Kolom

Belanja Online Pakai Paylater: Menyelamatkan di Awal, Menegangkan di Akhir

Belanja Online Pakai Paylater: Menyelamatkan di Awal, Menegangkan di Akhir
Ilustrasi belanja online pakai paylater (Pexels/Nataliya Vaitkevich)

Saya tidak pernah benar-benar menganggap paylater sebagai sesuatu yang berbahaya. Bagi saya, fitur ini seperti jembatan kecil, dipakai saat benar-benar perlu, lalu ditinggalkan setelah sampai tujuan. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi rupanya, jembatan itu bisa berubah jadi jalan berliku jika kita lengah sedikit saja.

Kisah pengalaman saya belanja online pakai paylater ini bermula pada 18 Januari 2026. Hari itu, adik saya sedang sangat ingin membeli sebuah tablet (Huawei MatePad 11,5) yang kebetulan sedang tampil di live toko online oranye. Harga awalnya Rp 6.599.000, lalu turun menjadi Rp 5.979.000. Selisihnya lumayan, cukup menggoda logika siapa pun yang sedang menimbang-nimbang budget.

Pesan Tablet Huawei MatePad 11,5

Pesanan saya, Tablet Huawei MatePad 11,5 (Shopee)
Pesanan saya, Tablet Huawei MatePad 11,5 (Shopee)

Masalahnya, saat itu kondisi keuangan saya tidak sepenuhnya siap. Uang yang tersedia hanya sekitar Rp 2 jutaan. Jauh dari cukup. Tapi justru di titik itulah paylater masuk sebagai solusi. Tanpa perlu berpikir panjang, saya mulai menghitung. Bukan asal klik. Saya coba duduk, mencatat pengeluaran bulanan, memperkirakan kebutuhan ke depan. Hasilnya, terlihat masih aman.

Akhirnya saya ambil keputusan. Saya memilih skema cicilan tiga bulan, dengan nominal Rp 1.982.749 per bulan, jatuh tempo setiap tanggal 25. Rasanya ringan. Bahkan terlalu ringan. Proses checkout terasa cepat, hampir tanpa beban. Saat itu, saya merasa sedang membuat keputusan yang rasional.

Nominal Cicilan Tiap Bulan

Bayar Rp1.982.749 setiap bulan (Shopee)
Bayar Rp1.982.749 setiap bulan (Shopee)

Bulan tagihan pertama datang, Februari 2026. Saya ingat betul, bahkan sebelum tanggal 25, saya sudah melunasi cicilan. Begitu juga di bulan Maret. Tidak ada masalah. Tidak ada drama. Semua berjalan sesuai rencana. Di titik itu, saya mulai merasa paylater benar-benar membantu. Seolah-olah saya berhasil mengendalikan sistem tersebut.

Tapi rupanya, rasa percaya diri yang berlebihan sering kali menjadi awal dari kelengahan. Masuk tagihan bulan ketiga, April 2026, ritme hidup saya mulai berubah. Ada banyak hal yang harus dipikirkan. Kebutuhan lain datang bertubi-tubi. Tanpa sadar, pikiran saya tidak lagi tertuju pada satu cicilan yang tersisa itu. Saya benar-benar lupa.

Sampai suatu hari, sebuah pesan singkat masuk via WhatsApp. Isinya sederhana, tapi cukup membuat dada terasa sesak. Operator toko oranye pengingat bahwa saya memiliki cicilan yang harus dibayar paling lambat tanggal 25 April 2026.

Di situlah semuanya terasa berbeda. Saya langsung cek dompet. Kosong. Saya cek di rekening, saldo hanya sekitar Rp 200.000-an. Jauh dari cukup. Tidak ada ruang untuk menunda, apalagi menghindar. Tanggal terus berjalan, sementara kondisi tidak berpihak.

Saya mencoba bertanya ke istri. Siapa tahu masih ada simpanan. Tapi jawabannya sama: tidak ada. Kami sama-sama berada di titik yang sempit. Maklum, di bulan itu saya benar-benar banyak pengeluaran, terutama terkuras saat perbaikan dapur dan kamar mandi.

Di momen itu, paylater yang sebelumnya terasa seperti solusi, berubah menjadi tekanan. Bukan karena nominalnya yang tiba-tiba membesar, tapi karena saya tidak siap menghadapinya. Bukan sistemnya yang salah, tapi kelalaian saya sendiri yang membuat semuanya terasa berat.

Akhirnya, dengan sedikit rasa canggung yang dibalut candaan, saya meminta bantuan istri untuk meminjam uang ke ibu mertua. Jujur saja, itu bukan posisi yang nyaman. Ada rasa malu yang tak terlukis, ada juga rasa bersalah. Tapi di sisi lain, ada juga kesadaran bahwa ini adalah konsekuensi dari keputusan yang saya ambil sendiri. Syukurlah, ada dan diberi pinjaman.

Di awal Mei 2026, semua tanggungan itu sudah selesai. Cicilan itu lunas. Utang ke ibu mertua juga terbayar. Tidak ada denda, tidak ada masalah lanjutan. Tapi ada satu hal yang tertinggal, yaitu hikmah dan pelajaran.

Saya mulai melihat paylater dengan cara yang berbeda. Ia memang bisa menjadi penyelamat, terutama saat kebutuhan datang di waktu yang tidak tepat. Tapi di saat yang sama, ia juga bisa menjadi jebakan halus. Bukan karena bunganya, tapi karena kemudahannya, yang kemudian membuat saya enteng.

Klik “Bayar Nanti” itu terlalu sederhana. Bahkan kadang terasa seperti tidak sedang berutang. Padahal, di balik satu klik itu, ada komitmen yang harus dijaga. Dan yang sering terjadi, bukan kita tidak mampu membayar, tetapi kita hanya lupa bahwa kita punya kewajiban.

Sejak saat itu, saya jadi lebih berhati-hati. Bukan berarti saya berhenti menggunakan paylater sama sekali. Tapi saya mulai memperlakukannya dengan lebih serius. Tidak lagi hanya sekadar hitung-hitungan di awal, tapi juga memastikan ada ruang aman sampai akhir.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda