemain senior focus pada Japan Masters 2023 dan China Masters 2023 yang sudah berderet di belakang.
Di nomor Tunggal putra, Indonesia hanya menurunkan Shesar Hiren Rustavito dan Alwi Farhan. Sedangkan nomor Tunggal putri menurunkan 3 wakil mulai dari Putri KW, Ester Nurumi Wardoyo, dan Komang Ayu Cahyani.
Penurunan para pemain pelapis ini secara hitungan sangat logis. Tingkat persaingan yang tidak terlalu ketat menjadi pertimbangan utama. Kelas turnamen yang di level super 300 ditambah jadwal padat setelah ajang ini, membuat sebagian pemain dunia tidak terjun.
Setelah ajang berjalan beberapa waktu, hanya Ester Nurumi Wardoyo yang bias melesat lebih jauh. Vito, sebagai senior yang diharapkan mampu bersinar, justru kalah di 16 besar. Demikian pula dengan Putri KW pemain harapan pelapis Jorji, pun terhenti di babak 32 besar di tangan Ester.
Untung saja Ester mampu bermain bagus hingga menembus babak semifinal. Penampilan apiknya mampu menghentikan ambisi penerus Ratchanok, Pompicha Choekeewong. Kemenangan ini yang membawanya ke babak semifinal. Namun sayang di babak ini langkahnya harus terhenti.
Dari gugurnya wakil-wakil Indonesia ini, harus diakui ada sisi yang memprihatinkan pada para pelapis bulutangkis Indonesia. Ajang Korea Masters 2023 yang seharusnya dapat untuk menambah jam terbang, justru hasilnya minor.
Lihat saja saat Alwi Farhan menghadapi Koki Watanabe. Ternyata bekal juara di kelas Yunior masih belum cukup untuk berlaga di ajang super 300 ini. Padahal selama babak kualifikasi, performa Alwi Farhan luar biasa.
Demikian pula pada Putri KW. Sebagai ‘yunior yang paling senior’ Putri KW seharusnya mampu melangkah lebih jauh. Sebab dalam ajang ini tidak ada ‘musuh-musuh bebuyutan’ yang sering menghadangnya selama ini.
Dalam ajang ini tidak ada An See Young, Chou Yun Fei, Akane, Tai Tzi Yung, dan lain-lain. Putri KW hanya menghadapi para pemain yang levelnya tidak jauh beda. Namun kenyataannya, Putri KW justru tergelincir di babak 32 besar.
Dengan berkaca pada hasil ini, PBSI tidak punya pilihan lain selain menambah jam terbang para pemain yunior. Contoh yang terjadi pada Alwi Farhan dan Ester mengalami gagal fokus di gim ketiga, menunjukkan ada sisi yang harus dibenahi.
PR semacam ini harus segera diselesaikan. Sebab di negara-negara lain, jarak kemampuan antara para pemain senior dengan pelapis seakan tidak terlihat. Sehingga mereka dengan mudah mengatur strategi saat membutuhkan tenaga mereka. Oleh karena itu, tidak ada waktu lagi bagi PBSI untuk tidak segera bergerak.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.