Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia

Bimo Aria Fundrika | Zuyyina Laksita Dewi
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
Ilustrasi Kegiatan Membaca Buku

Media sosial kita sedang dijangkiti sebuah fenomena yang cukup menggelitik sekaligus menyebalkan: book shaming. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul sekat tak kasat mata yang mengkotak-kotakkan pembaca buku.

Ada anggapan bahwa mereka yang melahap buku non-fiksi—seperti pengembangan diri, filsafat, atau ekonomi—adalah kaum intelektual yang berwawasan luas. Sebaliknya, kita yang masih setia dengan novel atau kumpulan cerpen sering kali dianggap dangkal, kurang kerjaan, bahkan dianggap tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari bacaan tersebut.

Pertanyaannya, sejak kapan standar kecerdasan seseorang hanya diukur dari seberapa berat judul buku yang terpajang di raknya? Menganggap fiksi sebagai bacaan "kelas dua" bukan hanya sebuah kekeliruan, tapi juga bentuk kesombongan intelektual yang mematikan esensi dari membaca itu sendiri.

Fiksi: Oase di Tengah Penatnya Logika

Pertama-tama, mari kita bicara jujur. Hidup ini sudah cukup keras dengan segala tuntutan realitasnya. Di sinilah fiksi hadir sebagai penyegar pikiran. Fiksi itu bebas. Ia tidak mendikte kita dengan poin-poin instruksional tentang cara sukses dalam 30 hari.

Bagi pembaca pemula, fiksi adalah gerbang paling ramah untuk jatuh cinta pada literasi. Bahasanya yang mengalir dan plot yang menarik membuat buku fiksi sangat mudah dilahap tanpa membuat dahi berkerut terlalu dalam. Apakah menyegarkan pikiran itu tidak berguna? Tentu saja tidak. Otak yang rileks justru jauh lebih produktif daripada otak yang dipaksa menelan data secara terus-menerus.

Laboratorium Empati yang Tak Terbeli

Kedua, ini poin yang paling sering diremehkan: membaca fiksi mengasah empati. Dulu, saya pun mungkin tidak akan percaya hal ini sebelum benar-benar terjun dan "hidup" di dalam sebuah cerita. Dalam fiksi, penulis membangun karakter dengan latar belakang yang kompleks.

Saat membaca, kita dipaksa masuk ke dalam kepala tokoh tersebut. Kita memahami mengapa dia mengambil keputusan yang salah, kita ikut merasakan sesak saat dia kehilangan, dan kita ikut hancur saat dunianya runtuh. Pengalaman emosional ini membekas hingga ke kehidupan nyata. Membaca fiksi mengubah kita menjadi manusia yang lebih bisa menghargai perasaan orang lain dan tidak gampang meremehkan rasa sakit yang tidak kita alami sendiri. Di dunia yang makin sinis ini, bukankah empati adalah kemampuan yang sangat mewah?

Menjelajahi Isi Kepala Penulis

Selain itu, fiksi adalah sarana mengasah kreativitas dan wawasan yang unik. Berbagai jurnal penelitian telah merangkum bahwa membaca fiksi mengaktifkan otak kanan—wilayah yang mengatur imajinasi. Berbeda dengan menonton film yang sudah menyajikan visual jadi, fiksi memaksa otak kita bekerja keras membangun skenario, wajah tokoh, hingga aroma udara dalam cerita secara mandiri.

Lebih dari itu, fiksi membuka wawasan yang mungkin tidak tersedia di buku non-fiksi. Melalui narasi, kita bisa menyelami isi pikiran penulis yang dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman hidup, hingga buku-buku yang pernah ia baca. Kita bisa memahami sebuah peristiwa sejarah, budaya asing, atau konflik batin manusia tanpa harus menjadi mereka. Kita belajar tentang kemanusiaan melalui "kacamata" orang lain.

Fiksi vs Nonfiksi: Kenapa Tidak Dua-duanya Saja?

Menurut saya, tidak perlu ada kasta dalam membaca. Ada baiknya kita menggabungkan antara fiksi dan non-fiksi. Jika buku non-fiksi mempertajam logika, ilmu pengetahuan, dan strategi hidup kita, maka fiksi hadir untuk mempertajam rasa dan empati. Keduanya sama-sama kita perlukan untuk menjadi manusia yang utuh. Logika tanpa empati itu kering, sedangkan empati tanpa logika itu pincang.

Agar keduanya seimbang, saya biasanya menerapkan sistem selang-seling. Misalnya, setelah tamat membaca satu buku tentang finansial, bulan berikutnya saya akan "menghadiahi" diri dengan novel sejarah atau thriller yang seru. Dengan begitu, nutrisi untuk otak kiri dan otak kanan saya tetap terpenuhi secara adil.

Jadi, untuk kamu yang masih sering merasa inferior karena hanya membaca fiksi, atau kamu yang masih hobi melakukan book shaming: berhentilah. Setiap lembar halaman yang dibaca—apa pun genrenya—adalah langkah menuju diri yang lebih baik. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan apa yang kamu baca, tapi seberapa jauh bacaan itu berhasil mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu.

Kalau kamu sendiri, tim mana nih? Lebih suka tenggelam dalam narasi fiksi yang emosional atau bergelut dengan argumen non-fiksi yang logis? Atau jangan-jangan, kamu tim babat habis dua-duanya?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak