Hobi
Indonesia Masuk Nominasi Grassroots dari AFC, Bukti Majunya Pembinaan Lokal
Pesepakbolaan Indonesia kembali menjadi sorotan di lingkup sepakbola kawasan benua Asia. Melansir dari laman media suara.com (16/10/2026), Indonesia bersama PSSI masuk dalam nominasi “AFC President's Recognition Award for Grassroots Football” kategori bronze pada edisi 2026 ini.
Sedikit informasi, nominasi tersebut adalah sebuah bentuk apresiasi yang dimana federasi sepakbola tertentu masuk ke dalam kandidat terbaik dalam pengelolaan sepakbola akar rumput atau pembinaan sepakbola lokal dari tahap yang paling mendasar. Untuk kali ini, Indonesia masuk ke dalam kategori Bronze atau kategori ke-3 dalam nominasi tersebut.
Uniknya, Indonesia dan PSSI dalam ajang kali ini dinominasikan bersama dua wakil dari kawasan ASEAN atau AFF lainnya, yakni Myanmar dan Kamboja. Melansir dari laman resmi AFC (the-afc.com), bersama PSSI, akan bersaing dengan ootball Federation of Cambodia dari Kamboja dan Myanmar Football Federation dari Myanmar untuk nominasi tersebut di ajang AFCAwards ke-30.
Masuknya kedua federasi sepakbola lainnya sebagai kandidat pesaing Indonesia dalam aspek pengembangan sepakbola akar rumput atau Grassroots memang cukup masuk akal. Pasalnya, Kamboja dalam beberapa tahun terakhir memang memiliki peningkatan dari aspek pengembangan sepakbola dari level yang paling rendah atau pengelolaan lokalnya.
Sementara itu, Myanmar juga cukup memiliki prospek yang cukup baik dalam pengembangan sepakbola di lingkup akar rumput. Bahkan, Myanmar sendiri juga dikenal sebagai salah satu negara dengan pengelolaan sepakbola akar rumput yang cukup baik di kawasan ASEAN sejauh ini.
Lantas, masuknya Indonesia beserta PSSI dalam kandidat penerima “AFC President's Recognition Award for Grassroots Football” kategori bronze di ajang AFC Awards ke-30 apakah memang sudah menggambarkan pengembangan sepakbola di lingkup akar rumput yang cukup baik?
Perkembangan Sepakbola Level Dasar di Indonesia Mulai Meningkat
Masuknya Indonesia bersama PSSI sebagai kandidat penerima nominasi “AFC President's Recognition Award for Grassroots Football” kategori bronze memang cukup membanggakan. Pasalnya, hal ini membuktikan jika pengelolaan sepakbola level akar rumput atau level mendasar di Indonesia memang mulai mengalami peningkatan sehingga layak dikategorikan sebagai tahap bronze di kawasan Asia oleh AFC.
Hal ini memang tak terlalu mengherankan mengingat PSSI memang gencar menggalakkan pengembangan sepakbola di level junior baik di kategori putra maupun putri. Melansir dari laman resmi PSSI (pssi.org), salah satu program unggulan di level junior tentunya adalah kompetisi Elite Pro Academy atau EPA. Sistem kompetisi ini sendiri sudah berlangsung selama beberapa tahun dan dibagi dalam beberapa kelompok usia seperti U-15, U-18 dan U-20.
Pengembangan sepakbola level akar rumput ini memang diharapkan bisa menjadi wadah penemu bibit-bibit penerus calon pemain profesional terbaik bagi pesepakbolaan Indonesia. Belum lagi hal ini sesuai dengan target PSSI yang bisa bermuara ke tim nasional.
Di level tim nasional, pesepakbolaan Indonesia memang kerap menghadirkan prestasi di level kelompok umur. Mulai dari level U-16, U-19 hingga U-23 memang kerap memberikan prestasi tak hanya di level sepakbola ASEAN atau AFF, tetapi juga di level pesepakbolaan Asia maupun pesepakbolaan dunia.
Beberapa prestasi seperti mampu menjuarai ajang AFF Cup kelompok umur, lolos hingga fase gugur di ajang Piala Asia hingga mampu menembus ajang Piala Dunia level junior adalah beberapa prestasi yang mampu diraih timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, deretan prestasi tersebut berpeluang bisa bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Tentunya PSSI dan seluruh elemen pesepakbolaan Indonesia tidak boleh berpuas diri usai masuk ke dalam nominasi “AFC President's Recognition Award for Grassroots Football” kategori bronze di ajang AFC Awards edisi ke-30 tahun ini. Hal ini harus mampu dimanfaatkan oleh PSSI untuk tetap meningkatkan pembinaan sepakbola akar rumput di dalam negeri agar bisa bersaing dengan negara-negara lainnya yang sudah lebih dulu berhasil di level pembinaan akar rumput.