Kolom

Imajinasi Saja Tidak Cukup, Menulis Fiksi Juga Butuh Riset

Imajinasi Saja Tidak Cukup, Menulis Fiksi Juga Butuh Riset
Ilustrasi wanita membaca novel (Pexels/Nam Phong Bùi)

Belakangan ini saya sempat membaca sebuah opini di Twitter/X yang menurut saya cukup menggelitik. Intinya, menulis fiksi itu tidak perlu melakukan riset. Bahkan kalau menulis tentang sejarah pun, katanya tidak masalah untuk mengarang bebas. Toh ini hanyalah fiksi, bukan esai akademis yang kaku.

Awalnya saya sempat berpikir bahwa ada benarnya juga. Fiksi memang merupakan ruang untuk berimajinasi, tempat kita bebas menciptakan dunia sendiri tanpa batas. Namun setelah dipikirkan lebih dalam, rasanya akan janggal jika sebuah cerita ditulis tanpa dasar yang masuk akal.

Tweet itu pun langsung ramai. Banyak yang tidak setuju. Ada yang mengatakan bahwa riset itu penting, bahkan ada yang sampai rela datang langsung ke tempat tertentu hanya untuk mendapatkan suasana yang “pas”.

Bayangkan, ada penulis yang sampai datang ke makam hanya demi mendalami nuansa di sana, lalu menuliskannya dengan harapan pembaca bisa ikut merasakan suasana tersebut.

Di titik ini saya mulai sadar, perdebatan ini bukan sekadar soal “perlu atau tidak perlu riset”, tapi lebih kepada bagaimana kita memperlakukan cerita yang kita tulis.

Fiksi yang Kurang Riset Akan Terasa Aneh Saat Dibaca

Saat sekolah dulu, saya termasuk remaja yang hobi membaca cerita fiksi di Wattpad. Ada beberapa cerita yang sampai sekarang masih teringat, bukan karena bagus, tapi karena terasa aneh.

Misalnya, narasi tentang seorang mahasiswa yang mengambil rapor di akhir semester. Atau adegan kampus yang memiliki bunyi bel seperti sekolah. Dulu mungkin terasa biasa saja, tapi setelah dewasa, baru terasa janggal.

Belum lagi cerita tentang remaja berusia 18 tahun yang sudah menjadi CEO muda, atau bahkan diam-diam seorang mafia besar. Membacanya membuat saya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Pembaca yang cukup paham biasanya akan langsung bereaksi, “Loh, kok begini ceritanya?” Bukannya tenggelam dalam alur, justru malah sibuk mengoreksi bagian yang terasa tidak tepat.

Di sinilah letak masalahnya. Bukan soal boleh atau tidak berimajinasi, tapi apakah cerita tersebut bisa diterima oleh logika pembaca.

Fiksi yang Terasa Nyata Itu Ada ‘Rahasianya’

Saya pribadi cenderung setuju bahwa menulis fiksi tetap membutuhkan riset. Tidak hanya tulisan nonfiksi saja yang memerlukannya, fiksi pun butuh fondasi agar bisa lebih meyakinkan.

Bukan karena fiksi harus selalu realistis, tetapi karena cerita yang baik mampu membuat pembaca merasa seolah-olah hidup di dalamnya. Dunia yang sebenarnya tidak ada, bisa terasa nyata.

Riset di sini bukan berarti harus kaku seperti menulis jurnal. Lebih tepatnya adalah usaha untuk memahami hal-hal dasar, seperti bagaimana manusia berperilaku, bagaimana suatu situasi terjadi, atau bagaimana suasana di sebuah tempat.

Lalu bagaimana dengan dunia fantasi?

Justru di situlah riset tetap punya peran. Bukan untuk membuat semuanya menjadi realistis seperti dunia nyata, melainkan untuk menciptakan logika dalam cerita.

Dunia sihir, misalnya, tetap membutuhkan aturan. Elemen api, air, atau angin tidak bisa bekerja seenaknya tanpa konsistensi. Tanpa disadari, penulis tetap bersentuhan dengan konsep dasar seperti fisika, kimia, atau biologi, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana.

Intinya, meskipun dunia itu tidak nyata, tetap harus terasa masuk akal dalam versinya sendiri. Penulis perlu membangun worldbuilding yang kuat agar pembaca bisa menerima dan percaya pada dunia tersebut. Contohnya bisa kita lihat dari karya J.K. Rowling dengan Harry Potter yang masih relevan hingga sekarang.

Tidak Perlu Saling Merasa Paling Benar

Yang menarik dari perdebatan di Twitter itu bukan hanya isinya, tapi juga cara orang-orang menyampaikannya. Ada yang berbagi pengalaman, ada yang memberikan sudut pandang baru, tapi tidak sedikit juga yang terkesan menghakimi.

Padahal, setiap penulis memiliki prosesnya masing-masing. Ada yang suka melakukan riset mendalam, ada juga yang lebih mengandalkan intuisi. Keduanya tidak sepenuhnya salah.

Diskusi seperti ini akan jauh lebih menyenangkan jika tujuannya untuk saling belajar, bukan untuk saling merasa paling benar.

Jadi, apakah menulis fiksi perlu riset?

Jawabannya mungkin tidak sepenuhnya hitam putih. Tidak selalu harus “iya”, tapi juga tidak bisa langsung “tidak”.

Satu hal yang pasti, imajinasi memang penting. Tanpa itu, tidak akan ada cerita. Namun, imajinasi saja tidak cukup.

Sebagai perumpamaan, imajinasi itu seperti mesin mobil, sedangkan riset adalah bahan bakarnya. Mesin yang bagus mungkin bisa menyala, tetapi tanpa bahan bakar yang tepat, ia tidak akan mampu membawa pembaca pergi jauh ke dunia yang telah diciptakan.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda