Salah Kaprah Feminisme di Media Sosial: Benarkah Masih tentang Kesetaraan?

Hayuning Ratri Hapsari | Zuyyina Laksita Dewi
Salah Kaprah Feminisme di Media Sosial: Benarkah Masih tentang Kesetaraan?
Ilustrasi gerakan feminisme (unsplash,com/Gayatri Malhotra)

Belakangan ini, kalau kita mengintip riuhnya perdebatan di Twitter (X) atau TikTok, kata "feminisme" dan "patriarki" seolah jadi peluru yang paling sering ditembakkan. Sayangnya, senjata ini kerap salah sasaran. Bukannya membangun dialog yang sehat, narasi yang muncul belakangan ini justru sering kali terasa seperti ajang kompetisi: siapa yang paling berkuasa?

Kembali ke Titik Nol: Apa Sih Feminisme Itu?

Sebelum kita terjebak dalam arus debat kusir di kolom komentar, ada baiknya kita memutar kembali jarum jam. Secara historis, feminisme bukan lahir dari rasa benci kepada laki-laki, apalagi ambisi untuk menginjak mereka. Gerakan ini muncul di Barat pada abad ke-19 sebagai reaksi atas ketidakadilan sistemis. Intinya sederhana: perempuan ingin dianggap sebagai manusia seutuhnya yang punya hak sipil—hak bersuara dan hak memiliki aset.

Di negeri kita sendiri, semangat ini mendarah daging dalam surat-surat R.A. Kartini. Ingat, Kartini gelisah bukan karena ingin "menguasai" laki-laki, tapi karena ia melihat betapa timpangnya akses pendidikan saat itu. Beliau ingin perempuan sekolah agar bisa menjadi ibu yang cerdas dan individu yang mandiri. Esensinya adalah kesetaraan, kesempatan yang sama dalam akses kemajuan, seperti pendidikan, bukan dominasi gender.

Distorsi Narasi di Layar Ponsel

Namun, mari kita jujur pada realita sekarang. Di era algoritma media sosial, narasi feminisme sering kali mengalami pergeseran makna yang cukup mengkhawatirkan. Banyak kaum yang mengaku "feminis", tapi tindakannya justru menjauh dari nilai kesetaraan. Alih-alih mencari keadilan, tujuannya bergeser menjadi "pokoknya tidak mau kalah."

Contoh nyata yang sering kita temui di kolom komentar adalah glorifikasi bahwa perempuan harus selalu "menang" dalam segala argumen, atau tuntutan agar perempuan dibebaskan dari segala bentuk tugas domestik karena dianggap sebagai penindasan, tanpa melihat konteks kesepakatan dalam rumah tangga. Narasi ini perlahan bergeser dari empowerment (pemberdayaan) menjadi superiority (keunggulan).

Kita sering melihat konten yang mendikte bahwa perempuan harus selalu diutamakan dalam segala aspek tanpa mau menanggung beban tanggung jawab yang sama. Feminisme seolah dipelintir menjadi tameng untuk melegitimasi ego. Kalau perempuan ingin setara, bukankah seharusnya tanggung jawab pun dibagi dengan porsi yang adil?

Kontradiksi "Mental Provider" dan Standar Ganda

Yang paling miris adalah ketika narasi ini dibenturkan dengan istilah patriarki secara serampangan. Sekarang, kalau ada istri yang memilih berkhidmat di rumah dan melayani suami, sering kali langsung dicap "korban patriarki" atau bahkan disamakan dengan "babu". Padahal, jika itu adalah pilihan sadar tanpa paksaan, bukankah itu bentuk kemerdekaan individu yang juga diperjuangkan feminisme?

Anehnya, standar ganda sering terjadi di sini. Di satu sisi, banyak perempuan menuntut kebebasan dari tugas domestik, tapi di sisi lain, mereka masih memegang teguh standar kuno bahwa laki-laki wajib menjadi satu-satunya sumber nafkah. Jika ada rumah tangga di mana penghasilan perempuan lebih besar, sang suami mendadak dilabeli "tidak punya mental provider".

Ini jelas sebuah paradoks. Kita ingin meruntuhkan struktur patriarki, tapi kita masih menuntut laki-laki untuk tetap berada dalam kotak "pemberi nafkah tunggal" yang sangat patriarkis itu sendiri. Kita ingin setara dalam hak, tapi enggan berbagi beban dalam peran.

Mengembalikan Marwah Perjuangan

Feminisme yang sehat seharusnya tidak menciptakan jurang permusuhan yang baru. Tujuan utamanya adalah agar laki-laki dan perempuan bisa berjalan bersisian sebagai mitra, bukan sebagai rival yang saling sikut.

Menjadi feminis bukan berarti anti-menikah atau anti-melayani suami. Menjadi feminis berarti memiliki pilihan hidup yang dihormati. Mari kita kembalikan semangat Kartini ke porsinya yang tepat: memperjuangkan akses, martabat, dan keadilan. Jangan sampai gerakan mulia ini hancur hanya karena ego kelompok yang ingin merasa lebih tinggi. Karena pada akhirnya, kesetaraan sejati lahir dari rasa saling menghargai, bukan dari ambisi untuk saling mengalahkan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak