Kolom

Yang Perlu Dikampanyekan Adalah Kesiapan Finansial, Bukan Penghinaan

Yang Perlu Dikampanyekan Adalah Kesiapan Finansial, Bukan Penghinaan
ilustrasi keluarga (unsplash/@skynesher)

Kalau miskin jangan punya anak. Kalimat ini belakangan semakin sering muncul dalam perdebatan di media sosial. Biasanya, kalimat itu dilontarkan sebagai respons terhadap berbagai persoalan sosial, mulai dari kemiskinan, stunting, putus sekolah, hingga kesulitan orang tua memenuhi kebutuhan anak.

Masalahnya, meskipun mungkin dimaksudkan sebagai ajakan untuk bertanggung jawab, cara penyampaiannya justru terdengar merendahkan. Kalimat tersebut menghakimi keadaan ekonomi seseorang, seolah-olah kemiskinan menghapus hak seseorang untuk membangun keluarga.

Padahal, persoalan yang sebenarnya bukanlah boleh atau tidak boleh memiliki anak, melainkan kesiapan menjadi orang tua. Karena itu, pesan yang jauh lebih tepat adalah rencanakan memiliki anak ketika kondisi finansial sudah cukup siap.

Perbedaan dua kalimat tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi maknanya sangat berbeda.

Kalimat pertama berangkat dari penghakiman. Fokusnya adalah kemiskinan sebagai identitas seseorang. Sementara kalimat kedua mengajak orang berpikir tentang perencanaan, tanggung jawab, dan masa depan anak yang akan dilahirkan.

Menjadi orang tua bukan hanya soal melahirkan anak. Ada tanggung jawab yang panjang setelahnya. Anak membutuhkan makanan bergizi, layanan kesehatan, pendidikan, tempat tinggal yang layak, perhatian, kasih sayang, hingga lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya. Semua itu membutuhkan kesiapan, termasuk kesiapan ekonomi.

Bukan berarti hanya keluarga kaya yang layak memiliki anak.

Kesiapan finansial tidak identik dengan menjadi miliarder atau memiliki rumah mewah. Yang dimaksud adalah kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga secara wajar tanpa harus terus-menerus hidup dalam tekanan ekonomi yang ekstrem. Setiap keluarga tentu memiliki standar yang berbeda sesuai kondisi dan lingkungan tempat tinggalnya.

Perencanaan keuangan sebelum memiliki anak justru merupakan bentuk kasih sayang kepada anak yang belum lahir. Orang tua berusaha memastikan bahwa ketika anak hadir, mereka mampu memberikan kehidupan yang sehat, aman, dan kesempatan berkembang sebaik mungkin.

Sayangnya, dalam banyak diskusi publik, isu ini sering dipersempit menjadi pertentangan antara hak dan ekonomi.

Padahal keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Setiap orang memiliki hak untuk membangun keluarga. Namun setiap hak juga selalu disertai tanggung jawab. Hak untuk memiliki anak berjalan beriringan dengan kewajiban memenuhi kebutuhan anak tersebut semampunya. Di sinilah pentingnya pendidikan mengenai perencanaan keluarga, literasi keuangan, kesehatan reproduksi, dan pengambilan keputusan yang matang sebelum memiliki anak.

Realitas ekonomi saat ini juga tidak bisa diabaikan. Harga kebutuhan pokok meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, layanan kesehatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara harga rumah dan biaya hidup di banyak kota terus naik. Kondisi ini membuat banyak pasangan muda memilih menunda memiliki anak hingga keadaan ekonomi mereka lebih stabil.

Pilihan tersebut bukan berarti mereka tidak menyukai anak.

Justru sebaliknya, mereka ingin memastikan bahwa kehadiran anak tidak menjadi awal dari kesulitan yang sebenarnya dapat dipersiapkan lebih baik.

Di sisi lain, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan kemiskinan sebagai akibat dari keputusan pribadi semata. Banyak keluarga jatuh miskin karena kehilangan pekerjaan, sakit berkepanjangan, bencana, krisis ekonomi, atau faktor-faktor lain yang berada di luar kendali mereka. Oleh karena itu, empati tetap harus menjadi bagian dari cara kita membicarakan isu ini.

Menyampaikan pentingnya kesiapan finansial tidak harus dilakukan dengan menghina mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Bahasa memiliki kekuatan besar. Kalimat yang kasar mungkin menarik perhatian sesaat, tetapi jarang mengubah cara berpikir orang. Sebaliknya, pesan yang disampaikan dengan hormat dan argumentatif lebih berpeluang diterima karena mengajak berdialog, bukan menghakimi.

Pada akhirnya, memiliki anak bukan sekadar keputusan biologis, melainkan keputusan hidup yang membawa konsekuensi jangka panjang. Setiap pasangan berhak menentukan kapan ingin memiliki anak, tetapi keputusan tersebut idealnya didasarkan pada pertimbangan yang matang, termasuk kesiapan mental, emosional, dan finansial.

Ada cara yang jauh lebih manusiawi untuk menyampaikan pesan yang sama. Alih-alih menghakimi keadaan ekonomi seseorang, lebih baik kita mengajak setiap calon orang tua merencanakan kehadiran anak ketika kondisi keluarga sudah cukup siap. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda