Kolom
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
Pertama kali mendengar istilah quiet quitting, jujur saya langsung merasa tersentil. Bukan karena saya benar-benar “berhenti diam-diam”, tapi karena saya pernah berada di fase di mana saya memilih melakukan pekerjaan sesuai deskripsi—tidak lebih, tidak kurang.
Di satu sisi, ada suara yang bilang saya kurang ambisius. Di sisi lain, ada bagian dari diri saya yang merasa ini bukan malas tapi menjaga diri. Lalu saya mulai bertanya: ini bentuk menyerah atau justru self-respect?
Antara Tuntutan “Lebih” dan Batas Diri
Di dunia kerja, saya sering melihat ekspektasi yang tidak tertulis di mana pekerja harus proaktif, harus selalu siap, dan harus mau melakukan lebih dari yang diminta. Awalnya, saya mengikuti karena ingin dianggap berdedikasi.
Saya mengambil tugas tambahan, lembur tanpa banyak tanya, dan berusaha selalu tersedia. Tapi lama-lama, saya merasa kelelahan. Bukan hanya lelah secara fisik, tapi juga mental karena minimnya apresiasi.
Saya pun mulai sadar kalau “melakukan lebih” tidak selalu diikuti dengan penghargaan yang setara. Dan di situlah saya merasa harus mempertimbangkan batas.
Saat Bekerja Sesuai Porsi Dianggap Kurang
Saat saya mulai menahan diri—tidak selalu lembur, tidak langsung merespons di luar jam kerja, dan fokus pada tugas utama—ada perubahan cara orang melihat saya. Tidak ada yang bilang secara langsung, tapi terasa.
Saya seperti diberi label “kurang total” yang diam-diam mereka tempelkan. Padahal, saya tetap menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan menyelesaikan semua tanggung jawab sesuai job desc.
Di situ saya mulai melihat bahwa budaya kerja sering kali tidak hanya menilai hasil, tapi juga seberapa jauh kita mau “mengorbankan diri”. Sebab bekerja sesuai porsi sering kali dianggap kurang.
Gen Z dan Cara Baru Melihat Kerja
Saya melihat banyak teman sebaya saya, terutama Gen Z, mulai berpikir serupa. Kami tidak lagi melihat pekerjaan sebagai satu-satunya identitas. Kami ingin punya hidup di luar pekerjaan—waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan hal-hal yang disukai.
Bagi sebagian orang, mungkin ini dianggap kurang loyal. Tapi bagi kami, ini tentang keseimbangan. Kami tidak ingin mengulang pola lama di mana kerja menjadi pusat segalanya, sementara kesehatan mental dan kehidupan pribadi terabaikan.
Quiet Quitting atau Bekerja dengan Sehat?
Istilah quiet quitting sering disalahpahami sebagai bentuk kemalasan. Tapi dari perspektif saya, ini lebih tentang bekerja sesuai kesepakatan. Saya tetap profesional dan bertanggung jawab. Tapi saya tidak lagi memberikan energi berlebih tanpa batas.
Ini bukan tentang menurunkan kualitas kerja, tapi tentang menempatkan kerja di porsi yang semestinya. Dan jujur saja, saat mulai bekerja dengan batas yang jelas, saya justru merasa lebih stabil dan konsisten.
Belajar Menghargai Diri Sendiri
Salah satu perubahan terbesar yang saya rasakan adalah cara saya melihat diri sendiri. Dulu, saya merasa nilai saya ditentukan oleh seberapa keras saya bekerja. Semakin sibuk, semakin merasa “berharga”.
Sekarang, saya mulai memahami kalau nilai diri tidak hanya datang dari pekerjaan. Saya belajar mengatakan “cukup”, berhenti sebelum benar-benar kelelahan, dan belajar menjaga diri sebagai bentuk self-respect.
Tidak Semua Orang Sepakat: It’s Okay!
Saya sadar, tidak semua orang melihat ini dengan cara yang sama. Ada yang tetap percaya kalau kerja harus total tanpa batas. Ada yang menganggap konsep ini terlalu sensitif atau kurang tahan banting. Dan itu tidak masalah.
Karena setiap orang punya pengalaman dan perspektif masing-masing. Yang penting bagi saya adalah menemukan cara kerja yang tidak membuat saya kehilangan diri sendiri meski harus berseberangan dengan opini orang.
Menjaga Diri di Tengah Tuntutan
Quiet quitting mungkin terdengar negatif bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ini bukan tentang berhenti, melainkan tentang menata ulang cara bekerja. Saya masih ingin berkembang, masih ingin berkontribusi.
Namun, tujuan ini tidak harus dicapai dengan mengorbankan kesehatan mental dan hidup saya secara keseluruhan. Dunia kerja bukan sekadar tempat mencari penghasilan, tapi juga ruang yang harus tetap sehat untuk dijalani.
Tidak masalah jika dunia menganggap kalau menjaga batas itu dianggap sebagai “quiet quitting”. Hanya saja, bagi saya bukanlah benar-benar berhenti. Saya hanya mulai lebih menghargai diri sendiri.