Kolom

Ngabarin Itu High-Level Manners: Mengapa Ini Lebih Penting dari yang Kamu Kira?

Ngabarin Itu High-Level Manners: Mengapa Ini Lebih Penting dari yang Kamu Kira?
Ilustrasi memberi kabar saat di perjalanan. [Suara.com/Alfian Winanto]

Belakangan ini, saya sempat membaca kabar tentang kecelakaan kereta api  di Stasiun Bekasi Timur. Tidak perlu detail panjang untuk membuat saya berpikir cukup dalam—bahwa hidup itu benar-benar tidak bisa diprediksi.

Hari itu mungkin dimulai seperti biasa. Orang-orang berangkat dengan rutinitasnya, dengan rencana sederhana, dengan harapan akan kembali pulang seperti biasa. Tapi ternyata tidak semua cerita berakhir seperti yang direncanakan.

Dan dari kejadian itu, ada satu hal sederhana yang terus terngiang di kepala saya: kapan terakhir kali saya benar-benar memberi kabar? Atau kapan saya berpesan “hati-hati di jalan” pada orang terdekat saat bepergian?

Hal Kecil yang Sering Kita Anggap Sepele

Jujur saja, saya termasuk orang yang kadang menunda balas chat. Bukan karena tidak peduli, tapi karena merasa “nanti saja”. Kadang juga karena gengsi—tidak ingin terlihat terlalu available, atau merasa tidak penting untuk langsung merespons.

Padahal kalau dipikir lagi, membalas chat atau sekadar memberi kabar itu hanya butuh beberapa detik. Sangat singkat bahkan. Tapi dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Jalanan Itu Unpredictable, Hidup Juga

Kejadian seperti kecelakaan kereta api yang sedang menyita banyak perhatian publik ini mengingatkan saya bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kita bisa saja merasa semuanya baik-baik saja hari ini, seolah semua akan berjalan seperti biasanya.

Namun, sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi beberapa jam ke depan. Jalanan itu unpredictable. Musibah tidak pernah kirim undangan. Bahkan tidak ada tanda-tandanya, semua serba tiba-tiba dan tidak pasti.

Di tengah ketidakpastian itu, saya mulai sadar kalau hal kecil seperti memberi kabar dan mendoakan keselamatan di jalan sebenarnya bukan sekadar kebiasaan—tapi bentuk kepedulian. Kita semua ingin bisa pulang dengan selamat, bertemu keluarga dalam keadaan sehat.

Lima Detik yang Berarti Besar

Kadang saya berpikir, “Ah, nanti saja kabarin.” Padahal, untuk saya mungkin hanya lima detik untuk mengetikkan pesan itu. Tapi bagi orang tua, keluarga, atau teman dekat, kabar tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Satu pesan sederhana seperti, “Aku sudah sampai,” atau “Aku lagi di jalan,” bisa menjadi napas lega bagi mereka yang tulus mendoakan keselamatan kita. Saya baru benar-benar menyadari ini ketika membayangkan posisi mereka.

Menunggu tanpa kabar. Bertanya-tanya dalam diam. Dan berharap semuanya baik-baik saja. Tapi fakta di lapangan langsung menghancurkan hati keluarga korban kecelakaan kereta api. Kabar yang ditunggu dibalas dengan kejadian nahas yang tidak terhindarkan.

Gengsi yang Tidak Perlu Dipertahankan

Saya juga menyadari kalau kadang yang menghalangi untuk memberi kabar itu bukan kesibukan, tapi gengsi. Gengsi untuk terlihat tidak terlalu peduli. Gengsi untuk tidak terlihat “terlalu cepat” membalas. Gengsi untuk menjaga image tertentu.

Padahal kalau dipikir kembali, untuk apa menghidupkan gengsi semacam ini? Ketika sesuatu yang buruk terjadi, hal-hal seperti itu tidak lagi penting. Yang tersisa hanya penyesalan—kenapa tidak sempat memberi kabar.

Ngabarin Itu High-Level Manners

Dulu saya berpikir kalau sopan santun hanya soal bagaimana kita berbicara atau bersikap di depan orang lain. Tapi sekarang saya melihatnya lebih luas. Memberi kabar juga bagian dari manners yang menunjukkan jika kita menghargai orang lain.

Bahwa kita sadar keberadaan kita berarti bagi seseorang. Dan bahwa kita tidak menganggap hubungan sebagai sesuatu yang bisa diabaikan. Ini bukan sekadar kebiasaan. Ini adalah high-level manners.

Memberi kabar tidak harus selalu panjang atau detail. Kadang cukup satu kalimat. “Sudah sampai.” “Lagi di jalan.” “Aku aman.” Sederhana, tapi cukup. Karena yang dibutuhkan bukan cerita panjang, tapi kepastian bahwa kita baik-baik saja.

Self Reminder yang Terus Saya Ulang

Sejak menyadari ini, saya mulai mencoba mengubah kebiasaan kecil. Lebih cepat membalas chat. Lebih sering memberi kabar. Dan lebih sadar bahwa komunikasi bukan hanya soal kebutuhan, tapi juga kepedulian. Saya tidak selalu berhasil. Masih ada momen di mana saya lupa, atau kembali menunda.

Tapi setidaknya sekarang, saya lebih sadar. Dan itu sudah langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. Kadang kita memang menunggu sesuatu yang besar untuk menyadarkan kita. Padahal, pelajaran itu sering datang dari hal-hal sederhana, seperti satu pesan singkat, satu kabar kecil, satu bentuk perhatian yang sering diremehkan.

Saya belajar bahwa keberadaan saya mungkin biasa bagi diri sendiri, tapi bisa sangat berarti bagi orang lain. Dan memberi kabar adalah cara sederhana untuk menunjukkan itu. Jadi, ini bukan hanya pengingat untuk siapa pun yang membaca, tapi juga untuk saya sendiri.

Yuk, kurangi gengsi. Jangan menunda. Dan jangan tunggu kehilangan untuk mulai peduli. Karena kadang, lima detik yang kita anggap sepele bisa menjadi hal paling berarti bagi seseorang.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda