Kolom

Dunia Kerja Bagi Gen Z: Tetap Merasa Lelah Meski Produktif Sepanjang Hari

Dunia Kerja Bagi Gen Z: Tetap Merasa Lelah Meski Produktif Sepanjang Hari
Ilustrasi bekerja ala Gen Z (Pexels/cottonbro studio)

Banyak anak muda saat ini mengawali hari dengan daftar tugas yang panjang. Pagi kerja, siang mengikuti rapat, sore mengerjakan proyek sampingan, malam belajar skill baru atau membangun personal branding.

Jika masih ada waktu, media sosial pun menjadi tempat mencari inspirasi sekaligus hiburan dan dan sesekali hang out bareng teman atau keluarga. Sekilas, rutinitas seperti ini menunjukkan kalau Gen Z adalah generasi yang produktif.

Namun di balik itu, tidak sedikit yang mengaku tetap merasa lelah, bahkan ketika semua target harian berhasil diselesaikan. Kelelahan yang dirasakan bukan karena terlalu banyak pekerjaan, tapi tekanan untuk terus produktif setiap saat.

Produktif Seolah Menjadi Identitas

Di era digital, produktivitas tidak lagi sekadar menyelesaikan pekerjaan. Banyak orang merasa harus terus belajar, mengikuti webinar, membangun portofolio, aktif di media sosial, hingga mengembangkan berbagai keterampilan baru.

Melihat unggahan tentang pencapaian orang lain memang bisa menjadi motivasi. Namun, di sisi lain, hal itu juga dapat menciptakan perasaan bahwa kita harus selalu melakukan sesuatu agar tidak tertinggal.

Tentu saja produktif adalah hal yang baik. Hanya saja ketika produktivitas dijadikan ukuran utama keberhasilan, istirahat justru sering dianggap sebagai tanda kemalasan. Padahal, tubuh dan pikiran tetap butuh waktu untuk memulihkan energi.

Dunia Kerja yang Selalu Terhubung

Teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih fleksibel. Kita bisa bekerja dari mana saja, menghadiri rapat secara daring, hingga membalas pesan terkait pekerjaan melalui ponsel. Sayangnya, kemudahan ini juga membuat kabur batas antara waktu kerja dan waktu pribadi.

Tidak sedikit pekerja muda yang masih memeriksa email setelah jam kerja, membalas pesan saat akhir pekan, atau memikirkan pekerjaan ketika seharusnya sedang beristirahat. Kondisi ini membuat otak sulit benar-benar "berhenti bekerja", meski tubuh sudah tidak berada di kantor.

Media Sosial Menambah Tekanan Tanpa Disadari

Selain pekerjaan, media sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap rasa lelah yang dialami Gen Z. Setiap hari kita melihat orang lain mendapatkan promosi jabatan, memulai bisnis, atau membagikan rutinitas yang terlihat sangat produktif.

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan perjalanan sendiri dengan pencapaian orang lain. Kebiasaan ini membuat rasa lelah menjadi semakin besar. Bukan dampak pekerjaan bertambah, tapi karena ekspektasi terhadap diri sendiri ikut meningkat.

Padahal, setiap orang memiliki ritme dan perjalanan karier yang berbeda. Sebuah pencapaian tidak bisa digeneralisasi karena tujuan dan passion setiap orang juga berbeda.

Istirahat Bukan Berarti Tidak Berkembang

Saya merasa masih banyak orang yang menganggap istirahat sebagai sesuatu yang harus "diperoleh" setelah bekerja keras. Padahal, istirahat bukan hadiah, melainkan kebutuhan.

Tidur yang cukup, menikmati hobi, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar berjalan santai tanpa memikirkan pekerjaan juga merupakan bagian dari produktivitas jangka panjang.

Menurut saya, seseorang tidak akan kehilangan ambisi hanya karena memberi waktu bagi dirinya untuk beristirahat. Sebaliknya, kemampuan menjaga keseimbangan justru membantu kita bekerja dengan lebih fokus dan berkelanjutan.

Produktivitas yang Sehat Lebih Penting daripada Sekadar Sibuk

Bekerja keras tentu merupakan hal yang positif. Namun, saya percaya kalau menjadi sibuk tidak selalu berarti menjadi produktif setiap saat tanpa istirahat. Sebab produktivitas yang sehat bukan hanya tentang banyaknya pekerjaan yang selesai.

Produktivitas merupakan juga tentang cara kita menjaga kesehatan fisik, mental, dan hubungan dengan orang-orang di sekitar. Sesekali mengatakan "tidak" pada pekerjaan tambahan juga tidak masalah, kok.

Kita juga perlu menetapkan batas waktu kerja dan mengurangi distraksi digital sebagai bentuk pengelolaan diri yang penting. Dengan begitu, produktivitas bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan hidup yang lebih seimbang, bukan malah sumber tekanan.

Bekerja untuk Hidup, Bukan Hidup untuk Terus Bekerja

Dunia kerja Gen Z menghadirkan banyak peluang sekaligus tantangan. Teknologi memudahkan pekerjaan sekaligus membuat kita selalu terhubung. Media sosial memberi inspirasi, tapi terkadang ikut menciptakan tekanan untuk terus berkembang tanpa jeda.

Tidak ada yang salah dengan menjadi pribadi yang ambisius dan produktif. Namun, akan lebih baik jika produktivitas diiringi dengan kemampuan mengenali batas diri. Sebab kesuksesan tidak hanya diukur dari jadwal padat atau banyaknya target yang berhasil dicapai.

Kesuksesan juga berarti mampu menjalani pekerjaan dengan sehat, memiliki waktu untuk diri sendiri, dan tetap menikmati prosesnya. Karena bekerja seharusnya membantu kita membangun kehidupan yang lebih baik, bukan malah terus merasa lelah setiap hari.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda