Kolom

Perempuan Era Digital: Merdeka Memilih atau Masih Terbebani Standar Medsos?

Perempuan Era Digital: Merdeka Memilih atau Masih Terbebani Standar Medsos?
ilustrasi perempuan era modern (Pexels/Vlada Karpovich)

Perempuan di era digital punya lebih banyak ruang untuk menentukan hidupnya ingin menjadi siapa dan menjalani kehidupan seperti apa. Namun, benarkah sudah benar-benar merdeka jika standar sosial masih ikut menentukan pilihan?

Menjadi perempuan modern seharusnya terasa lebih bebas. Teknologi membuka akses terhadap pendidikan, pekerjaan, informasi, komunitas, hingga kesempatan untuk menyuarakan pendapat.

Namun, apakah perempuan benar-benar bebas memilih? Di satu sisi, media sosial (medsos) memberikan panggung. Di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan standar baru yang tidak kalah melelahkan.

Harus sukses, berpenampilan menarik, produktif, mandiri, memiliki karier, dan tetap terlihat bahagia demi dianggap "ideal" secara sosial. Kebebasan akhirnya bisa terasa seperti daftar tuntutan baru.

Ketika Pilihan Hidup Selalu Dikomentari

Perempuan era modern memiliki lebih banyak pilihan dibanding generasi sebelumnya. Ada yang memilih berkarier, menjadi ibu rumah tangga, membangun bisnis, melanjutkan pendidikan, atau menggabungkan berbagai peran.

Masalahnya, pilihan tersebut sering kali masih dianggap layak dikomentari. Perempuan yang fokus pada karier bisa ditanya kapan menikah. Perempuan yang memilih menikah muda ditanya mengapa tidak mengejar karier.

Sementara perempuan yang belum ingin menikah sering dianggap terlalu pemilih. Seolah-olah apa pun pilihannya, selalu ada standar sosial yang menunggu untuk memberikan penilaian.

Media Sosial Menciptakan Standar Baru

Dulu, standar sosial mungkin datang dari lingkungan terdekat. Sekarang, standar tersebut bisa muncul dari layar ponsel setiap hari. Sayangnya, standar ini bukannya memberi kebebasan tapi malah semakin menekan.

Media sosial memperlihatkan perempuan yang tampak sukses, produktif, bugar, modis, memiliki hubungan romantis yang harmonis, sekaligus mampu menjalankan karier dan kehidupan sosial. Tanpa sadar, gambaran tersebut menjadi standar pembanding.

Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih untuk ditampilkan. Akhirnya, kebebasan memilih bisa berubah menjadi tekanan untuk menjalani kehidupan yang terlihat "sempurna".

Perempuan Tidak Harus Bisa Semuanya

Ada anggapan kalau perempuan modern harus serba bisa. Mandiri secara finansial, memiliki karier, mampu mengurus rumah, menjaga hubungan sosial, mengikuti perkembangan tren, dan tetap punya waktu untuk merawat diri.

Padahal, kemampuan melakukan banyak hal bukan kewajiban yang harus dipenuhi setiap perempuan. Ada fase ketika seseorang ingin mengejar pendidikan atau memilih karier sebagai prioritas.

Ada pula masa seseorang butuh waktu untuk beristirahat atau sekadar menjalani hidup dengan lebih sederhana. Menjadi perempuan merdeka bukan berarti mampu melakukan semuanya, tapi bebas menentukan apa yang penting dalam hidupnya.

"Tidak" Juga Bisa Menjadi Bentuk Kemerdekaan

Kemerdekaan perempuan tidak hanya terlihat dari keberanian mengatakan "iya" terhadap kesempatan. Kemampuan mengatakan "tidak" juga sama pentingnya.

Tidak pada pekerjaan yang tidak sesuai nilai pribadi. Tidak pada hubungan yang membuat tidak nyaman. Tidak pada tren yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Bahkan, tidak pada pertanyaan orang lain yang terlalu masuk ke ranah pribadi.

Batasan bukan berarti seseorang menjadi egois, kok. Justru dengan menerapkan batasan akan membantu perempuan memahami kalau hidup tidak harus selalu memenuhi ekspektasi semua orang.

Definisi Sukses Tidak Harus Seragam

Salah satu bentuk kemerdekaan paling penting adalah menentukan sendiri arti sukses. Tidak harus seragam dengan semua orang, tapi sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan yang memang dicari.

Bagi seseorang, sukses mungkin berarti memiliki karier yang berkembang. Bagi yang lain, sukses berarti memiliki kehidupan yang tenang, dekat dengan keluarga, atau mampu melakukan pekerjaan yang disukai tanpa mengejar status tertentu.

Tidak ada satu definisi yang berlaku untuk semua perempuan. Karena itu, perempuan tidak seharusnya dipaksa memilih berdasarkan apa yang sedang dianggap ideal oleh masyarakat atau media sosial.

Pilihan hidup seharusnya lahir dari kesadaran, bukan rasa takut akan penilaian orang lain. di era perempuan bisa lebih banyak bersuara dan memilih, ternyata kebebasan tetap membutuhkan keberanian.

Berani untuk menentukan batas, menolak standar yang tidak relevan, dan menerima kalau setiap perempuan memiliki perjalanan berbeda. Ingat, perempuan merdeka bukan perempuan yang berhasil memenuhi semua ekspektasi.

Justru kemerdekaan perempuan datang dari kemampuan dalam mengambil keputusan tentang hidupnya sendiri tanpa terus merasa harus meminta izin pada standar sosial. Sudahkan kamu mampu berkata, "Ini hidup saya, dan saya berhak menentukan arahnya"?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda