Kolom

Kenapa Suasana Bandara Selalu Terasa Emosional? Ternyata Ini Alasannya

Kenapa Suasana Bandara Selalu Terasa Emosional? Ternyata Ini Alasannya
Ilustrasi Suasana di Bandara (Pexels/ClickerHappy)

Pernah nggak sih kamu merasa suasana bandara itu berbeda dari tempat lain?

Padahal kalau dipikir-pikir, bandara hanyalah tempat orang datang dan pergi. Isinya antrean panjang, pemeriksaan barang, suara pengumuman penerbangan, koper yang diseret ke sana-sini, dan orang-orang yang sibuk mengejar jadwal. Namun anehnya, banyak orang justru merasa lebih emosional ketika berada di bandara.

Ada yang tiba-tiba jadi melankolis saat duduk di ruang tunggu. Ada yang diam memandangi landasan pesawat sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan ada juga yang merasa sedih tanpa tahu alasannya.

Bandara memang punya suasana yang unik. Tempat ini terasa ramai, tetapi juga sunyi dalam waktu yang bersamaan. Dan ternyata, ada alasan psikologis dan sosial yang membuat suasana bandara sering terasa begitu emosional.

Tempat Bertemunya Banyak Perasaan

Bandara bukan sekadar tempat transit. Di sana, banyak momen penting dalam hidup manusia terjadi sekaligus.

Ada orang yang pergi untuk pertama kalinya merantau jauh dari keluarga. Ada yang akhirnya pulang setelah bertahun-tahun bekerja di kota lain atau luar negeri. Ada pasangan yang harus berpisah sementara, ada keluarga yang menyambut kepulangan orang tersayang, dan ada juga orang yang bepergian sambil membawa masalah hidup yang tidak diketahui siapa-siapa.

Karena itu, bandara seperti tempat berkumpulnya berbagai macam emosi.

Dalam psikologi sosial, ada konsep yang disebut transition space atau ruang transisi. Maksudnya, ada tempat-tempat tertentu yang menjadi titik perpindahan seseorang dari satu fase hidup ke fase lain. Nah, bandara termasuk salah satunya.

Makanya suasana di bandara sering terasa “berbeda”. Orang-orang di sana bukan cuma sedang pindah tempat, tetapi juga sedang membawa perubahan dalam hidup mereka.

Seorang mahasiswa yang baru pertama kali kuliah di luar kota mungkin terlihat biasa saja saat duduk menunggu boarding. Padahal di kepalanya ada campuran rasa takut, gugup, penasaran, sekaligus semangat memulai hidup baru.

Bandara jadi tempat di mana banyak perasaan bertemu dalam satu waktu.

Ruang Tunggu yang Bikin Orang Banyak Pikiran

Ada alasan kenapa banyak orang mendadak jadi reflektif saat berada di bandara, terutama ketika sendirian.

Coba perhatikan suasananya. Kita duduk cukup lama sambil menunggu penerbangan. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan selain melihat orang lalu-lalang, mendengar pengumuman, atau memandangi pesawat dari balik kaca.

Tanpa sadar, situasi seperti ini membuat pikiran lebih mudah mengembara.

Kita jadi mengingat masa lalu, memikirkan masa depan, atau malah merenungkan hidup secara tiba-tiba. Hal-hal yang biasanya tenggelam karena kesibukan sehari-hari mendadak muncul begitu saja.

Dalam teori psikologi, kondisi seperti ini disebut liminality, yaitu keadaan ketika seseorang berada “di tengah-tengah”. Belum benar-benar sampai ke tujuan baru, tetapi juga sudah meninggalkan tempat sebelumnya.

Perasaan “menggantung” itu membuat emosi manusia jadi lebih sensitif.

Mungkin itu juga alasan kenapa suasana bandara di malam hari sering terasa sangat melankolis. Lampu-lampu terang, suara roda koper, pengumuman penerbangan yang terus berulang, dan orang-orang yang tampak sibuk sendiri menciptakan suasana yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti sedang berada di sebuah adegan film.

Ramai, tetapi Tetap Terasa Sepi

Hal menarik lain dari bandara adalah tempat ini bisa terasa sangat sepi meskipun dipenuhi banyak orang.

Semua orang berjalan cepat dengan tujuan masing-masing. Ada yang fokus mengejar jadwal, ada yang sibuk membuka ponsel, ada yang duduk diam sambil memakai earphone. Interaksi yang terjadi pun biasanya singkat-singkat saja.

Bandara memperlihatkan bagaimana kehidupan modern bekerja: semua serba cepat, praktis, dan terus bergerak.

Sosiolog Zygmunt Bauman pernah membahas bahwa manusia modern sekarang hidup dalam mobilitas tinggi, tetapi sering merasa semakin terasing secara emosional. Kita bisa pergi ke mana saja dengan cepat, tetapi hubungan antarmanusia justru kadang terasa makin renggang.

Dan suasana itu terasa jelas di bandara.

Ribuan orang berkumpul di satu tempat, tetapi masing-masing tetap hidup dalam dunianya sendiri. Mungkin karena itu banyak orang merasa suasana bandara agak sunyi secara emosional, meskipun sebenarnya ramai.

Bandara dan Imajinasi tentang Kehidupan

Bandara juga sering membuat orang berimajinasi. Saat melihat layar keberangkatan menuju berbagai kota dan negara, kita kadang ikut membayangkan kehidupan di tempat-tempat itu. Rasanya seperti dunia tiba-tiba terlihat sangat luas.

Ada yang mulai membayangkan liburan impian, kehidupan baru, pekerjaan baru, atau sekadar membayangkan bagaimana rasanya tinggal di tempat yang belum pernah dikunjungi.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai anticipatory emotion, yaitu emosi yang muncul karena membayangkan masa depan. Bahkan sebelum perjalanan dimulai, manusia sudah dipenuhi harapan, kecemasan, atau rasa penasaran. Makanya bandara sering terasa penuh kemungkinan.

Di satu sisi ada rasa senang karena akan pergi ke tempat baru. Di sisi lain, ada juga rasa takut karena manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar nyaman dengan ketidakpastian.

Tidak Semua Orang di Bandara Sedang Bahagia

Yang sering terlupakan, tidak semua orang pergi dengan perasaan bahagia.

Ada yang bepergian karena tuntutan pekerjaan. Ada yang harus meninggalkan keluarga demi mencari penghasilan. Ada yang pulang karena kabar duka. Bahkan ada yang pergi sambil membawa kelelahan hidup yang tidak terlihat dari luar.

Kita mungkin hanya melihat seseorang berjalan sambil menarik koper. Namun kita tidak pernah benar-benar tahu cerita apa yang sedang mereka bawa.

Dan mungkin di situlah letak emosionalnya suasana bandara.

Tempat ini mempertemukan begitu banyak cerita manusia dalam satu ruang: harapan, perpisahan, kesepian, kebahagiaan, kecemasan, hingga rasa rindu.

Karena Hidup Juga Seperti Transit

Pada akhirnya, suasana bandara terasa emosional mungkin karena tempat ini diam-diam mirip dengan kehidupan itu sendiri.

Tidak ada orang yang benar-benar tinggal di bandara. Semua datang sementara, lalu pergi lagi menuju tujuan masing-masing.

Hidup pun kurang lebih seperti itu. Kita bertemu orang, berpisah, berpindah tempat, memulai hal baru, meninggalkan hal lama, lalu terus berjalan.

Bandara mengingatkan manusia bahwa hidup selalu bergerak.

Mungkin itu sebabnya banyak orang merasa suasana bandara sulit dijelaskan. Di balik suara pengumuman penerbangan dan langkah kaki yang tergesa-gesa, tempat ini sebenarnya sedang memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi: bahwa setiap orang sedang membawa perjalanan dan perasaannya masing-masing.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda