Kolom
Menakar Kebijakan Ekspor SDA: Mandiri atau Cuma Jadi Sapi Perah?
Belakangan ini, obrolan soal rombak-rombak aturan ekspor bahan mentah lagi anget-angetnya di tongkrongan publik. Paling gres, media Babel Insight sempat menyoroti kritik pedas dari Perkumpulan Organisasi Pemuda Pemudi Bangka Belitung (POPSI) yang minta pemerintah buru-buru meninjau ulang kebijakan ekspor Sumber Daya Alam (SDA) kita.
Jujur saja, protes ini bukan cuma sekadar angin lalu. Ini tuh semacam tamparan keras dari daerah yang dari dulu cuma bisa jadi penonton waktu kekayaan buminya dikeruk habis-habisan. Masalah ini jadi penting banget kita ulik karena ujung-ujungnya nanya ke hal yang paling mendasar: sebetulnya, semua hasil bumi ini dikelola buat kemakmuran siapa, sih?
Kalau mau buka-bukaan, daerah penghasil komoditas kayak Bangka Belitung itu sering banget dapet apesnya, ibarat ayam mati kelaparan di lumbung padi. Di atas kertas, angka ekspornya emang kelihatan mentereng dan bikin dahi pejabat tersenyum lebar. Tapi realitanya di lapangan? Masyarakat lokal biasanya cuma kebagian ampas alias getahnya doang. Tengok saja itu lubang tambang yang menganga lebar mirip monster kelaparan, belum lagi lingkungan yang rusak parah plus ketimpangan sosial yang makin njomplang. Pas kebijakan ekspor cuma ngejar setoran devisa tanpa mikirin kesiapan industri dalam negeri, ya sama saja kita lagi memelihara gaya ekonomi zaman kompeni tapi versi modern.
Efek domino dari sengkarut kebijakan ini jelas nggak main-main, berasa sampai ke level lokal bahkan global. Buat warga lokal, regulasi yang mencla-mencle dan eksploitasi yang ugal-ugalan itu taruhannya ruang hidup mereka sendiri. Nyari air bersih jadi susah, lahan tani hancur, dan masa depan anak cucu kayak sengaja digadaikan. Padahal kalau main di panggung dunia, Indonesia itu punya posisi tawar yang kuat banget, bukan kaleng-kaleng. Kita bukan negara semenjana yang bisa disetir gitu aja sama pasar global. Kalau kita hobi jual barang mentahan terus tanpa ada nilai tambah di rumah sendiri, ya itu namanya kita lagi motong kaki sendiri sebelum mulai balapan. Dunia itu butuh barang kita, jadi sudah saatnya kita yang pegang kendali permainan, bukan malah manut-manut aja.
Jangan Lupa, Alam Itu Cuma Titipan
Gegeran soal ekspor SDA ini sejatinya mengetuk sisi moral kita sebagai manusia. Ingat, alam ini bukan warisan nenek moyang yang bisa kita foya-foyakan dalam semalam sampai ludes. Alam itu titipan anak cucu yang mesti kita rawat baik-baik. Gerakan anak muda di POPSI yang mulai berani bersuara itu jadi bukti nyata kalau generasi sekarang emoh cuma duduk manis nonton rumah mereka pelan-pelan runtuh demi angka pertumbuhan ekonomi yang semu. Nggak elok rasanya kalau keputusan ekonomi cuma diambil berdasarkan grafik untung-rugi di atas meja rapat yang ber-AC, tanpa mikirin nasib orang-orang yang hidup di atas tanah itu.
Pekerjaan rumah buat pemerintah dan para pemangku kebijakan jelas masih numpuk dan bikin pusing. Istilah hilirisasi jangan cuma jadi pemanis bibir waktu pidato kenegaraan pas Agustus-an aja, tapi kudu beneran jalan secara transparan dan adil dari hulu ke hilir. Kita butuh aturan main yang tegas, pengawas yang nggak mempan disuap alias masuk angin, sama nyali yang gede buat dengerin keluhan masyarakat di bawah. Jangan sampai kita baru sibuk kasak-kusuk pas isi bumi sudah ludes des, dan yang tersisa cuma tanah tandus yang nggak bisa lagi menghidupi warga sendiri.
Sekarang, masa depan pengelolaan kekayaan alam kita betul-betul lagi ada di persimpangan jalan yang krusial. Mau milih jalan pintas yang penting dapet duit cepat lewat ekspor mentahan, atau mau sedikit bersakit-sakit dulu demi kedaulatan ekonomi yang beneran mandiri? Sejarah bakal mencatat dengan jeli tiap keputusan yang kita ambil hari ini.
Gimana nih kalau menurut pandangan Anda? Apakah kebijakan ekspor SDA kita yang sekarang ini sudah beneran pro sama rakyat kecil di daerah, atau jangan-jangan cuma bikin kantong segelintir elite makin tebal? Yuk, tulis opini atau unek-unek kritis Anda di kolom komentar di bawah!