Kolom

HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!

HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!
ilustrasi FOMO (unsplash/Tunahan Günkan)

FOMO membuat Gen Z merasa harus mengikuti semua tren. Namun, di momen HUT ke-81 RI kali ini, mungkin sudah saatnya memaknai kemerdekaan dengan berani memilih tren yang benar-benar sesuai.

Saya sendiri memahami kalau ada masa di mana kita merasa harus tahu semua hal yang sedang viral. Lagu yang sedang ramai, tempat nongkrong yang sedang populer, istilah terbaru di media sosial, sampai barang yang tiba-tiba dianggap wajib dimiliki.

Bagi Gen Z yang hidup sangat dekat dengan media sosial, FOMO bisa muncul hampir setiap hari hanya karena merasa takut tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang diikuti orang lain.

Tampaknya, kita harus mulai merenungkan fenomena ini dengan lebih mendalam, terlebih di momen kemerdekaan. Kalau kita merasa harus mengikuti semua tren agar tidak tertinggal, apakah kita masih benar-benar bebas memilih?

Tren Memang Menyenangkan, tapi Tidak Harus Selalu Diikuti

Mengikuti tren sebenarnya bukan hal yang salah. Tren bisa menjadi hiburan, cara menemukan teman dengan minat yang sama, dan bahkan membuka peluang memaksimalkan potensi maupun kemampuan diri.

Tidak dimungkiri, kini banyak tren kreatif di media sosial yang justru membuat Gen Z menemukan hobi, mengembangkan keterampilan, atau mengenal hal-hal baru. Hanya saja, masalahnya muncul saat mengikuti tren berubah menjadi kewajiban.

Kita membeli sesuatu hanya karena semua orang sedang memilikinya. Kita mencoba sesuatu karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan. Di titik ini, tren tidak lagi sekadar hiburan, tapi mulai memengaruhi pilihan kita.

FOMO: Kata “Tidak” Terasa Seperti Ketinggalan

FOMO mengakar kuat karena merasa semua orang sedang menjalani kehidupan yang menarik. Buka media sosial, ada teman yang mencoba tempat baru. Scroll lagi, ada tren terbaru. Geser lagi, muncul produk viral.

Beberapa menit kemudian, muncul tren lain yang seolah tidak boleh dilewatkan. Akhirnya, kita merasa akan dianggap ketinggalan zaman, kurang keren, kurang gaul, atau kurang berharga kalau aku tidak ikut tren.

Padahal, kehidupan bukan ajang perlombaan untuk mengetahui dan mencoba semua hal lebih cepat daripada orang lain. Bahkan meski kita tertinggal dari tren tertentu yang sedang viral sekalipun, itu tidak apa-apa, kok.

Merdeka Berarti Punya Alasan untuk Memilih

Menurut saya, kemerdekaan di era media sosial terlihat dari kemampuan untuk memilih dengan sadar. Kita boleh mengikuti tren karena suka sekaligus berhak melewatkannya saat merasa tidak sesuai dengan kebutuhan, minat, atau kondisi kita.

Ada perbedaan besar antara “aku ikut karena aku suka” dan “aku ikut karena takut ketinggalan.” Pilihan pertama datang dari keinginan, sementara pilihan kedua lebih banyak dipengaruhi tekanan sosial.

Di momen ini, Gen Z perlu mulai belajar mengenali perbedaan tersebut agar media sosial tidak semata-mata menjadi tempat mencari validasi. Kita punya kebebasan mutlak untuk memilih apa pun, meski dunia dipenuhi hal viral.

Tidak Semua yang Viral Harus Menjadi Bagian dari Hidup Kita

Algoritma media sosial memang membuat tren menyebar semakin cepat. Sesuatu yang pagi ini belum kita kenal bisa menjadi pembicaraan utama beberapa jam kemudian. Namun, viral bukan berarti wajib diikuti.

Kita tidak harus mencoba semua makanan yang sedang populer. Tidak harus membeli semua barang yang muncul di FYP. Tidak harus mengikuti setiap gaya atau istilah terbaru. Tidak semua yang viral harus menjadi bagian dari hidup kita.

Terkadang, menjadi diri sendiri justru berarti berani mengatakan, “Ini bukan untuk saya.” Terdengar sederhana, tapi di tengah budaya FOMO, kalimat tersebut membutuhkan keberanian yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Kemerdekaan Digital Dimulai dari Kesadaran

HUT ke-81 RI bisa menjadi momentum untuk memperluas makna kemerdekaan, terutama bagi Gen Z. Merdeka di era digital bukan berarti berhenti menggunakan media sosial atau menolak semua tren, kok.

Merdeka berarti memiliki kendali atas pilihan sendiri. Kita boleh mengikuti tren tanpa kehilangan identitas. Boleh menikmati FYP tanpa merasa harus memiliki semua yang ditampilkan. Boleh tertarik pada hal viral, tapi juga melewatkannya.

Mungkin, di tengah dunia yang terus berkata “jangan sampai ketinggalan”, bentuk kemerdekaan yang paling sederhana adalah berani menjawab, “Tidak apa-apa, saya tidak harus ikut semuanya.”

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda