Kolom

Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless

Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
Ilustrasi seorang ayah dan anaknya di tepi pantai (Unsplash.com/ Cailin Grant-Jansen)

Ayah adalah rumah pertama bagi anak perempuan. Tapi bagaimana jika rumah itu tidak pernah dibangun?

Sudah lama saya ingin menulis topik fatherless, mengingat cukup panjang duka yang saya lewati untuk ini. Tetapi baru kali ini hati saya sedikit lapang untuk mencoba menulis kembali potongan-potongan pengalaman yang terjadi dalam dua puluh satu tahun hidup saya.

Kata fatherless sekarang merujuk kepada kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Di usia 20-an awal ini saya mulai menyadari apa saja dampak tumbuh kembang anak tanpa kehadiran sosok ayahnya, baik secara fisik maupun psikologis.

Saya tumbuh dengan banyak tanda tanya yang tidak pernah benar-benar terjawab. Tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki memperlakukan saya, tentang bagaimana rasanya merasa aman tanpa perlu selalu bersiap ditinggalkan, dan tentang bagaimana mencintai tanpa rasa takut kehilangan yang berlebihan.

Tidak hadirnya peran ayah bukan hanya soal tidak ada orang di rumah. Terdapat ruang kosong yang diam-diam memengaruhi cara saya memandang diri sendiri dan orang lain. Saya sering merasa harus menjadi kuat lebih cepat, memahami dunia tanpa panduan yang utuh, dan belajar dari luka yang bahkan saya tidak tahu asalnya dari mana.

Tepat kemarin sore, saya baru saja membaca sebuah penelitian yang berjudul “The Impact of the Loss of a Father's Role on a Daughter's Relationship Life”. Awalnya, saya kira itu hanya akan menjadi bacaan biasa. Paling hanya teori, data, dan hasil penelitian. Tapi ternyata, setiap kalimatnya seperti sedang membacakan ulang potongan-potongan hidup yang selama ini saya coba pahami.

Penelitian itu menjelaskan bagaimana kehilangan peran ayah tidak berhenti di masa kecil, tetapi ikut tumbuh bersama kita. Mulai dari cara kita mencintai, mempercayai, bahkan melihat diri sendiri.

Ketergantungan Emosional pada Laki-laki

Perempuan yang tumbuh tanpa sosok ayah cenderung memiliki kebutuhan emosional yang tinggi dalam hubungan. Mereka sering mencari perhatian, validasi, dan rasa aman dari pasangan, bahkan dalam intensitas yang berlebihan.

Kebutuhan akan Perlindungan dan Penerimaan

Ada dorongan kuat untuk merasa dilindungi dan diterima. Di mana hal ini seharusnya didapat dari peran seorang ayah. Kebutuhan ini kemudian dialihkan kepada pasangan, meskipun hubungan tersebut belum tentu sehat.

Pengambilan Keputusan yang Impulsif

Keputusan dalam hubungan, seperti menjalin relasi serius atau menikah, sering kali diambil secara emosional. Dorongan utamanya adalah keinginan untuk segera merasa aman dan tidak sendirian.

Rasa Tidak Aman dalam Hubungan

Perempuan fatherless kerap mengalami kecemasan dalam hubungan, seperti takut ditinggalkan, merasa tidak cukup baik, dan meragukan kestabilan hubungan yang dijalani.

Mencari Sosok Ayah dalam Pasangan

Pasangan tidak hanya dipandang sebagai kekasih, tetapi juga sebagai figur pengganti ayah. Tempat bergantung, mencari perlindungan, dan memenuhi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi sejak kecil.

Dampak pada Kesehatan Mental

Kondisi fatherless juga berkaitan dengan berbagai tantangan psikologis, seperti kecemasan, kesepian, rendahnya harga diri, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Minimnya Dampak Positif dalam Relasi

Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya peran ayah lebih banyak membawa dampak negatif dalam kehidupan hubungan tanpa ditemukan pengaruh positif yang signifikan.

Ketujuh poin tersebut merupakan rangkuman dari temuan penelitian yang saya baca. Saya berharap, baik untuk diri saya, maupun teman-teman yang merasakan hal serupa, tulisan ini bisa menjadi langkah awal untuk kita lebih sadar terhadap diri sendiri.

Pelan-pelan, kita bisa belajar membangun rasa aman dari dalam diri, bukan semata-mata mencarinya dari orang lain. Meskipun kita tidak bisa memilih bagaimana kita tumbuh, kita tetap punya pilihan tentang bagaimana kita melanjutkan hidup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda