Gen Z dan Tradisi Ramadan yang Mulai Bergeser: Nilai Lama vs Gaya Baru

Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Gen Z dan Tradisi Ramadan yang Mulai Bergeser: Nilai Lama vs Gaya Baru
ilustrasi tradisi Ramadan ala Gen Z (Pexels/PNW Production)

Ramadan selalu identik dengan tradisi. Dari sahur bersama keluarga, tarawih di masjid, hingga berburu takjil menjelang magrib, semuanya menjadi bagian dari memori kolektif yang banyak dinantikan.

Namun, memasuki era digital, cara Gen Z menjalani Ramadan mulai menunjukkan pergeseran yang cukup signifikan. Perubahan ini bukan sekadar soal gaya, tetapi juga tentang cara memaknai ibadah, kebersamaan, hingga identitas religius di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer.

Lalu, apa saja tradisi Ramadan yang mulai bergeser di kalangan Gen Z? Adakah benturan antara nilai lama dan gaya baru soal menjalankan momentum Ramadan?

Tarawih Offline ke Kajian Online

Dulu, tarawih di masjid menjadi rutinitas yang hampir tak terpisahkan dari Ramadan. Masjid penuh, anak-anak berlarian, dan suasana kebersamaan terasa nyata. Kini, sebagian Gen Z memilih mengikuti kajian atau ceramah secara daring melalui YouTube, podcast, atau live streaming.

Akses yang memang lebih fleksibel membuat mereka bisa belajar dari pembicara favorit tanpa batas geografis. Namun di sisi lain, interaksi sosial langsung di lingkungan sekitar bisa berkurang. Ramadan yang dulu sangat terasa secara komunal, kini menjadi lebih personal dan individual.

Bukber: Dari Silaturahmi ke Konten Media Sosial

Buka bersama atau bukber dulunya menjadi momen mempererat hubungan. Namun di era Gen Z, bukber sering kali juga menjadi ajang dokumentasi. Outfit direncanakan matang, lokasi estetik, dan momen berbuka diabadikan untuk konten medsos.

Tradisi memang tetap ada, tetapi maknanya bisa bergeser menjadi campuran antara silaturahmi dan eksistensi digital. Bukan berarti negatif, hanya saja tantangannya berubah menjadi menjaga agar esensi kebersamaan tidak kalah oleh kebutuhan validasi online.

Tradisi Berbagi dalam Bentuk Digital

Jika dulu sedekah identik dengan kotak amal atau pembagian langsung, kini Gen Z akrab dengan donasi digital. Platform crowdfunding dan e-wallet membuat keinginan untuk bisa berbagi menjadi lebih praktis.

Kampanye sosial selama Ramadan juga semakin kreatif. Ada yang menggalang dana lewat challenge, live streaming, atau konten edukatif. Semangat berbagi tetap hidup, hanya mediumnya yang berubah.

Ini menunjukkan bahwa nilai Ramadan tetap relevan, tetapi diekspresikan dengan cara yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Sayangnya, fenomena ini juga membuka peluang flexing sedekah saat sudah menjadi kebutuhan konten semata.

Perubahan Pola Konsumsi

Generasi sebelumnya mungkin lebih fokus pada menu rumahan sederhana saat sahur dan berbuka. Sementara itu, Gen Z tumbuh di era kuliner viral dan promo online yang kemudian mempengaruhi perubahan pola konsumsi.

Berburu takjil kini bisa lewat aplikasi, mengikuti tren minuman kekinian, atau mencoba menu yang sedang ramai di media sosial. Ramadan juga menjadi momentum diskon besar-besaran di e-commerce.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana Ramadan juga bersinggungan dengan budaya konsumsi modern. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara menikmati tren dan tetap mengedepankan nilai kesederhanaan.

Spiritualitas yang Lebih Personal

Salah satu pergeseran paling menarik adalah cara Gen Z memaknai spiritualitas. Banyak dari mereka yang lebih reflektif dan terbuka membahas kesehatan mental, termasuk dalam konteks Ramadan.

Ramadan tidak hanya dilihat sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai momen healing, self-improvement, dan reset diri. Konten tentang journaling Ramadan, mindful fasting, hingga refleksi diri pun semakin populer. Pendekatan ini menunjukkan kalau Gen Z cenderung mengaitkan agama dengan pengalaman personal dan kesejahteraan psikologis.

Apakah Pergeseran Ini Mengkhawatirkan?

Setiap generasi mengalami perubahan dalam menjalankan tradisi. Pergeseran bukan berarti hilangnya nilai, melainkan adaptasi terhadap konteks zaman, terutama untuk Gen Z yang tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan terkoneksi secara digital.

Cara mereka menjalani Ramadan tentu dipengaruhi oleh lingkungan tersebut. Yang perlu dijaga adalah esensi Ramadan itu sendiri, seperti pengendalian diri, empati, kebersamaan, dan kedekatan spiritual.

Alih-alih melihat perubahan ini sebagai kemunduran, mungkin lebih tepat memandangnya sebagai transformasi. Tradisi bisa tetap hidup, meski bentuknya tidak lagi sama persis seperti dulu.

Pada akhirnya, fenomena “Gen Z dan tradisi Ramadan yang mulai bergeser” jadi gambaran kalau agama dan budaya tidak pernah statis karena bergerak mengikuti dinamika sosial. Satu hal yang pasti, Gen Z tidak meninggalkan Ramadan.

Mereka hanya mengekspresikannya dengan cara yang berbeda yang lebih digital, lebih personal, dan lebih terhubung dengan identitas diri. Hanya saja, pergeseran ini juga perlu diperhatikan agar esensi Ramadan tetap terjaga di tengah arus modernitas.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan soal seberapa tradisional atau modern cara kita menjalaninya, tetapi seberapa dalam kita memaknainya. Jangan sampai, perubahan zaman yang dinamis malah menggeser makna Ramadan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak