Kolom

Sambo S2 di Lapas Pakai Beasiswa, Logika Kita yang Rusak atau Dia yang Sakti?

Sambo S2 di Lapas Pakai Beasiswa, Logika Kita yang Rusak atau Dia yang Sakti?
Ilustrasi S2 di lapas (Gemini AI/Nano Banana)

Hari ini, sambil menyeruput kopi, saya mencoba memproses sebuah informasi yang berseliweran di linimasa. Isunya: Ferdy Sambo, sang sutradara kasus Duren Tiga, dikabarkan sedang kuliah S2 daring dengan beasiswa.

Pikiran pertama saya, wait, jangankan mau S2 pakai beasiswa, saya saja mau daftar jadi staf admin di ruko sebelah harus setor SKCK yang bersihnya mengalahkan piring baru dicuci. Tapi di sini, kita bicara soal seseorang yang terbukti melakukan pembunuhan berencana. Logikanya di mana?

Kalau kita pakai kacamata rakyat jelata, ini jelas tidak masuk akal. Tapi mari kita bedah menggunakan 'Logika Konoha' yang sering kali punya jalur khusus.

1. Hak Pendidikan vs Kelayakan Etis

Secara hukum, pasal-pasal di negeri kita memang menjamin bahwa setiap narapidana berhak mendapatkan pendidikan. Oke, itu konstitusional. Tapi, ada jurang lebar antara "hak mendapat pendidikan" dengan "mendapat beasiswa". Beasiswa itu, dalam pemahaman manusia normal, adalah apresiasi atau bantuan untuk mereka yang terpilih secara prestasi dan rekam jejak.

Logika mana yang digunakan pemberi beasiswa jika mereka memilih seseorang yang rekam jejaknya adalah menghabisi nyawa ajudannya sendiri? Jika beasiswa ini berasal dari pajak rakyat (negara), maka ini adalah penghinaan bagi mahasiswa jujur yang harus ngutang sana-sini demi bayar UKT. Jika ini beasiswa swasta, maka kita patut bertanya, apa nilai brand yang ingin mereka bangun dengan menguliahkan seorang terpidana pembunuhan?

2. Misteri SKCK dan Administrasi Gaib

Ini yang paling bikin perut geli. Setiap kampus atau lembaga beasiswa biasanya punya syarat administrasi yang ketat. Salah satunya: Tidak sedang menjalani hukuman pidana atau memiliki catatan kriminal. Nah, di kasus Sambo, syarat ini sepertinya loading-nya lama atau mungkin kena adblock.

Bagaimana mungkin sistem administrasi yang biasanya sangat "kejam" pada rakyat kecil, yang kalau beda satu huruf di kartu keluarga saja disuruh pulang, bisa mendadak jadi sangat fleksibel untuk seorang mantan jenderal? Apakah ada kolom khusus di formulir pendaftaran yang berbunyi: "Apakah Anda sedang dipenjara karena kasus nasional? ( ) Ya [Dapatkan Diskon Beasiswa]"?

3. Kuliah Daring: Antara Belajar dan Fasilitas VVIP

Logika perkuliahan daring di lapas juga sangat menantang nalar. Kuliah S2 itu berat, kawan. Butuh koneksi internet stabil buat Zoom, butuh akses jurnal internasional, dan butuh gadget yang mumpuni.

Di saat narapidana lain mungkin harus berebut udara segar atau antre wartel lapas cuma buat kabar-kabaran sama keluarga, ada mahasiswa "istimewa" yang bisa diskusi tesis daring.

Secara sosiologis, ini bukan lagi soal rehabilitasi agar narapidana jadi orang baik setelah keluar. Ini adalah pameran privilege (keistimewaan) yang telanjang. Ini menunjukkan bahwa tembok penjara itu hanya tebal bagi mereka yang tidak punya kuasa, tapi transparan dan penuh sinyal Wi-Fi bagi mereka yang punya "jalur dalam".

4. Dampak Psikologis: Luka yang Digarami

Bayangkan perasaan keluarga mendiang Yosua. Mereka kehilangan masa depan anaknya secara permanen, sementara sang dalang justru sedang sibuk "membangun masa depan" dengan gelar akademik baru.

Logika keadilan macam apa yang membiarkan seorang pembunuh berencana merasa tetap produktif dan berprestasi di tengah masa hukumannya? Ini bukan sekadar isu pendidikan, ini soal rasa empati yang sudah mati dalam sistem hukum kita.

Saya ingin kita semua mempertanyakan terkait, apakah kita sedang menuju era di mana prestasi akademik bisa membasuh noda kriminal yang paling hitam sekalipun?

Jika benar Sambo bisa kuliah S2 dengan beasiswa, maka sistem kita sedang mengirim pesan bahwa: "Jangan takut melanggar hukum, asalkan kamu punya cukup 'power' untuk tetap bisa sekolah tinggi di dalam sana."

Pendidikan memang untuk semua orang, tapi beasiswa dan fasilitas istimewa harusnya punya standar moral yang tinggi. Jangan sampai gelar S2 yang nanti diraih di dalam sel itu justru jadi simbol bahwa di negeri ini, hukum bisa ditekuk sedemikian rupa asal kita tahu cara mengoperasikan "algoritma"-nya.

Jadi, buat kalian yang masih pusing mikirin biaya kuliah dan ribetnya bikin SKCK, tetap semangat ya! Mungkin kita cuma kurang "berbakat" jadi sutradara drama nasional. Bagaimana menurutmu? Logis, atau murni ajaib?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda