Kolom

Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?

Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?
Ilustrasi Ibu dan Anak (Magnific.com/jcomp)

"Tugas perempuan itu, ya, mengurus masalah dapur, sumur, dan kasur."

Pernah dengar kalimat itu? Kalau pernah, berarti kita sama. Saya pun cukup familiar dengan kalimat tersebut. Sebuah istilah patriarki yang membatasi peran perempuan hanya seputar tiga hal: dapur (memasak), sumur (mencuci dan membersihkan rumah), kasur (melayani dan memuaskan suami di ranjang).

Kata-kata itu mungkin terdengar seperti ungkapan lama. Namun faktanya, pola pikir yang sama masih sering muncul di zaman sekarang. Tidak sedikit laki-laki di luar sana yang mencari istri hanya untuk mengerjakan tugas-tugas domestik seperti itu. Yang menunjukkan bahwa meskipun zaman sudah jauh berkembang, perempuan sering kali masih dibatasi oleh cara pandang lama.

Budaya patriarki nyatanya belum berhenti hingga hari ini. Tak jarang, orang masih memandang perempuan sebagai figur yang "ideal" jika bisa menurut pada suami, pandai mengurus rumah, tidak terlalu vokal dan ambisius. Sebaliknya perempuan yang mandiri, aktif bersosial, dan mengejar karier malah sering kali mendapatkan stigma negatif. Dianggap tidak bisa mengurus rumah, mengabaikan suami, menelantarkan anak, melupakan kodrat sebagai perempuan dan lain sebagainya. Standar yang demikian ini kemudian tanpa sadar membuat banyak perempuan tumbuh dengan perasaan bahwa mereka harus mengecilkan dirinya dan tidak sepantasnya mengejar impian agar diterima orang di sekitarnya.

Tak berhenti di sana, paham patriarki sering kali membuat perempuan dipaksa untuk memilih antara mengejar karier atau fokus mengurus keluarga. Namun, meski sudah memilih salah satu di antara dua hal itu, orang-orang masih saja mengomentari pilihan mereka. Jika mengejar karier, dianggap melawan kodrat. Sementara jika memilih fokus mengurus keluarga, dianggap tidak bisa berkembang. Wah, ribet sekali rasanya jadi perempuan, apapun yang dipilih terkesan serba salah di mata orang lain.

Suatu ketika, saya membaca postingan di media sosial. Ada seorang suami yang sibuk bekerja dan meninggalkan istrinya mengurus semua pekerjaan rumah tangga sendirian. Lalu saat istrinya jatuh sakit karena kelelahan, dia masih bertanya, "Bagaimana bisa dia kelelahan saat sehari-harinya hanya diam di rumah?" 

Jujur di situ saya sudah cukup speechless. Tapi tetap saya lanjutkan membaca sampai akhir. Lalu saat kondisi istrinya drop itu, sang suami mau tak mau harus mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga. Dan di sanalah dia baru tersadar betapa lelahnya mengasuh anak sembari mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Sudah begitu, setiap kali pulang bekerja, dia tidak pernah menanyakan kondisi istrinya sekalipun. Yang dia tahu, hanyalah saat pulang kondisi rumah sudah bersih, rapi, dan wangi. Anak-anak sudah tenang bersama ibunya. Tanpa tahu ada proses yang begitu berat di balik semua yang terlihat.

Dari kisah itu, saya bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata masih banyak orang yang menganggap sepele pekerjaan rumah tangga. Padahal meskipun tidak terlihat seperti "pekerjaan sungguhan", mengerjakan tugas-tugas domestik bukan hal yang ringan. Membersihkan rumah, memasak, mencuci, hingga mengasuh anak membutuhkan tenaga dan energi yang besar, baik secara fisik maupun mental.

Sebagai seseorang yang belum menikah, saya memang belum sepenuhnya berpengalaman mengurus anak sekaligus mengerjakan urusan domestik rumah tangga. Namun, saya bisa mengamati dan membayangkan orang-orang yang ada di sekitar juga cerita pasangan suami-istri di media sosial. Ternyata masih banyak lelaki yang mempunyai pola pikir seperti itu. Dan jujur saja, ini membuat saya sedikit takut dengan pernikahan. Karena menjadi perempuan dengan peran istri juga ibu bukanlah hal yang mudah.

Banyak perempuan yang hidup dalam tuntutan harus menjadi ibu yang baik, istri yang patuh pada suami, harus tetap cantik, sabar, dan kuat apapun kondisinya. Ironisnya lagi, tuntutan semacam ini sering dianggap normal hanya karena gender perempuan yang mereka bawa. Seolah mereka harus menjadi "superwoman" setiap hari tanpa ada ruang untuk merasa lelah dan beristirahat sejenak.

Paham patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk larangan keras. Kadang juga dengan kalimat-kalimat yang terkesan sederhana, seperti: "jadi istri harus nurut sama suami," atau "buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau ujungnya juga di dapur." Kata-kata seperti itu, meski terlihat biasa saja, tetapi tetap ada unsur mengecilkan dan membatasi perempuan untuk berkarya.

Padahal sejak dulu Ibu Kartini sudah memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bisa berkarya, bersuara, dan mengejar mimpinya dengan bebas seperti laki-laki. Kesetaraan gender pun masih terus dibicarakan hingga kini. Namun sampai sekarang, mengapa pola pikir seperti ini masih terus bertahan?

Saya tak punya jawaban pasti. Entah karena pola asuh orang tua atau semata karena keinginan untuk terlihat lebih "unggul" dari perempuan. Tetapi di sini, saya tidak sedang menyerang siapapun. Yang saya bicarakan adalah tentang pola pikir yang membatasi perempuan. Sebab bagaimanapun, laki-laki maupun perempuan pantas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menentukan hidupnya sendiri.

Perempuan yang ingin berkembang bukan berarti menolak peran domestik. Mereka hanya ingin memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Dan tentunya, peran perempuan tentu lebih dari sekadar urusan sumur, dapur, dan kasur ataupun konsep macak (berdandan), masak (memasak), dan manak (melahirkan anak) yang selama ini sering dilekatkan pada mereka. Mereka pun berhak untuk bermimpi, bersuara, berpendidikan, dan menentukan masa depannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda