Kolom

Ketika Tidak Ada Ruang Rapuh untuk Perempuan: Kuat Jadi Terasa Melelahkan

Ketika Tidak Ada Ruang Rapuh untuk Perempuan: Kuat Jadi Terasa Melelahkan
Ilustrasi perempuan kuat (Pexels/Zizi zi)

Sejak kecil, saya sering mendengar kalau perempuan harus kuat. Harus tahan banting, mandiri, dan bisa menghadapi apa pun tanpa banyak mengeluh. Kalimat itu terdengar seperti bentuk dukungan sekaligus beban.

Semakin dewasa, saya mulai sadar bahwa di balik pujian “perempuan kuat”, ada beban yang diam-diam melelahkan. Karena saat sudah dianggap kuat, dunia seperti lupa jika perempuan juga manusia yang bisa lelah.

Dan jujur saja, menjadi perempuan yang terus dituntut kuat tidak selalu terasa membanggakan. Sering kali justru kerap kehilangan ruang untuk rapuh, meski hanya sebentar.

Terbiasa Menahan Diri Sendiri

Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai terbiasa berkata “aku nggak apa-apa”, bahkan ketika sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin karena terlalu sering merasa harus terlihat tenang.

Seolah saya harus tetap bisa menjalani semuanya meskipun hati sedang penuh. Kadang ingin bercerita, ingin mengaku kalau capek. Tapi ada rasa takut dianggap lemah, terlalu sensitif, atau tidak dewasa.

Akhirnya, saya memilih diam. Menahan semua beban dan mengambil peran sebagai perempuan kuat lagi di hadapan dunia. Dan tanpa sadar, kebiasaan memendam itu menjadi bagian dari hidup sehari-hari.

Perempuan Sering Dituntut Menjadi Segalanya

Menurut saya, perempuan sering berada di posisi yang serba salah. Harus mandiri, tapi tidak boleh dianggap terlalu dominan. Harus peduli, tapi juga dituntut sukses untuk dirinya sendiri. Harus kuat menghadapi masalah, tapi tetap dituntut terlihat lembut.

Ekspektasi itu datang dari banyak arah—keluarga, lingkungan, media sosial, bahkan dari sesama perempuan. Lama-lama saya merasa seperti terus berusaha memenuhi standar yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan itu melelahkan.

Ketika Menangis Saja Terasa Sulit

Ada satu fase di mana saya sadar kalau saya terlalu terbiasa menjadi “yang kuat”. Saat sedang sedih, saya tetap mencoba terlihat biasa saja. Menangis terasa seperti kemewahan di tengah “kesibukan” menjalani rutinitas.

Ironisnya, banyak orang justru semakin bergantung ketika melihat kita terlihat mampu menghadapi semuanya. Akhirnya, ruang untuk rapuh semakin sempit.

Padahal, perempuan kuat juga tetap butuh didengar. Tetap butuh dipeluk. Tetap ingin merasa aman tanpa harus selalu terlihat tangguh.

Media Sosial Membentuk Standar “Strong Woman

Saya juga merasa media sosial punya pengaruh besar dalam membentuk gambaran perempuan ideal. Perempuan kuat sering digambarkan sebagai sosok yang produktif, mandiri, sukses, dan tetap terlihat baik-baik saja dalam segala situasi.

Konten tentang strong independent woman memang bisa memberi motivasi. Tapi kadang juga menciptakan tekanan baru. Seolah perempuan hebat adalah perempuan yang bisa menghadapi semuanya sendiri. Padahal, tidak.

Rapuh Bukan Berarti Lemah

Hal yang paling sulit saya pelajari adalah menerima bahwa menjadi rapuh tidak membuat saya gagal menjadi perempuan kuat. Saya masih boleh merasa sedih, bingung, dan meminta bantuan saat keadaan terasa terlalu berat.

Karena pada dasarnya manusia memang punya batas. Dan ternyata, mengakui bahwa diri sendiri lelah justru membutuhkan keberanian yang tidak kecil.

Sekarang saya mulai mencoba lebih jujur terhadap perasaan sendiri. Tidak lagi memaksa diri untuk selalu terlihat baik-baik saja. Pelan-pelan, saya belajar kalau istirahat juga penting.

Perempuan Tidak Harus Selalu Menjadi “Superhero”

Semakin dewasa, saya meyakini kalau perempuan tidak harus selalu menjadi sosok yang bisa mengatasi semuanya sendirian. Tidak harus selalu kuat untuk semua orang. Tidak harus selalu mengalah.

Perempuan juga tidak harus terus bertahan hanya demi dianggap hebat. Karena di balik semua tuntutan itu, perempuan tetap manusia biasa yang punya rasa takut, kecewa, dan lelah.

Dan menurut saya, dunia perlu lebih sering memberi ruang bagi perempuan untuk menjadi manusia—bukan sekadar simbol kekuatan.

Kuat Boleh, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Diri

Saya masih ingin menjadi perempuan yang mandiri dan kuat. Tapi sekarang, saya tidak ingin lagi mendefinisikan kuat sebagai kemampuan untuk terus menahan semuanya sendirian. Tidak apa-apa jika sedang tidak baik-baik saja.

Perempuan tidak selalu harus terlihat tangguh setiap waktu, kok. Kadang, menjadi rapuh sejenak bukan tanda kelemahan, tapi cara kita untuk tetap bertahan tanpa kehilangan diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda