Kolom

Glow Up atau Tekanan Sosial? Saat Perempuan Dipaksa Selalu Terlihat Sempurna

Glow Up atau Tekanan Sosial? Saat Perempuan Dipaksa Selalu Terlihat Sempurna
Ilustrasi Perempuan (Freepik)

Sobat Yoursay, siapa sih yang tidak ingin menampilkan hal yang tampak bagus di media sosialnya?

Mungkin ada orang-orang yang memilih tampil apa adanya di media sosial. Tetapi, tidak sedikit juga orang yang ingin terlihat sempurna di sana. Apalagi di tengah budaya perempuan glow up yang semakin banyak bertebaran di media sosial.

Setiap hari, kita melihat linimasa yang penuh dengan konten before-after, orang-orang merawat diri melalui skincare routine, kemudian banyak yang mulai berolahraga demi mendapatkan body goals, hingga standar estetik yang kadang membuat orang lain merasa iri.

Budaya glow up yang awalnya merupakan salah satu bentuk pengembangan diri perlahan berubah menjadi tekanan sosial baru. Dan banyak perempuan mulai memaksa diri mengikuti standar tersebut. Lalu di tangan mereka, media sosial seolah berubah menjadi “galeri estetik” yang hanya menampilkan foto terbaik mereka.

Hal serupa sempat saya rasakan. Banyaknya postingan versi terbaik orang lain membuat saya sempat merasa harus mengunggah versi terbaik diri saya juga. Meskipun tidak benar-benar mengikuti standar, karena bagi saya media sosial memang galeri, tetapi fungsinya untuk menjaga kenangan agar tetap ada jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ponsel dan penyimpanannya.

Kita semua tentunya sepakat jika merawat diri dan berkembang menjadi lebih baik merupakan hal yang positif. Tak bisa dipungkiri juga jika itu bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri, menjaga kesehatan, membangun kebiasaan, dan memperbaiki kualitas hidup kita. Namun, persoalannya adalah saat budaya glow up ini berubah menjadi tekanan baru bagi perempuan.

Saat tekanan mulai terasa, biasanya perempuan akan merasa harus terlihat lebih dari dirinya yang sekarang. Baik itu lebih cantik, lebih produktif, lebih estetik, maupun lebih sukses. Adanya media sosial membuat semua standar tersebut seolah adalah hal yang normal. Bahkan algoritma pun rasanya ikut mendukung dengan terus memperlihatkan versi “sempurna” pengguna.

Fenomena ini bukan sesuatu yang bisa disepelekan, sebab dampaknya bisa membuat perempuan menjadi lebih mudah membandingkan dirinya, merasa tertinggal, bahkan merasa tidak cukup. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya merasakan kelelahan mental karena terus memaksakan diri memenuhi standar tersebut.

Ironisnya lagi, tekanan itu sering kali tidak kita sadari karena dibungkus dengan kalimat-kalimat motivasi. Kedengarannya, sih, memang positif, tetapi jika terus-menerus dikonsumsi tanpa batas, perempuan bisa merasa bahwa dirinya harus selalu berubah agar layak dihargai.

Padahal setiap orang memiliki kondisi hidup, kemampuan, dan proses yang berbeda-beda. Tidak semua perempuan memiliki waktu, tenaga, finansial, maupun lingkungan yang mendukung untuk mengikuti standar glow up yang beredar di media sosial. Namun karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain, banyak perempuan tanpa sadar mulai merasa tertinggal hanya karena hidupnya tidak terlihat seindah konten di internet.

Dampak lain yang turut mengikutinya adalah saat perempuan akhirnya kehilangan hubungan sehat dengan dirinya sendiri. Menjadi orang yang sulit bersyukur, merasa insecure terus-menerus, merasa tak pernah puas, hingga lupa menikmati proses hidup yang dia jalani. Mereka sibuk mengejar versi terbaik dirinya, sampai lupa memeluk dirinya yang sekarang.

Padahal di saat yang sama, penerimaan diri dan upaya berkembang bisa berjalan beriringan. Perbaikan diri seharusnya lahir dari rasa sayang terhadap diri kita sendiri, bukan dari keterpaksaan maupun tekanan. Selain itu, kita juga perlu mengingat bahwa tidak semua perempuan harus menjadi versi ideal seperti standar media sosial. Kita bisa menjalani semua dan tumbuh perlahan. Kita tidak harus menjadi sosok yang selalu terlihat produktif. Kita hanya perlu tetap menjadi diri sendiri.

Kita semua memahami berkembang itu baik, tetapi jangan sampai prosesnya membuat perempuan merasa dirinya tidak layak sebelum berubah sepenuhnya. Pada dasarnya, glow up yang sehat bukan tentang menjadi orang lain yang lebih sempurna, melainkan tetap mampu menghargai diri sendiri di setiap prosesnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda