Kolom

Niat Curhat ke Sahabat untuk Cari Ketenangan, Ujungnya Malah Jadi Adu Nasib

Niat Curhat ke Sahabat untuk Cari Ketenangan, Ujungnya Malah Jadi Adu Nasib
Fenomena adu nasib yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari [Gemini AI]

Hampir semua orang pasti pernah mencurahkan isi hati kepada sahabat saat sedang diterpa masalah, bukan? Niat hati ingin mendapat pencerahan agar masalah terasa lebih ringan, tapi nyatanya yang didapat malah justru sebaliknya.

Bukannya didengarkan, kita justru kadang disuruh mendengarkan keluh kesah lawan bicara yang membanding-bandingkan masalahnya dengan masalah yang kita hadapi.

"Ah, kamu mah masih mending. Kalau aku malah lebih parah dari kamu...”

Kalimat itu pasti sering kita dengar saat kita sedang mencurahkan keresahan hati kepada seseorang yang kita sebut sebagai sahabat.

Baru saja kita menceritakan keresahan tentang pekerjaan, tiba-tiba sahabat membalas bahwa beban pekerjaannya jauh lebih berat.

Kita mengeluhkan gaji yang pas-pasan, lalu ia mulai menghitung cicilan rumah, biaya sekolah anak, sampai tagihan yang belum lunas.

Obrolan yang awalnya tentang satu orang, berubah menjadi kompetisi siapa yang paling menderita. Alih-alih mendapatkan pencerahan, aksi adu nasib itu justru malah menambah beban pikiran baru bagi orang yang sedang curhat tersebut.

Padahal, terkadang, kita hanya perlu didengar dan ditenangkan. Syukur-syukur kalau dikasih solusi dan pencerahan.

Tapi, jangankan solusi, si tukang adu nasib itu justru kadang malah sering kali lebih sibuk menyiapkan cerita balasan daripada benar-benar mendengarkan lawan bicaranya. Seolah-olah masalah pribadinya jauh lebih berat dan harus lebih diperhatikan.

Solusi Tak Didapat, Justru Menambah Beban Mental

Fenomena adu nasib yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari [Freepik/Magnific]
Fenomena adu nasib yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari [Freepik/Magnific]

Yang lebih miris, adu nasib justru ujung-ujungnya jadi bahan untuk menjatuhkan mental orang lain.

"Alah, kamu segitu aja udah nyerah?"

“Kirain ada masalah apa, tahunya cuma hal sepele”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa-biasa saja bagi orang yang sedang tak memiliki masalah, tapi apa jadinya jika orang yang menjadi lawan bicara memang sedang berada dalam fase terendah dalam hidupnya?

Orang tersebut mungkin akhirnya berpikir bahwa dirinya memang terlalu lemah karena sedih terhadap masalah yang dianggap sepele oleh orang lain.

Lambat laun, orang menjadi enggan bercerita lagi. Mereka memilih menyimpan semuanya sendiri karena khawatir setiap curhatan akan berubah menjadi ajang pembuktian siapa yang hidupnya paling berat.

Jika orang tersebut akhirnya memilih menyimpan semuanya sendiri mungkin tak jadi masalah, tapi bagaimana jika mereka memilih mengakhiri hidup karena merasa tak ada yang mau mendengar keresahannya?

Jangan Adu Nasib, Cukup Jadi Pendengar yang Baik

Padahal, menjadi pendengar yang baik sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Tidak semua curhat membutuhkan solusi, begitu juga tidak semua cerita meminta nasihat. Seseorang itu kadang hanya ingin didengar tanpa dicap lemah atau apapun.

Sebagai manusia yang banyak kekhilafan, mungkin kita juga pernah tanpa sadar menjadi pelaku adu nasib. Saat teman mengeluh, kita spontan membalas dengan pengalaman pribadi yang menurut kita lebih berat. Maksudnya ingin menunjukkan empati, tetapi yang diterima justru kesan bahwa masalahnya tidak cukup penting untuk didengarkan.

Empati bukan berarti menunjukkan bahwa kita pernah mengalami hal yang lebih sulit. Justru empati di sini adalah kemampuan untuk hadir di dalam cerita orang lain tanpa mengambil alih panggungnya.

Jadi, jika lain kali ada teman yang datang curhat, kita jangan langsung adu nasib. Cukup dengarkan, beri perhatian penuh, dan berikan solusi jika memang perlu.

Karena seseorang bisa merasa tenang dan lebih baik, saat ia mencurahkan segala keresahan dan masalah yang tengah dihadapinya.

Jika kamu memang memiliki sedikit uang berlebih, tak ada salahnya kunjungi psikolog terpercaya yang bisa mendengarkan dan memberikan solusi atas masalah kamu. Dan yang jelas, psikolog tidak akan menghakimi kamu atas permasalahan yang sedang kamu alami.

Jadi, mulai sekarang, yuk berhenti adu nasib. Cukup menjadi pendengar yang baik, apa susahnya sih?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda